Eropa

Reaksi keras netizen atas larangan jilbab UE

4.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:11
15 MAR 2017
Dok. Tiga Muslimah memegang poster berisi ajakan untuk menghentikan fobia terhadap Islam dan jilbab.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Keputusan pengadilan Uni Eropa (ECJ) membolehkan perusahaan melarang pegawai mengenakan jilbab saat bekerja memicu kemarahan dari banyak pihak, tak terkecuali netizen di Twitter. Banyak pengguna yang mengungkapkan kekecewaan mereka atas putusan pengadilan tersebut.

"Seksis dan Islamofobia. Berdampak langsung bagi wanita Muslim. Ini benar-benar aib," kata pengguna @kuklamoo, Selasa (14/03).

"Anda tak punya hak mengkritik Iran dan (Arab) Saudi menindas perempuan dengan secara resmi mengatur cara berpakaian mereka," ujar Hend Amry, melalui akunnya @LibyaLiberty yang memiliki 150 ribu pengikut.

Netizen lainnya mengatakan, putusan ini membuat dunia kembali ke zaman kegelapan karena membuat wanita Muslim kesulitan mendapatkan pekerjaan, kecuali jika dia bersedia melepas jilbabnya saat bekerja.

"Ah, hanya bentuk lain untuk melegalkan kebencian terhadap Muslim. Kerja bagus Eropa. Bobrok secara moral," tambah netizen lain, @payitforward87.

Keputusan ECJ ini terkait kasus yang menimpa dua Muslimah asal Belgia dan Prancis, Samira Achbita yang bekerja untuk G4S dan pegawai Micropole, Asma Bougnaouni. Achbita masuk perusahaan layanan keamanan G4S pada 2003. Tiga tahun kemudian, dia meminta izin untuk mengenakan jilbab.

G4S dilaporkan memiliki peraturan tidak tertulis mengenai larangan berjilbab, dan setelah Achbita mengajukan permohonan agar diizinkan mengenakan jilbab pihak perusahaan meresmikan larangan tersebut. Tak lama setelah itu, Achbita dipecat dan melaporkan kasusnya ke pengadilan karena telah didiskriminasi.

Berbeda dengan Achbita, Bougnaouni dilarang mengenakan jilbab oleh perusahaan tempatnya bekerja setelah ada klien yang mengeluhkan hal tersebut pada 2008. Micropole kemudian meminta seluruh karyawan mengenakan pakaian netral ketika di kantor dan memecat Bougnaouni.

"Peraturan internal ... yang melarang penggunaan jilbab sebagai simbol politik, filosofi, atau agama bukan merupakan diskriminasi secara langsung," kata ECJ dalam putusannya Selasa.

Terbaru
27 Mei 2017 | 11:42
Merkel serang balik Trump
17 Mei 2017 | 15:04
Puasa 21 jam di Greenland
11 Mei 2017 | 08:03
Hollande mengundurkan diri