Timur Tengah

Gencatan senjata Suriah dimulai, tapi serangan masih terjadi

2.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
14:02
30 DES 2016
Dok. Serangan udara di Aleppo.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Theguardian

Rimanews - Gencatan senjata mulai diberlakukan di seluruh wilayah Suriah setelah rezim Bashar al-Assad dan kelompok oposisi menyepakati perjanjian yang diprakarsai oleh Rusia dan Turki. Diharapkan perjanjian rapuh ini dapat menjadi pengantar sebelum pembicaraan damai digelar di ibu kota Kazakhstan, Astana.

Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku Kamis tengah malam tadi, the Guardian melaporkan. Namun, terdapat laporan tentang sejumlah pertempuran di berbagai tempat dua jam setelahnya. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Inggris mengatakan, gerilyawan tidak mematuhi gencatan senjata dan mengambil alih posisi di provinsi Hama.

Gerilyawan juga mengatakan, pasukan pemerintah membombardir sejumlah area di desa Atshan dan Skeik, provinsi Idlib, yang berbatasan dengan Hama.

Ini merupakan kesepakatan gencatan senjata ketiga di Suriah sepanjang tahun ini. Terdapat kebingungan mengenai kelompok gerilyawan mana yang terlibat dalam perjanjian gencatan senjata. Tapi, pejabat pihak-pihak yang terlibat konflik berharap kesepakatan kali ini dapat menjadi pintu masuk pembicaraan damai di Astana bulan depan.

"Kami memandang gencatan senjata ini sebagai langkah untuk menyelesaikan konflik Suriah," kata Ibrahim Kalin, juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. "Bersama Federasi Rusia, kami mendukung perjanjian ini sebagai penjamin."

Amerika Serikat absen dalam perjanjian ini. Mereka terpinggirkan dalam konflik di Suriah setelah Moskow meningkatkan keterlibatan mereka di negara tersebut baik secara militer maupun diplomatik.

"Kami mendapat kabar bahwa beberapa jam lalu, hal yang sudah kami tunggu-tunggu dan usahakan terwujud," kata Presiden Rusia Vladimir Putin, mengenai penandatangan perjanjian gencatan senjata dalam rapat bersama Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan Menteri Pertahanan Sergey Shoigu.

Putin mengatakan, tiga dokumen yang ditandatangani adalah kesepakatan gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi, daftar mekanisme kontrol untuk memastikan gencatan senjata berjalan baik, dan kesediaan memulai negosiasi politik untuk mengakhiri konflik.

Namun, Putin menambahkan, kesepakatan gencatan senjata ini rapuh dan "membutuhkan banyak perhatian".

Terbaru
9 Juni 2017 | 13:22
Qatar tolak intervensi asing
7 Juni 2017 | 08:57
Qatar negara bermuka dua?
31 Mei 2017 | 18:51
Rusia gempur ISIS dari laut