Eropa

Turki panggil diplomat Belanda

4.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
20:47
13 MAR 2017
Dok. Polisi menggunakan anjing dan water cannon untuk membubarkan massa di depan kantor konsulat jenderal Turki di Rotterdam, Belanda, Minggu (12/03). Foto: The Guardian
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Theguardian

Rimanews - Turki memanggil diplomat Belanda di Ankara untuk memprotes tindakan polisi Rotterdam terhadap massa yang berkumpul di depan kantor konsulat jenderal Turki untuk menghadiri kampanye politik terkait referendum konstitusi, yang akan memperluas kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Polisi Belanda menggunakan anjing dan water cannon untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa yang mengibarkan bendera Turki pada Minggu (12/03). Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan tindakan polisi berlebihan dan meminta mereka ditindak secara hukum.

Kemenlu Turki mengatakan sudah menyerahkan dua surat resmi kepada chargé d’affaires kedutaan besar Belanda, Daan Feddo Huisinga. Surat pertama berisi protes atas tindakan yang mereka sebut bertentangan dengan konvensi internasional, adab diplomatik, dan kekebalan diplomatik dan mendesak Amsterdam menyampaikan permohonan maaf secara tertulis, dikutip dari the Guardian hari ini.

Surat kedua memprotes perlakuan polisi Belanda terhadap warga Turki yang berkumpul di depan kantor konsulat jenderal Rotterdam. Turki mengatakan kepolisian menggunakan "kekuatan yang tidak proporsional" terhadap "orang-orang yang menggunakan hak menggelar perkumpulan damai".

Ketegangan diplomatik kedua negara terjadi setelah Belanda mencegah Turki melakukan kampanye politik untuk mengajak warga negaranya yang tinggal di luar negeri memilih "Ya" dalam referendum konstitusi bulan depan.

Saat berkampanye di Istanbul pada Sabtu, Erdogan menyebut pemerintah Belanda "sisa-sisa Nazi" karena melarang Menteri Keluarga Turki Fatma Betul Sayan Kaya berkampanye di Rotterdam dan polisi menggiringnya kembali ke Jerman.

"Jika Anda mampu mengorbankan hubungan Turki-Belanda untuk Pemilu pada Rabu, Anda akan membayarnya," kata Erdogan. "Saya pikir Nazisme sudah berakhir, tapi saya salah. Faktanya, Nazisme masih ada di barat."

Akibat ketegangan ini, pemerintah Belanda mengeluarkan peringatan perjalanan ke Turki dan meminta warganya yang melakukan perjalanan ke negara tersebut untuk lebih berhati-hati. Sementara terkait ucapan Erdogan, Wakil Perdana Menteri Belanda Lodewijk Asscher mengatakan "disebut Nazi oleh rezim yang berjalan mundur dalam hal hak asasi manusia menjijikkan".

Melakukan kampanye di luar negeri merupakan tindakan yang tidak dibenarkan dalam undang-undang Turki. UU Turki, yang ditetapkan pada 2008 oleh AKP, partai Erdogan, secara eksplisit menegaskan bahwa kampanye di luar negeri atau misi diplomatik internasional merupakan tindakan terlarang.

KATA KUNCI : , , , ,
Terbaru
27 Mei 2017 | 11:42
Merkel serang balik Trump
17 Mei 2017 | 15:04
Puasa 21 jam di Greenland
11 Mei 2017 | 08:03
Hollande mengundurkan diri