Readup

Meramal krisis Amerika Serikat pada 2030

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Meramal krisis Amerika Serikat pada 2030

Dalam pembabakan sejarah, kita melihat sebuah bangsa menguasai dunia lalu diganti oleh yang lain setelah runtuh karena krisis kepemimpinan, ekonomi maupun kalah perang. Kedigdayaan selalu bergeser dari satu peradaban ke peradaban lain apabila situasi krisis gagal dicarikan solusinya.

Selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat pantas disebut sebagai negara adidaya dengan kuasa ekonomi, teknologi dan tentu saja militer. Kekuatan AS adalah ketahanan terhadap setiap krisis, bahkan mengubahnya menjadi pintu kehidupan baru bagi setiap warganegara.

George Friedman dalam bukunya yang terkenal “The Next 100 Years A: Forecast for the 21st Century” meramalkan AS bakal menghadapi krisis ekonomi dan sosial pada 1930, yang disebutnya sebagai bagian dari siklus atau pola yang selama ini terjadi pada lintasan sejarah Amerika.

Pada 2020an, AS akan mengalami ledakan populasi warganegara usia tua, dan di saat yang sama sistem keluarga di AS yang dinilai telah rusak menyebabkan anak-anak tak lagi peduli dengan orang tua. Kondisi ini akan memaksa negara untuk menerima imigran guna menutup cela kekosongan tenaga kerja, setelah sebelumnya kebijakan menutup keran imigran santer dilakukan.

Krisis akan dimulai pada pemilihan presiden antara tahun 2028 atau 2032. Friedman berkeyakinan bahwa situasi politik dan ekonomi AS memiliki siklus yang selalu dimulai dan diakhiri dari/oleh Pilpres. Dia mengamati siklus krisis 50 tahunan itu sudah dimulai sejak era para pendiri bangsa Amerika.

Siklus pertama adalah dari para pendiri ke para perintis. AS didirikan pada 1776 oleh para imigran asal Inggris dan sebagian kecil Skotlandia-Irlandia. Pada 1820an, mereka secara politik bersaing satu sama lain hingga memicu krisis ekonomi dan berujung pada terpilihnya Andrew Jackson pada 1828. Situasi ini diikuti kegagalan kepresidenan John quincy Adams, generasi terakhir pada pendiri.

Siklus kedua adalah dari generasi perintis ke lahirnya kota-kota kecil. Di bawah Presiden Jackson, kelas masyarakat paling dinamis adalah para petani perintis yang mendiami pusat benua. Pada akhir siklus ini, setelah Perang Sipil, menjelang 1876, para petani tidak hanya memiliki tanah tetapi mampu mengeruk uang dari tanah yang dikelola. Wajah perkampungan pun berubah, dari gubuk-gubuk di ladang menjadi kota kecil yang terus berkembang dengan petani-petani yang hidup makmur.

Pada 1876, Rutherford B. Hayes terpilih presiden setelah kegagalan kepresidenan Ulysses S. Grant. Hayes—atau lebih tepatnya sekretaris bendahara negara, John Sherman—mendukung uang dengan emas, dengan membatasi inflasi, menaikkan suku bunga dan membuat investasi lebih atraktif. Petani miskin terkena dampak, sedangkan petani kaya dan bankir diuntungkan. Kebijakan keuangan ini mendorong industrialisasi besar-besaran di AS. Selama lima puluh tahun, kebijakan ini mendorong ekonomi AS tumbuh pesat.

Siklus ketiga: dari kota-kota kecil ke kota industri. Pada periode ini, gelombang besar imigran terjadi di kota-kota besar untuk memenuhi kebutuhan industri. Mereka didominasi oleh penduduk Irlandia, Italiia dan Eropa Timur. Latar belakang sosial dan budaya imigran ini berbeda dari generasi imigran sebelumnya.

Pada 1932, Franklin Rosevelt menebus kegagalan kepresidenan Herbert Hoover. Roosevelt melanjutkan kebijakan untuk meningkatkan konsumsi melalui pengalihan kemakmuran dari investor ke konsumen. Dia menggenjot sektor industri sebagai kompensasi menurunnya kota-kota kecil berikut nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Reformasi Roosevelt, diakibatkan Perang Dunia II, dimaksudkan untuk mendukung kelas pekerja urban. Reformasi ini mengubah anak-anak kelas pekerja etnik menjadi pribadi kelas menengah suburban.

Siklus keempat: Dari kota industri ke pelayanan kaum pinggiran. Depresi ekonomi AS diatasi oleh meningkatnya permintaan, menciptakan lapangan kerja, layanan sosial dan mengalihkan uang ke konsumen. Pajak tinggi dikenakan kepada mereka yang mampu secara finansial, pajak rendah untuk sektor perumahan, dan kredit konsumsi dikenalkan untuk sejumlah pembelian. Akan tetapi pada 1970an, kebijakan ini dirasa tidak lagi memadai.

Pada akhir 1970an, permintaan kredit mencapai puncaknya. Situasi ini diperparah oleh krisis energi. Di bawah Presiden Jimmy Carter, seluruh perekonomian mengalami pergolakan, hingga inflasi mencapai 10 persen dan angka pengangguran meningkat.

Pada 1980, Ronald Reagen terpilih presiden, yang dihadapkan pada krisis melemahnya investasi dan konsumsi berlebih. Solusi yang ditawarkan Reagen adalah mempertahankan konsumsi dan meningkatkan investasi. Kebijakan Reagen mampu menggeser kekuatan politik dan ekonomi dari kota ke daerah pinggiran. Ekonomi kaum pinggiran terus tumbuh selama tahun 1980an.

Siklus kelima: dari pelayanan kaum pinggiran ke kaum migran permanen. Struktur masyarakat AS akan sama seperti saat ini sampai  2030. Apabila pola sebelumnya terjadi lagi, kondisi sosial dan ekonomi As akan mengalami krisis pada dekade 2020an, yang akan diikuti oleh konflik pilpres, kira-kira tahun 2028 atau 2032.

Siapa pun presiden yang terpilih pada pilpres 2024 atau 2028 akan menghadapi masalah serius. Sebagaimana Adam, Grant, Hoover, dan Charter, presiden tersebut akan berhadapan dengan masalah baru yang sebelumnya tak terduga. Akan tetapi, masalah yang jelas adalah terkait minimnya tenaga kerja. Solusinya ada dua, yakni meningkatkan produktivitas setiap pekerja atau mencari tenaga kerja tambahan. 

Friedman sendiri masih sulit memprediksi detil masalah tersebut akan seperti apa, tetapi menjelang 2030 negara-negara maju akan bersaing untuk para imigran. Reformasi kebijakan terkait imigran akan mendesak untuk dilakukan pada 2030. Mengundang atau menolak imigran akan sama sulitnya. Meskipun kelangkaan tenaga kerja dapat diatasi dengan membuka pintu imigrasi, imigran yang sudah telanjur masuk tetapi tanpa pekerjaan akan menjadi masalah tersendiri.

Apabila As sukses mengatasin krisis tersebut, pada 2040 Friedman memprediksi AS bakal menikmati pertumbuhan ekonomi yang sama bagusnya pada periode 1950an atau 19990an, dan periode ini akan menjadi babak baru untuk siklus krisis selanjutnya pada 2080. Akan tetapi, sejarah bisa saja berjalan di luar prediksi manusia, sebagaimana yang terjadi di masa lalu pada banyak bangsa.

Peluang Parpol kecil makin terjepit
Ketika 39 WNI penjelajah dunia bercerita \
Pembacaan tuntutan nelayan Pulau Pari ditunda, ada apa?
Berpisah untuk bersama
Cara Muhammadiyah salurkan bantuan untuk Rohingya
Fetching news ...