Alquran bicara "Selamat Natal" bagi Yesus

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Alquran bicara \

Umat Nasrani hari ini, Rabu (25/12/2018), merayakan Natal atau hari kelahiran Isa Almasih. Namun, siapa sangka jika Kitab Suci Alquran juga membicarakan peristiwa tersebut.

“Adalah Yesus Kristus—dalam bahasa Arab Isa Almasih—sendiri yang mengucapkan selamat atas hari kelahirannya, yang dilanjutkan dengan kematian dan kebangkitannya. Ayat Alquran ini sungguh luar biasa, menjadi bukti bahwa tidak ada masalah dalam mengucapkan Selamat Natal karena Yesus (Isa) sendiri memberi teladan untuk soal ini,” kata cendekiawan Muslim, Budhy Munawar Rahman di Jakarta, kemarin.

Ayat yang dimaksud Budhy adalah Surat Maryam [19] ayat 33, yang artinya, “Salam atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku diwafatkan, dan pada hari aku dibangkitkan."

Menurut dosen Universitas Paramadina Jakarta itu, dalam tradisi Islam, Yesus atau Isa adalah satu dari lima Nabi yang paling tinggi tingkat spiritualitasnya, yang disebut "ulul azmi" dan mendapatkan penghormatan dalam berbagai tradisi di kalangan umat Islam.

“Khusus tentang Yesus, bahkan berjilid-jilid buku sejak masa klasik Islam sampai kini telah ditulis bahwa Yesus adalah teladan dalam hal ajaran tentang cinta kasih. Karena Islam adalah agama cinta kasih juga (rahman dan rahim), agama yang melanjutkan basis cinta kasih dari agama Kristen. Berteladan kepada Isa dan para Nabi semuanya adalah bagian dari keimanan (Rukun Iman) dalam agama Islam,” katanya.

Dikatakan Budhy, seorang filsuf Islam kontemporer Fritjof Schuon menyebut bahwa Yesus (Isa) bersama Muhammad adalah "Cahaya Agama". Oleh karena itu, jalan kehidupan dan ajaran Isa juga patut dijadikan teladan.

Menurut Budhy, perdebatan tentang hukum mengucapkan Selamat Natal lebih bersifat politik daripada teologis. Pasalnya, di Indonesia, isu ini baru mulai marak saat ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pelarangan perayaan Natal bersama.

“Maraknya seruan larangan mengucapkan Selamat Natal bersifat politis. Hal ini bisa dilacak dari perdebatan Buya Hamka (saat itu ketua  MUI) dengan Menteri Agama (Alamsjah Ratoe Perwiranegara, 1978-1983, red) yang menolak seruan untuk  merayakan Natal Bersama. Akan tetapi, perdebatan  ini terkait merayakan Natal Bersama, bukan ucapan Selamat Natal,” katanya.

Pelarangan ucapan Selamat Natal ini, menurutnya, justru kontra produktif dengan tujuan Islam itu sendiri, yakni menebar kasih kepada sesama, termasuk tujuan bernegara.

Oleh sebab itu, fatwa bahwa umat Islam dilarang mengucapkan Selamat Natal memiliki basis argumentasi yang lemah karena tidak sesuai dengan semangat Alquran. Apalagi, prinsip keimanan atau Rukun Iman menyebutkan bahwa umat Islam wajib mengimani para Rasul, tidak hanya Rasulullah Muhammad saw.

“Fatwa bahwa umat Islam dilarang, atau haram hukumnya mengucapkan Selamat Natal, tidak ada dasarnya, bahkan bertentangan dengan Alquran,” katanya.

TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fadli Zon: Jokowi berdebat seperti manajer
Kubu Jokowi: Tim debat Ma'ruf Amin sudah disiapkan
Fetching news ...