Asia

Wanita berjilbab jadi korban utama serangan Islamofobia

6.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:13
11 JUL 2017
Ilustrasi
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Toleransi tampaknya masih menjadi barang langka bagi Muslimah yang hidup sebagai minoritas.

Menurut laporan terbaru mengenai Islamofobia di Australia, 67,7 persen korban dari 243 insiden serangan fisik, verbal maupun daring menimpa perempuan, khususnya mereka yang mengenakan jilbab. Hampir tiga perempat pelaku serangan adalah pria, sebagaimana dikutip dari Australia Plus, Selasa (11/07/2017).

Laporan Islamofobia pertama di Australia itu merupakan kolaborasi antara beberapa universitas, Akademi Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Islam Australia, dan Diversity Council Australia. Laporan ini akan diterbitkan pada Selasa di Parlemen New South Wales.

Linda Briskman, Ketua Kerja Sosial Margaret Whitlam di Universitas Western Sydney dan kontributor utama studi tersebut, mengatakan bahwa karakter gender dari serangan tersebut begitu mengganggu.

"Para perempuan seringkali sangat rentan, mereka berada di luar sana di ruang publik, mereka bersama anak-anak mereka, dan mereka tak terlihat mampu membalas perkataan atau menyerang balik," kata Briskman.

"Ini adalah temuan yang sangat memprihatinkan, dan bukan hanya bagi perempuan itu sendiri. Bila perempuan menjadi target, hal itu berdampak pada anak-anak mereka."

Laporan tersebut juga menemukan, ada hubungan yang jelas antara serangan teroris Islam dan meningkatnya insiden Islamofobia yang tercatat.

"Terorisme bukanlah faktor utama dalam ucapan atau ujaran yang terlontar selama ejekan maupun serangan Islamofoobia, tapi tentu saja ada lonjakan serangan Islamofobia kapanpun ada serangan terorisme terjadi di suatu tempat di dunia ini," kata Profesor Briskman.

Liputan media juga diketahui semakin memperburuk sikap Islamofobia.

Menurut penelitian tersebut, terjadi peningkatan tiga kali lipat dari jumlah insiden Islamofobia setelah munculnya rencana Pemerintah Federal Australia di tahun 2014 untuk melarang perempuan mengenakan penutup wajah penuh ketika berada di galeri publik di Parlemen.

Wanita berjilbab jadi target

Laporan tersebut menemukan, 79,6 persen perempuan yang dilecehkan mengenakan jilbab, dan lebih dari 30 persen didampingi oleh anak-anak mereka.

Temuan ini juga dialami oleh ibu dua anak asal Sydney, Gada Omar, yang diancam secara lisan oleh sekelompok pria saat duduk dengan dua orang temannya di sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran Sydney, Rouse Hill.

"Ada banyak orang di sekitar," ungkapnya.

"Dan tiba-tiba kami mendengar seorang pria berkata, 'Sudahkah Anda melihat berapa banyak Muslim sia**n yang ada?,'" tutur Gada.

"Kami mendongak dan ada lima pria yang berdiri di depan kami, mereka mungkin berusia awal 20-an. Mereka berkata kepada kami, 'Anda tahu seperti apa gagak itu?.'"

Gada mengatakan bahwa ia sekarang menghindari wilayah Rouse Hill setelah hari gelap. Insiden tersebut juga berdampak pada anak laki-lakinya yang berusia 13 tahun.

"Ia tak suka pergi ke daerah tertentu setelah gelap, ia benar-benar panik. Ia takut ketika ia merasa kemungkinan ada geng dan mereka mungkin menarget kami karena saya seorang Muslim."

"Anak-anak saya tak merasa aman di negara mereka sendiri."

Gada melaporkan kejadian tersebut ke polisi, yang membuat kasusnya tak biasa. Menurut penelitian tersebut, hanya 31,8 persen serangan non-daring yang dilaporkan ke polisi, dan hanya ada sepertiga yang tercatat secara resmi.

Publik tak peduli

Pada bulan Mei tahun ini, Kais Al Momani, seorang akademisi di Universitas Teknologi Sydney (UTS), menyaksikan seorang perempuan menyerang secara fisik seorang siswa Muslim.

"Saya lari untuk melihat apa yang terjadi. Siswa itu mengatakan kepada saya, 'Perempuan ini baru meninju wajah saya,'" kata Al Momani.

Dr Al-Momani, seorang praktisi Muslim, dan seorang rekannya mengejar si terduga penyerang untuk mengambil fotonya.

Perempuan, yang kemudian ditangkap oleh polisi, tersebut diduga telah meninju tiga perempuan berhijab lain di sekitar kawasan yang sama.

Tindakan Dr Al Momani relatif jarang terjadi. Meskipun hampir setengah dari serangan terjadi di ruang publik yang ramai, pusat perbelanjaan dan stasiun kereta adalah dua dari tempat yang paling lazim, para saksi hanya melakukan intervensi sebesar 25 persen dari total kejadian.

Profesor Emeritus Riaz Hassan dari Universitas Flinders, yang tak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan bahwa ketidaksetujuan publik terhadap Islamofobia sangat penting dalam mencegah serangan semacam itu terjadi.

"Dalam pergaulan manusia, orang memiliki semua jenis prasangka, namun prasangka tersebut tidak diungkapkan, karena sanksi yang bisa dialami seseorang," kata Profesor Hassan.

Penelitian Profesor Hassan sendiri, sebuah survei tentang prevalensi kepercayaan Islamofobia di Australia pada tahun 2016, mengemukakan bahwa sentimen negatif tidak meluas.

"Sekitar 10 persen responden memiliki antipati yang kuat terhadap Muslim dan Islam. Sekitar 90 persen dari mereka memiliki sikap atau sentimen Islamofobia yang moderat.”

"Kesan saya ada di masyarakat luas di Australia, mereka toleran dan menerima keragaman."

Terbaru
Asia
Sponsored