Asia

Akademisi rilis peta pembantaian suku aborigin di Australia

6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:45
05 JUL 2017
Ilustrasi
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian yang melelahkan, sebuah peta dalam jaringan (online) yang menunjukkan lokasi pembantaian sejumlah suku Aborigin di seluruh wilayah kolonial Australia telah diluncurkan.

Terdapat lebih dari 150 lokasi pembantaian suku Aborigin, yang terjadi selama beberapa dekade sejak Inggris datang, di sepanjang pantai timur benua Australia.

Profesor Lyndall Ryan dari Universitas Newcastle yakin, peta ini akan menjadi peta perang antara suku Aborigin dan pendatang Eropa paling lengkap yang pernah dibuat.

"Saya pikir proyek ini ingin memberikan bukti kepada orang-orang dan penemuan bukti memakan waktu lama," kata Ryan, dikutip dari Australia Plus, Rabu (05/07/2017).

"Kami berharap ini menjadi peta awal dan semakin banyak lokasi yang akan ditambahkan dari waktu ke waktu."

Pembunuhan terencana

Profesor Ryan mengatakan, menemukan sumber-sumber untuk menguatkan sejarah lisan pembantaian adalah sulit, karena pembunuhan tersebut dilakukan secara "terencana agar tidak diketahui”.

Sejumlah situs di negara bagian Tasmania, Victoria dan sebagian besar New South Wales serta Queensland telah tercatat, namun Ryan mengatakan, masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan di negara bagian lainnya.

"Ketika kita bergerak lebih jauh ke barat, saya rasa kita akan menemukan peta itu akan memiliki banyak titik-titik [lokasi] di atasnya," ujarnya.

Setiap lokasi telah dicatat bersamaan dengan pertempuran, dari sumber sejumlah laporan surat kabar, catatan harian dan surat-surat pemukim, serta catatan pengadilan.

Ryan mengatakan bahwa Tasmania menjadi lokasi pertama saat pembantaian besar terjadi. Konflik di sana dikenal dengan sebutan Black War.

"Pertempuran itu berlangsung sekitar tujuh atau delapan tahun, dan dari sisi populasi suku Aborigin di Tasmania, tentu jumlahnya sangat menyedihkan," katanya.

Tapi saat pemukim bergerak ke utara, Ryan mengatakan, jumlah kematian meningkat secara dramatis.

"Ada jumlah pembantaian besar-besaran di mana lebih dari 60 orang dibunuh dan kami temukan pembantaian besar di Gippsland, Warrigal Creek, di mana dalam waktu sekitar lima hari, sekitar 150 orang dibunuh," katanya.

Patahkan keraguan soal pembantaian

Beberapa komunitas Aborigin meminta para peneliti untuk tidak menunjukkan lokasi pasti dimana nenek moyang mereka terbunuh, jadi peta tersebut menunjukkan perkiraan lokasi.

Titik-titik lokasi ditandai dengan warna kuning - setelah banyak komunitas mengatakan kepada para periset bahwa warna merah adalah warna suci yang seharusnya tidak digunakan untuk menandai kematian.

Setiap tanda pada peta mencakup tanggal, jumlah orang terbunuh, jenis senjata yang digunakan oleh pemukim, dan ada pula nama-nama pelaku.

"Jika Anda bisa memberikan bukti informasi, maka bisa membantu mengatasi banyak ketidakpastian dan keraguan," kata Ryan.

"Saya rasa fokus kita adalah pada apa yang pernah terjadi."

Ada beberapa monumen peringatan Frontier War atau perang pendatang dengan suku Aborigin di sejumlah kawasan di Australia. Ryan berharap monumen ini tidak akan berubah.

"Saya rasa ini bisa jadi permulaan," katanya.

"Namun, kita masih belum sampai pada titik dimana kita akan berhenti merusak lokasi-lokasi tersebut."

"Masih jauh bagi kita untuk menerima Frontier War."

Tim peneliti menemukan banyak pembantaian besar terjadi di sepanjang sungai, namun beberapa lokasi pertempuran sekarang sudah berada di bawah bendungan, waduk dan bendungan.

"Di situlah mayoritas orang Aborigin berada, di sanalah tempat pastoral yang baik dan di situlah tempat pemukim ingin berada," kata Profesor Ryan.

"Saya pikir sangat mungkin di sepanjang Sungai Murray ada penanda dengan tulisan:" Ini adalah lokasi pertempuran."

Terbaru
Asia