Timur Tengah

2016, tahun paling mematikan bagi anak-anak Suriah

2.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:20
13 MAR 2017
Dok. Omran Daqneesh terluka dalam serangan udara rezim Bashar Al Assad dan sekutunya di Aleppo, Suriah, Agustus 2016. Foto: Reuters
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Aljazeera

Rimanews - Suatu pagi di bulan Januari, Majed (13) bersama temannya, Omar (11), pergi bersama menuju sebuah taman dekat rumah mereka di Aleppo timur untuk bermain sepeda.

Ketika itu gencatan antara pasukan pemerintah dan gerilyawan sudah berjalan selama dua pekan, dan suasana "damai" memungkinkan Majed dan Omar serta banyak anak-anak Suriah lainnya melepaskan ketegangan dan bermain di luar rumah. Namun di tengah perjalanan, mereka melihat benda aneh yang terkubur di dalam tanah.

"Itu terlihat seperti kaleng soda. Saya menginjaknya dan meledak," kisah Majed. "Saya terlempar ke udara, tapi tidak pingsan. Saya mengkhawatirkan Omar, saya tak tahu bagaimana harus menolongnya."

Warga sekitar segera menuju sumber ledakan dan menemukan Majed dan Omar terluka parah. Tubuh dan wajah Majed dipenuhi serpihan ledaan hingga memaksa dokter memotong beberapa bagian ususnya. Beruntung, kakinya tak harus diamputasi.

"Saya sangat kedinginan dan kesakitan," katanya.

Sayang, Omar tak mampu bertahan dan meninggal dunia di tengah perjalanan menuju rumah sakit, sekitar lima menit setelah ledakan terjadi.

Kisah pilu Majed dan Omar itu dimuat UNICEF dalam laporan terbaru mereka yang dirilis hari ini. Meski gencatan senjata tengah berlangsung, bukan berarti sejumlah peristiwa mematikan seperti yang dialami Majed dan Omar tidak terjadi. UNICEF menyebut 2016 sebagai tahun paling mematikan bagi anak-anak Suriah sejak perang dimulai pada 2011.

"Laporan peristiwa pembunuhan atau yang menyebabkan cacat dan perekrutan anak-anak meningkat tajam tahun lalu dalam eskalasi kekerasan drastis di seluruh negara tersebut," kata UNICEF, dikutip dari Al Jazeera.

Menurut laporan UNICEF, sedikitnya 652 anak tewas dalam perang Suriah tahun lalu, atau yang tertinggi sejak pencatatan korban anak dimulai pada 2014, sementara sekitar 647 anak lainnya dilaporkan terluka. Dari jumlah tersebut, 255 di antaranya tewas di atau dekat sekolah, tambah UNICEF. Angka tersebut juga 20 persen lebih tinggi dari 2015.

"Dalamnya penderitaan (anak-anak Suriah) tidak terkira," kata direktur regional UNICEF Geert Cappelaere dalam sebuah pernyataan. "Jutaan anak di Suriah diserang setiap hari, kehidupan mereka hancur. Setiap anak sangat ketakutan dengan konsekuensi mengerikan (perang) terhadap kesehatan, kesejahteraan dan masa depan mereka."

Terbaru
27 Februari 2017 | 00:23
Pasukan elit Israel masuk ke Suriah