Amerika

Snowden, pahlawan atau pengkhianat?

2.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:33
05 JAN 2017
Edward Snowden
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Pertengahan 2013, nama Edward Snowden mendadak tenar usai membocorkan program mata-mata Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, atau NSA. Ribuan dokumen rahasia tentang operasi pengintaian yang selama ini dilakukan AS, terhadap musuh maupun sekutu, terkuak berkat tindakan berani pemuda yang saat itu berusia 29 tahun.

NSA "terbukti" menyadap email, pesan singkat, telepon bahkan rekaman pembicaraan jutaan orang dan pemimpin negara asing.

Tiga tahun sejak Snowden membongkar rahasia dapur NSA dari sebuah kamar hotel di Hong Kong pada Mei 2013, pemerintah AS masih merasakan dampaknya. Pemerintahan Barack Obama masih terus menghadapi desakan dari berbagai pihak untuk menghentikan program mata-mata NSA secara total dan mengampuni Snowden serta membebaskannya dari segala tuntutan.

Evan Greer, aktivis Fight for Future, mengatakan, program pengintaian akan menjadi bencana di era kepemimpinan Donald Trump. Oleh karena itu, dia mendesak Obama untuk segera menghentikannya sebelum Trump memimpin.

Langkah Obama memecah kepemimpinan Cybercom dan NSA dalam kebijakan pertahanan 2017 dinilai belum cukup karena dalam pernyataannya, presiden kulit hitam pertama AS itu meminta keduanya untuk tetap saling bekerja sama dalam menghadapi ancaman.

Pahlawan atau pengkhianat?

Meski dianggap sebagai pahlawan oleh ratusan juta bahkan mungkin miliaran penduduk bumi, kehidupan Snowden tak lagi senyaman dulu saat dirinya menjadi kontraktor NSA dengan berbagai fasilitas kelas satu. Pemerintah AS menganggapnya sebagai pengkhianat dan terus memburunya. Snowden saat ini tinggal terasing bersama kekasihnya di Rusia yang memberikan mereka izin tinggal sampai 31 Juli 2017.

Perdebatan mengenai apakah Snowden layak disebut sebagai pahlawan atau hanya anak muda yang haus akan ketenaran dan pengkhianat masih terus berlangsung hingga kini. Survei yang dilakukan Persatuan Kebebasan Sipil Amerika tahun ini menunjukkan, 84 persen warga Jerman memiliki pandangan positif terhadap Snowden sementara di Belanda, Prancis dan Spanyol 80 persen.

Masyarakat Australia, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru—“lima mata” dalam operasi pengintaian AS—Snowden mendapatkan pandangan positif sebesar masing-masing 64 persen, 54 persen, 58 persen, dan 51 persen.

Namun, Snowden tidak terlalu popular di negerinya sendiri, 64 persen responden yang mengaku tahu soal dia memiliki pandangan negatif, dan hanya 36 persen yang memandangnya secara positif, 8 persen sangat positif.

Hal itu kemungkinan terjadi karena pemerintah AS selalu membingkai Snowden sebagai sosok pengkhianat yang membongkar rahasia negara, bahkan mata-mata Rusia, apalagi ia dapat izin tinggal di negara tersebut setelah paspor Amerikanya dicabut. Washington berulangkali meminta Moskow memulangkan Snowden untuk mengadilinya atas tuduhan berlapis, yakni mencuri properti pemerintah, melanggar UU spionase dan membicarakan informasi intelijen kepada orang yang tidak berhak, dengan ancaman masing-masing 10 tahun penjara.

Kandidat kepala Badan Intelijen AS (CIA) Presiden terpilih Donald Trump, Mike Pompeo, bahkan mendesak agar Snowden dieksekusi mati.

Meskipun demikian, sejumlah figur ternama seperti salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak; pendiri Soros Management Fund, George Soros; CEO Twitter, Jack Dorsey; penemu World Wide Web, Tim Berners-Lee, mendesak pemerintahan Barack Obama memberikan pengampunan kepada Snowden sebelum lengser dari jabatannya dengan mendukung kampanye PardonSnowden.org.

Hal sama dilakukan anggota komite yang menyelidiki kasus Watergate CIA. Mereka meminta Obama menunjukkan kemurahan hati pada Snowden agar yang bersangkutan dapat pulang ke tanah airnya. Melalui surat delapan halaman kepada presiden dan Jaksa Agung Loretta Lynch, komite yang dipimpin mantan kepala penasihatnya, Frederick Schwarz Jr., mengatakan, “tidak diragukan lagi bahwa pengungkapan yang dilakukan Edward Snowden telah menyadarkan publik hingga mendorong reformasi”.

Tapi, Obama tak bergeming. Beberapa bulan lalu, dalam wawancara dengan harian Jerman, Der Spiegel, dia ditanya tentang kemungkinan memberikan grasi untuk Snowden. “Saya tak dapat mengampuni seseorang yang belum menjalani proses peradilan dan menghadirinya. Jadi, hal itu tak dapat saya komentari saat ini.”

PS Ruckman, editor Pardon Power, mengatakan Obama salah kaprah karena mengampuni orang yang belum diadili tidak bertentangan dengan konstitusi. Putusan Mahkamah Agung pada 1886 menegaskan bahwa “kekuatan memberikan grasi yang diberikan konstitusi kepada presiden tidak terbatas, kecuali untuk kasus pemakzulan. Aturan ini berlaku bagi semua pelanggaran yang diakui hukum, dan dapat dilaksanakan setiap saat, baik sebelum proses hukum dilakukan atau … atau setelah putusan. Kekuasaan ini tidak tunduk pada kontrol legislatif.”

Dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara Yahoo Global News, Katie Couric, awal Desember lalu, Snowden mengatakan dia “menyukai” gagasan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan memulangkannya ke AS untuk diadili demi membuktikan kepada dunia bahwa dirinya bukan mata dan Rusia “tidak mengendalikan saya”.

Tapi dia juga mengakui, ada perasaan takut kembali ke kampung halamannya karena ragu proses peradilan akan dilakukan secara adil dan transparan. Menurutnya, hal itu “merupakan ancaman bagi kebebasannya dan kehidupannya”, apalagi jika dilakukan di masa kepemimpinan Trump.

Amerika