Asia

Filipina ingin beli kapal rumah sakit Indonesia

4.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:39
11 MEI 2017
Ilustrasi
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Antara

Rimanews - Kementerian Pertahanan Filipina berminat memesan kembali kapal ke PT PAL Indonesia, dan rencananya adalah kapal jenis rumah sakit setelah sebelumnya membeli dua kapal "Strategic Sealift Vessel" (SSV) ke perusahaan itu.

General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro di Manila, Kamis (11/05/2017), mengatakan saat ini pihak Filipina masih melakukan beberapa pendataan dan spesifikasi kapal yang dibutuhkan.

Diharapkan, kata Bintoro, dalam waktu dekat akan ada gambaran jelas mengenai spesifikasi kapal yang dibutuhkan, sehingga tim PT PAL Indonesia bisa segera menyesuaikan.

"Kami optimistis mereka akan memesan kembali kapal ke PT PAL Indonesia, karena mereka mengaku puas dengan dua kapal sebelumnya yang dibeli dari kami," kata Bintoro.

Bintoro mengakui, minat Filipina dan beberapa negara lainnya bisa menjadi peluang bisnis PT PAL Indonesia, dan diharapkan dengan kepuasan negara pemesan akan menambah kepercayaan bagi galangan nasional lainnya.

"Selain kapal rumah sakit, mereka mengaku juga butuh lagi tiga lagi kapal jenis SSV, karena spesifikasinya sesuai dengan wilayah Filipina," katanya.

Sebelumnya, Filipina memesan dua kapal SSV ke PT PAL Indonesia yang diberi nama BRP Tarlac dan BRP Davao Del Sur dengan nilai pemesanan keduanya mencapai sekitar Rp1,1 triliun.

Pembelian kedua kapal SSV itu diawali setelah PT PAL Indonesia memenangi tender dan lelang internasional yang diadakan negara setempat pada 2014, dengan mengalahkan delapan negara salah satunya Korea Selatan, yang dikenal sebagai salah satu negara produsen kapal hingga jet tempur.

Ekspor kapal perang pertama Indonesia dilepas Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 8 Mei 2016, dan ekspor kedua dilepas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada 4 Mei 2017.

Namun, penjualan SSV PT PAL ke Filipina diwarnai kasus suap terkait fee penjualan yang melibatkan perusahaan perantara Amerika Serikat Ashanti Sales Inc. yang menjadi penghubung dengan Kementerian Pertahanan Filipina. Menurut KPK, pejabat PT PAL mendapatkan fee sebesar 1,25 persen atas fee agency Ashanti Sales sebesar 4,75 persen dari total harga penjualan.

KPK sejauh ini sudah menetapkan empat orang tersangka, yakni mantan direktur utama PT PAL M Firmansyah Arifin, mantan direktur keuangan PT PAL Saiful Anwar, Manager Treasury PT PAL Arief Cahyana, dan agency dari Ashanti Sales Agus Nugroho. 

Terbaru
22 Mei 2017 | 17:03
3 pendaki tewas di Everest
Asia