Eropa

Rusia negara miskin atau kaya?

6.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:20
25 FEB 2017
Editor
Febrianto
Sumber
DBS

Rimanews - Rusia adalah negara yang penuh dengan misteri dan paradoks. Pernyataan ini didukung oleh dua pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang asing pada mesin pencari Google: “Kenapa Rusia sangat miskin?", serta "Kenapa orang Rusia sangat kaya?”.

Tahun lalu, musisi asal Inggris Robbie Williams merilis videoklip berjudul "Party Like a Russian" yang menggambarkan gaya hidup orang kaya Rusia dan bagaimana mereka menghabiskan uang, namun, di saat yang bersamaan, The Guardian melaporkan adanya peningkatan jumlah orang Rusia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Negara yang kaya akan sumber daya alam

Hal pertama yang terlintas ketika membahas mengenai kekayaan Rusia tentu saja adalah sumber daya alamnya. Faktanya, Rusia adalah negara dengan cadangan gas alam terbesar di dunia (OPEC mengestimasi seperempat gas alam dunia ada di Rusia), dan kelima terbesar untuk cadangan minyak (berdasarkan data British Petroleum). Menurut Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia, pada 2015 lalu produksi bahan bakar minyak dan energi Rusia mencapai 63 persen dari total ekspor negara dan 43 persen dari anggaran negara berasal dari hasil perdagangan minyak.

Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki kawasan hutan sebesar Rusia, bahkan volume cadangan air bersih Rusia berada di urutan kedua setelah Brazil. Sebagai negara terbesar di dunia, jelas tidak pantas jika Rusia disebut kekurangan sumber daya alam.

Meski demikian, para ahli ekonomi menilai bahwa ketergantungan Rusia pada hidrokarbon berada pada tingkat yang cukup berbahaya. Hal ini membuat perekonomian Rusia bergantung pada harga minyak bumi. Menurut para ahli, Rusia perlu mengurangi ketergantungan ekonominya pada sumber daya alam.

Keluar dari resesi

Harga minyak yang tumbang sejak 2014 hingga 2016 (dari 111 dolar AS menjadi 32 dolar AS per barel), serta sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Rusia, mengakibatkan runtuhnya perekonomian negara. Menurut Badan Statistik Negara (Rosstat), pada 2015 PDB Rusia jatuh sebesar 2,8 persen, hingga pada 2016 harga minyak kembali stabil dan situasi sedikit membaik (PDB menurun sebesar 0,6 persen).

Kendati demikian, PDB Rusia untuk paritas daya beli pada 2016 mencapai 3,75 triliun dolar AS (peringkat keenam di dunia). Konsultan keuangan PricewaterhouseCoopers memperkirakan bahwa Rusia akan tetap bertahan pada posisi yang sama hingga tahun 2050. Menurut Bank Dunia, pada tahun 2015 PDB Rusia per kapita adalah sebesar 9.054 dolar AS per tahun (posisi ke-66 di dunia).

Ahli ekonomi dari kantor berita Interfax mengatakan bahwa Rusia secara bertahap akan keluar dari masa sulitnya dan maju ke tahap stagnasi. Bagaimana pun juga, saat ini warga Rusia mengalami kesulitan ekonomi: pada 2016, pendapatan mereka menurun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2016, rata-rata pendapatan orang Rusia berkisar 36 ribu rubel (620 dolar AS). Surat kabar "Kehidupan Bisnis" melaporkan bahwa rata-rata pendapatan masyarakat Rusia terbilang lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat di Eropa Barat, tetapi masih menjadi yang paling tinggi di antara penduduk dari negara bekas Uni Soviet.

Ketidakseimbangan pada lapisan masyarakat

Menilai apakah 'orang Rusia kaya atau tidak' dirasa cukup rumit, karena kekayaan orang Rusia berpusat pada sejumlah kalangan saja. Menurut Laporan Kekayaan Global 2016 oleh Credit Suisse, 74,5 persen dari total kekayaan nasional Rusia dimiliki oleh satu persen populasi negara.

“Data Rosstat menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, persentase ketidakseimbangan kekayaan di Rusia telah menurun, meski begitu tetap lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain,” kata Elena Grishina, Kepala Laboratorium Penelitian Sistem Pensiun dan Perkiraan Lingkungan Sosial di Institut Analisis dan Prediksi Sosial di Akademi Kepresidenan Rusia untuk Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik (RANHiGS).

Kaya dan miskin sifatnya relatif

Menurut data dari Rosstat, jumlah orang Rusia yang berada di bawah garis kemiskinan mencapai 20,3 juta jiwa (13,9 persen dari populasi saat ini), jumlah ini adalah mereka yang memiliki pendapatan di bawah kebutuhan minimum sebesar 9.889 rubel (167 dolar AS).

Meski begitu, di tengah resesi dan tingginya ketidakseimbangan yang terjadi di Rusia, membesar-besarkan tingkat kemiskinan di Rusia dirasa bukan pula hal yang pantas, demikian menurut Tim Worstall, ekonom dan kolumnis untuk Forbes.

Dalam sebuah artikel yang dirilis oleh International Business Times, Worstall secara keliru menyebutkan bahwa orang Rusia menghabiskan 50 persen pendapatan bulanannya untuk makanan (sebenarnya 11-12 persen). “Jika orang Rusia benar-benar menghabiskan 50 persen untuk makanan, seharusnya mereka sekarang semiskin Bangladesh atau negara-negara sejenis. Namun kenyataannya tidak benar, bahkan sungguh berbalik dari kenyataan yang ada," demikian seperti dikutip dari RBTH.

KATA KUNCI : , , , ,
Eropa
Sponsored