Amerika

Tumbangnya kedigdayaan Amerika Serikat

18.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:02
23 JUN 2017
Ilustrasi
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

Amerika Serikat mulai mencengkeramkan cakarnya terhadap negara-negara di dunia usai Perang Dunia I (1914-1918), ketika Eropa secara ekonomi maupun politik porak-poranda akibat berperang satu sama lain. Peran AS secara geopolitik semakin kokoh setelah Perang Dunia II (1939-1945), yang tidak hanya menghancurkan Eropa—yang disusul dengan kemerdekaan sejumlah negara di Asia dan Afrika, tetapi juga meredupkan pengaruh Jepang di Asia Timur.

AS tidak sama sekali kehilangan dalam Perang Dunia II. Sekitar setengah juta tentara mereka tewas dalam perang yang diperkirakan menelan tak kurang dari 50 juta orang (tentara plus sipil). Akan tetapi, kota dan penduduk AS tetap aman (kecuali serangan Pearl Harbor oleh Jepang yang dibalas dengan bom atom di Heroshima dan Nagasaki pada 1945), tidak ada wilayah yang memisahkan diri atau dicaplok musuh, dan secara keseluruhan AS hanya menderita kurang dari 1% kerugian sebagai dampak perang global tersebut.

Sebagai hadiah pascaperang kolosal itu, AS muncul sebagai kekuatan yang tidak hanya mengendalikan Atlantik Utara tetapi juga mengontrol seluruh perairan dunia. Mengontrol di sini tidak sekadar terlibat dalam lau lintas laut, tetapi menentukan perdagangan laut: dengan membuat aturan atau membatalkan aturan negara lain dengan ancaman akan dilarang melintasi perairan internasional. Intinya, lalu lintas laut sepenuhnya ditentukan oleh regulasi yang dibuat AS. Kemenangan As atas wilayah laut dunia ini menjadikan mereka sebagai, tak hanya pengeruk kekayaan laut, tetapi juga kekuatan militer laut adidaya—bandingkan dengan Indonesia yang 2/3 wilayahnya laut tetapi mengandalkan angkatan darat.

AS juga menancapkan kekuasaan di Eropa Barat, dengan ikut menentukan nasib sejumlah negara seperti Prancis, Belanda, Belgia, Itali, dan juga Inggris. AS bahkan mampu menduduki Jepang, yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh negara-negara Eropa.

Dampak kecamuk Perang Dunia membuat Eropa sama sekali kehilangan kontrol atas negara jajahan, yang disebabkan minimal tiga hal: pemberontakan dengan mengambil momentum kekalahan negara kolonial dalam perang, dilepas begitu saja karena tak mampu mengendalikan lagi karena menurunnya kekuatan militer dan pendanaan, atau merdeka karena diatur AS—kemenangan Indonesia dalam beberapa perundingan dengan Belanda tak bisa dilepaskan dari peran mereka.

Usai Perang Dunia, Uni soviet muncul sebagai penyeimbang kekuatan AS. Akan tetapi, faktanya kemudian mereka tak mampu menyaingi kekuatan ekonomi AS. Uni Soviet bahkan kemudian bubar pada 1991. AS yang penduduknya hanya 4 persen dari populasi dunia, menguasai 26 produk barang dan jasa di dunia. Kita bisa bayangkan kekuatan mereka.

Akan tetapi, kedigdayaan AS diramalkan bakal segera memudar. George Friedman dalam bukunya yang terkenal “The Next 100 Years A: Forecast for the 21st Century” meramalkan hal tersebut dengan sejumlah indikasi.

Gejala rusaknya tatanan yang dibangun AS menurut Friedman dimulai dari perang yang menyedot banyak sumberdaya, defisit anggaran yang sulit dikendalikan, kebergantungan pada minyak, korupsi di sektor bisnis dan pemerintahan, kekerasan di sekolah dan universtias (bukti kegagalan pendidikan generasi) dan sederet kebusukan lain yang dipercaya menjadi bukti AS telah melewati puncak masa jayanya.

“Jika tidak bertobat, kita akan membayar harganya—dan mungkin sekarang sudah sangat terlambat,” katanya, (hal. 15), mengutip pernyataan dari kubu Kristen konservatif dan enviromentalis.

Friedman mengatakan, satu hal paling jelas yang membuat ekonomi AS dapat bertahan adalah kekuatan militer. Dengan produksi senjata besar-besaran, daerah atau negara yang berkonflik akan membutuhkan senjata atau bantuan AS (dengan demikian bergantung secara militer dan politik, seperti Arab Saudi), sedangkan di saat yang sama, wilayah mereka tak pernah tersentuh perang. Oleh banyak ahli, perang setidaknya akan membuat satu negara mundur selama 20 tahun. Dengan asumsi ini, AS sangat mudah menyulut perang di negara-negara yang berpotensi menganggu kepentingan nasional mereka.

AS melalui angkatan laut mengontrol keamanan perairan-perairan paling strategis di dunia: Laut Cina Selatan, pantai Afrika, Teluk Persia, Laut Karibea. Setiap kapal besar di dunia pasti terjangkau radar angkatan laut AS dan pergerakannya harus mendapat persetujuan mereka. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya, bahkan ketika Inggris menguasai separuh dunia.

Penguasaan atas laut ini membuat AS secara jelas mengontrol jalur perdagangan internasional. Simpulannya, dominasi AS di sektor ekonomi saat ini sangat bergantung kepada militer. Apabila ini tidak ada, kedigdayaan mereka akan berangsur-angsur digantikan oleh negara lain.

Seiring menguatnya militer Cina dan Rusia, dominasi AS berada pada ancaman besar. Terutama mulai 2020, Cina dan Rusia diprediksi oleh Riedman akan memberikan tekanan terberat bagi AS. Dari kacamata budaya, Cina yang dalam lintasan sejarah dianggap tidak agresif menyerang bangsa lain akan lebih mudah diterima oleh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Penduduk yang besar, pertumbuhan ekonomi, teknologi dan militer Cina akan dilihat sebagai pesaing paling stretegis bagi AS. Sementara itu, ekonomi Rusia yang berangsur stabil akan membuat negara-negara bekas Uni Soviet lebih mudah bekerjasama, yang disebut oleh penulis “America’s Secret War” itu sebagai “Cold War Rematch” atau Ulangan Perang Dingin (1947-1991). Dari sisi militer, Rusia menjadi negara setelah AS yang memiliki teknologi paling canggih di dunia.

Sponsored
The Money Fight

Amerika
Sponsored