Menemukan kembali makna hijrah

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menemukan kembali makna hijrah

Hari ini, Selasa 11 September 2018, umat Muslim memperingati tahun baru Hijriyah 1438. Dalam sejarah Islam, hijrah yang bermakna ‘pindah’ atau ‘migrasi’ lahir dari gairah untuk melakukan revolusi kesadaran karena mampatnya kesempatan yang ada di tempat sebelumnya—dari Mekkah menuju Yatsrib yang kemudian berganti nama Madinah.

Proses penyadaran ini bukan sebuah proses sekali jadi tetapi bertahap. Oleh karena itu, selalu relevan bagi seorang Muslim untuk melakukan refleksi setiap tahunnya guna memperbarui semangat revolusioner tersebut.

Selalu penting untuk menemukan kembali makna keimanan dan esensi agama sesuai dengan konteks jaman. Kita juga perlu untuk mengkonseptualisasikan kembali tentang siapa kita, seperti apa kita, dan apa tujuan sejati dari eksistensi kita di dunia yang fana ini.

Dalam memaknai Tahun Baru 1 Muharam 1438H kali ini, kita juga perlu menggali kembali  makna terdalam kesadaran teologis yang menjadi jantung ajaran agama yang diajarkan Tuhan melalui Nabi Muhammad saw.

Hijrah adalah bukti keberanian seseorang untuk berani mengubah takdirnya. “Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai dia mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS. Arra’d [13]: 11).

Sebab, hijrah kala itu tak semata-mata migrasi dalam konteks sekarang. Muslim generasi awal selalu dikuntit dan diawasi geraknya oleh otoritas lalim Mekkah. Untuk keluar dari kota tersebut, bagi seorang Muslim, ibarat kabur dari penjara. Belum lagi melawan terik dan kejamnya padang pasir serta para perampok selama dalam perjalanan.

Selain itu, peristiwa hijrah juga menjadi bukti keberanian seseorang untuk meninggalkan sesuatu yang disukainya demi tujuan yang jauh lebih baik dan besar. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah riwayat bagaimana sebetulnya orang-orang Mekah mencintai negerinya.

Bahkan, Nabi saw sendiri tak jarang mengingat masa lalunya di Mekah ketika dia sudah menetap di Madinah.

Tahun Hijriyah yang dimulai sejak peristiwa migrasi umat Islam dari Mekah ke Madinah yang berjarak 320km pada Mei 622  menandai titik tolak sebuah transformasi sejarah. Makna inilah yang harus diinternalisasi. Pasalnya, banyak orang tak mau melangkah untuk melakukan transformasi walaupun kondisi dan situasi yang dia hadapi tak akan mungkin berubah.

Kita harus ingat bahwa Nabi yang seandainya meminta supaya Allah mengangkat gunung Uhud di Mekah untuk ditimpakan ke muka orang-orang yang memusuhinya, pasti dikabulkan. Namun, Nabi memilih cara-cara yang natural. Ini adalah cara insan paripurna tersebut untuk memberi pelajaran bagi umatnya.

Menjadi Muslim harus berani untuk bergerak, hijrah, demi melakukan transformasi menuju peluang yang lebih baik, sejahtera dan jaya. Sekarang semua kembali ke diri masing-masing, masih tersisakah kerendah-hatian dan kesadaran kita untuk dengan jujur mengatakan bahwa kita sedang lapar dan haus akan perubahan lalu kita memberanikan diri untuk berhijrah?

Dari Abdullah bin Umar r.a. Nabi SAW bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang dari lisan dan tangannya, dan Muhajir (orang yang hijrah) adalah dia yang meninggalkan segala larangan Allah." (HR. Bukhari)

Lima aspek penting hijrah

Untuk meraih hijrah sejati, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim dan siapa saja yang mendamba kondisi lebih baik:

Keyakinan: iman yang lemah adalah musuh utama orang-orang yang hendak berhijrah. Orang-orang yang hijrah ke Madinah adalah mereka yang punya keyakinan kokoh karena rela melupakan setiap kenangan, harta dan benda. Para muhajirin demikian mulia karena keyakinan kepada janji Allah bahwa kondisi akan lebih baik, meskipun secara kasat mata mereka harus memulai hidup dari awal tanpa modal apa pun. Datang ke Madinah, para sahabat tidak membawa apa-apa selain semangat untuk hidup dalam komunitas iman.

Pengetahuan: kebodohan sering menjadi sebab orang ragu-ragu untuk berani melangkah. Padahal, dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dan para sahabat, kita tahu  bahwa ilmu pengetahuan secara bertahap dan pasti berkembang dan mencapai puncak pada 200 tahun hingga 500 tahun kemudian, sebelum meredup karena massifnya penjajahan Eropa atas bangsa-bangsa Muslim.

Dalam konteks kekinian, mereka yang keluar kampung, kota dan negara untuk belajar pantas dinilai memiliki semangat hijrah. Setiap Muslim harus berani dan mempunyai mimpi untuk menginjakkan kaki di seluruh bumi Allah. Barat atau timur, utara dan selatan, harus dijadikan tempat untuk mengagungkan asma Allah dan mencerahkan umat manusia melalui ilmu yang dilandasi tauhid guna menciptakan kedamaian dan pencerahan di  muka bumi.

Ibadah: setiap hijrah harus diniatkan untuk mendekatkan diri  kepada Sang Pencipta. Selain ibadah ritual, hal lain yang dilakukan kaum Muhajirin yang harus kita teladani adalah kerendahan hati dan menjalin hubungan baik dengan kaum setempat, yang zaman dulu dikenal kaum Anshor (penolong).

Meskipun masih satu klan dengan Nabi saw, kaum Muhajirin tidak menjadi kaum yang eksklusif—bandingkan dengan sikap Bani Israel era Yusuf dan beberapa generasi setelahnya hingga akhirnya diperbudak oleh bangsa lokal. Menjadi Muslim harus siap untuk terbuka terhadap ras dan warna kulit, termasuk yang terdepan dalam toleransi antaragama.

Nafsu: pengendalian nafsu menjadi syarat bagi seseorang ingin hijrah menuju Allah. Manusia memiliki dua sisi: malaikat dan binatang. Jika hanya memikirkan bahkan mengagungkan kebahagiaan jasmaniah, manusia tak ubahnya hewan bahkan lebih rendah. Orang-orang yang memutuskan untuk berhijrah harus memiliki kesadaran bahwa nafsu hewani (seperti marah, rakus, eksklusif, kejam, seks dll) adalah ujian yang harus diatasi.

Moral: akhlak atau moral adalah salah satu inti agama. Cermin paling jelas dari kesalehan seseorang adalah kesantunan dalam tutur dan kesopanan dalam laku. Tanpa akhlak, hijrah kita menuju Tuhan akan sia-sia.

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jadi, tak perlu mengaku yang paling beriman jika yang ditunjukkan hanya wajah marah, muram, sempit logika dan mengedepankan kekerasan. Pun istilah hijrah tidak boleh dikooptasi secara sempit sebagai berpindah dari satu aliran keagamaan ke aliran lain. Hijrah harus dimaknai sebagai keberanian untuk bergerak demi melakukan transformasi menuju peluang yang lebih baik untuk menyemai spiritualitas, moralitas dan segenap aspek kehidupan lainnya.

TKD Jabar: Suara Jokowi-Ma'ruf di Priangan Barat dan Priangan Timur masih lemah
DPR desak Kemenag efisienkan pembuatan kartu nikah
Ma'ruf Amin: Masyarakat salah paham soal orang buta dan budek
Demokrat sepakat dengan Sandiaga soal genderuwo ekonomi di pemerintahan Jokowi
Kubu Prabowo sebut penurunan kemiskinan Jokowi kalah dengan Megawati dan Gusdur
DPR nilai sudah seharusnya standar nilai CPNS tinggi
Dispotdirga sosialisasi jurnalistik dan penggunaan internet TNI AU
Bamsoet: hentikan kenaikan harga beras medium
PT Petamburan minta putusan pengadilan dihormati
Kunjungan DPR ke Selandia Baru bahas isu strategis
Bro Sandi: Di masa depan, air akan lebih berharga dari emas
Sandiaga Uno akan beri cabai mulut politisi yang kasar
DPR sebut kartu nikah lebih efisien dari buku nikah
Fadli Zon nilai Sandiaga langkahi makam tokoh NU tak berdampak bagi bangsa
Rocky Gerung: istilah politik genderuwo Jokowi dangkal dan konyol
Fetching news ...