Timur Tengah

Menderitanya anak-anak korban perang di Suriah

4.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
17:56
07 MAR 2017
Dok. Seorang anak laki-laki Suriah memeluk erat adiknya yang terluka akibat serangan udara pasukan Suriah dan sekutu.
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Antara

Rimanews - Pertumpahan darah dan kekerasan selama enam tahun membuat anak-anak Suriah begitu menderita. Lembaga amal internasional mengatakan perang juga menyebabkan krisis kesehatan mental bagi anak-anak Suriah yang dampaknya akan terus berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam laporan hasil survei kesehatan mental di Suriah selama perang yang dirilis hari ini, Save the Children menemukan anak-anak semakin menderita karena rasa takut dan marah, seperti dikutip dari Reuters.

Dua per tiga anak Suriah kehilangan anggota keluarga dan menyaksikan rumahnya hancur dihantam bom. Mereka menderita masalah kesehatan emosional parah dan tidak mendapat dukungan psikologis yang cukup mengingat "orang tua mereka juga kesulitan".

Dampaknya, anak-anak Suriah sulit tidur, menjadi penyendiri dengan kecenderungan ingin bunuh diri. Beberapa di antara mereka bahkan kehilangan kemampuan berbicara.

Penelitian Save the Children melibatkan wawancara di tujuh provinsi dengan lebih dari 450 anak, orang tua, guru, psikolog, terutama di wilayah yang dikontrol gerilyawan seperti Idlib dan Aleppo. Selain itu, mereka juga meneliti area kekuasaan Kurdi di Hasaka.

Konflik Suriah telah menewaskan ratusan ribu orang dan membuat lebih dari 11 juta warga kehilangan tempat tinggal. Perang saudara juga menimbulkan krisis pengungsi terbesar di dunia.

Beberapa anak dipaksa bergabung dengan kelompok bersenjata, kata Save the Children.

"Mereka harus menyaksikan langsung bagaimana sahabat dan keluarga mereka tewas, atau tertimbun reruntuhan. Mereka adalah generasi yang harus membangun kembali negara yang telah hancur," kata laporan lembaga itu.

Jika tidak mendapat perawatan emosional, trauma harian akan menimbulkan sejumlah dampak seperti kegagalan perkembangan otak. Anak-anak itu juga berisiko besar terkena penyakit depresi dan jantung pada masa dewasa.

Sebagian besar anak di Suriah kini menjadi semakin agresif, atau menunjukkan gejala gangguan stres pasca-trauma (PSTD).

"Anak saya bangun tidur tengah malam sambil ketakutan dan berteriak," demikian laporan Save the Children mengutip Firas, ayah seorang anak laki-laki yang baru berusia 3 tahun.

Berkurangnya jumlah sekolah kemudian memperburuk krisis kesehatan mental anak. Satu dari tiga sekolah di Suriah kini sudah menjadi reruntuhan, digunakan sebagai tempat penampungan, atau menjadi tempat penyiksaan, kata organisasi tersebut.

Satu orang guru di daerah Madaya mengatakan muridnya sering "menggambar anak-anak yang tengah dibantai dalam perang".