Pelopor perdamaian bangkitkan Indonesia damai

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pelopor perdamaian bangkitkan Indonesia damai Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat menyematkan Rompi Dukungan Psikososial Kepada peserta Bimbingan Teknik Pelopor Peramaian.

Kapasitas dan kemampuan Tenaga Pelopor Perdamaian terus ditingkatkan agar bisa membangkitkan Indonesia yang damai di seluruh tanah air.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat menegaskan, untuk bisa membangkitkan Indonesia yang damai, pelopor perdamaian dituntut bisa mendeteksi segala potensi yang akan menimbulkan konflik sosial.

"Kita berikan pelatihan bagaimana Pelopor dapat mendeteksi potensi terjadinya konflik di daerah tempat mereka berada. Mereka harus bisa merangkul segala potensi lokal untuk mencegah terjadinya konflik,"tegas Harry di Jakarta, hari ini, Kamis (18/10).

Harry menjelaskan bencana sosial yang terjadi di masyarakat mempunyai kompleksitas yang membutuhkan penanganan secara serius karena yang dihadapi adalah manusia. 

Berbagai kepentingan dan tujuan di masyarakat jika tidak dimediasi akan menimbulkan konflik sosial. Untuk menjadi orang yang bisa menyelesaikan konflik maka Pelopor Perdamaian dituntut bisa berpikir bukan dari satu sisi dirinya saja melainkan juga berpikir dari sisi kelompok yang dihadapinya.

"Nah ini kan peran ganda. Tanpa mengabaikan prinsip-prinsip sebagai pekerja kemanusiaan. Ini harus ditanamkan kepada mereka," terangnya.

Belum ideal 

Keberadaan pelopor perdamaian, diakui Harry masih kurang mengingat luasnya wilayah kerja yang mereka hadapi. Kemensos sendiri mencatat hingga saat ini baru sebanyak 1.454 anggota pelopor perdamaian. 

"Dengan jumlah segitu tentu ini masih belum ideal. Idealnya satu kecamatan tiga pelopor perdamaian. Jika di Indonesia ada sekitar 7.000 kecamatan maka idealnya ada 21.000 pelopor perdamaian," tegasnya.

Kurangnya jumlah Pelopor perdamaian tersebut, selama ini penyelesaian masalah sosial di masyarakat, mereka dibantu oleh pilar-pilar sosial lainnya seperti Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Taruna Siaga Bencana (TAGANA) dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

"Diperlukan kejelian dan inisiatif di tingkat grassroots bagi petugas pelopor perdamaian yang memiliki tanggung jawab dalam pemulihan sosial, upaya reintegrasi, menjaga kerukunan antar kelompok," kata Harry.

"Kita ingin meningkatkan kompetensi mereka agar lebih mampu menjalankan tugas di bidang pemulihan konflik sosial," imbuhnya.

Dengan begitu, kata Harry, pemantapan kali ini dilakukan agar para tenaga pelopor perdamaian dapat mengatasi masalah sosial untuk meredam konflik yang terjadi di tengah masyarakat.

Selama empat hari Kementerian Sosial melaksanakan kegiatan Pemantapan kepada 425 personel tenaga pelopor perdamaian dari seluruh daerah di Indonesia.

Dalam pemantapan para tenaga pelopor, akan dipaparkan bagaimana merespon cepat persoalan sosial yang terjadi serta memahami karakter masyarakat.

PKB siap sumbang kubu Jokowi 25 juta suara
Ini kritik PDIP terhadap Kubu Jokowi
PKB akui Ma'ruf Amin benteng Jokowi dari tuduhan anti-Islam
Suku Yei Papua sambut “kado Natal” dari prajurit TNI
Penyair Singapura baca puisi di Ruang Baca Rimba Bulan
PDIP dituding rusak atribut Demokrat, Hanura: Jangan tuduh tanpa bukti
PAN sebut yang dukung Jokowi di Sumsel bukan kadernya
Sandi sebut Jateng ingin ganti presiden, Djarot: Upaya menghibur diri
TKN: Iklan kerja kerja kerja Gerindra garing dan tak inovatif
Manajer Repsol Honda: Rossi tak bisa terima masa kejayaannya habis
Rossi bingung mengapa dirinya masih populer
PKH efektif atasi kemiskinan
Rayakan HUT, BRI beri beasiswa puluhan milyar untuk ribuan orang
IHSG diprediksi menguat tunggu putusan The Fed
Jumlah BUMN berkurang 44 dalam 14 tahun, mengapa?
Fetching news ...