Amerika

Muslimah ungkap alasan berhenti jadi staf Gedung Putih era Trump

15.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:09
24 FEB 2017
Rumana Ahmed. Foto: The Atlantic
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Staf Muslimah Dewan Keamanan Nasional (NSC) Gedung Putih mengungkapkan alasannya mundur hanya delapan hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilantik. Dia mengatakan kebijakan larangan masuk AS bagi warga tujuh negara mayoritas Muslim sebagai faktor utama pengunduran dirinya.

Rumana Ahmed masuk ke Gedung Putih pada 2011 dan memutuskan tetap mengabdi di era Trump dengan harapan dapat memberikan "pandangan yang bernuansa lebih Islami dan pandangan Muslim Amerika kepada presiden baru dan para pembantunya".

"Seperti Muslim Amerika lainnya, saya menyaksikan Trump dengan penuh ketakutan sepanjang 2016 saat dirinya menjelek-jelekkan komunitas kami. Meskipun begitu, atau mungkin karena itulah, saya merasa harus bertahan di NSC pada pemerintahan Trump," tulis Ahmed dalam artikel berjudul "I Was a Muslim in Trump's White House" di The Atlantic, Kamis (23/02).

Tapi ternyata dia hanya mampu bertahan selama delapan hari, atau tepatnya sampai pada saat Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang warga Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman masuk selama setidaknya 90 hari. Berdasarkan aturan tersebut, program penerimaan pengungsi AS juga dibekukan selama setidaknya 120 hari. Khusus pengungsi Suriah mereka dilarang masuk AS sampai pada waktu yang belum ditentukan.

"Saya tahu saya tak bisa bertahan lagi dan bekerja untuk pemerintahan yang tidak memandang saya dan orang-orang seperti saya sebagai warga negara, tapi ancaman," tambah Ahmed. "Rencana pemerintah merevisi program Melawan Ekstremisme Kekerasan agar hanya fokus pada umat Muslim dan menggunakan istilah-istilah seperti 'teror Islam radikal', melegitimasi propaganda ISIS dan membuat ekstremisme supremasi kulit putih yang berbahaya meningkat."

Dia juga mengatakan staf keamanan nasional hampir tidak memiliki pengaruh apapun di Gedung Putih.

"Seluruh struktur pendukung presiden dari keamanan nasional non-partisan dan ahli hukum di kompleks Gedung Putih sampai semua lembaga federal dirusak. Otoritas pengambilan keputusan sekarang terpusat pada beberapa orang di West Wing," katanya.

Dalam tulisannya, Ahmed mengaku pernah mengungkapkan alasannya keluar dari Gedung Putih kepada penasihat komunikasi senior NSC Michael Anton.

"Saya memberitahunya bahwa saya harus keluar karena adalah sebuah penghinaan memasuki gedung paling bersejarah setiap hari di bawah pemerintahan yang menjelek-jelekkan segala sesuatu yang saya yakini sebagai orang Amerika dan Muslim," ujar Ahmed.

"Dia melihat saya tanpa mengatakan sepatah kata pun," lanjut dia. "Baru setelah itu saya mengetahui kalau dia menulis sebuah esai dengan nama samaran yang memuji-muji otoritarianisme dan menyerangan keragaman yang disebutnya sebuah 'kelemahan', dan Islam sebagai agama yang 'tidak sesuai dengan kehidupan modern Barat'."

Amerika