Pertama kali, PLN dapat utangan asing 1,62 miliar dolar

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pertama kali, PLN dapat utangan asing 1,62 miliar dolar

PT PLN (Persero) segera mendapat kredit pembiayaan setelah ditandatanganinya perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi (Syndicated Loan Facilities) senilai 1, 62 miliar dolar AS dengan 20 bank internasional.

Pinjaman mata uang dolar AS melalui sindikasi internasional ini merupakan pertama kalinya bagi PLN dengan ditandai oversubscribe dalam proses sindikasi,  demikian keterangan tertulis dari PLN di Jakarta, Senin (05/11/2018).

Fasilitas pinjaman ini terdiri dari fasilitas pinjaman berjangka (Term Loan Facility) senilai 1,32 miliar dolar AS dengan tenor 5 tahun dan Revolving Credit Facility senilai 300 juta dolar dengan tenor 3 tahun sehingga total fasilitas pinjaman menjadi sebesar 1,62 miliar dolar.

Total fasilitas pinjaman ini meningkat dari jumlah komitmen awal pihak Bank sebesar 1,5 miliar dolar, sebagai hasil dari proses sindikasi yang sangat sukses.

Fasilitas pinjaman ini mendapat lebih dari 2 miliar dolar AS komitmen, sehingga PLN berhasil mengeksekusi  opsi green-shoe (tambahan atau upsize dari komitmen awal) sehingga meningkatkan jumlah fasilitas menjadi 1,62 miliar dolar AS.

Proses sindikasi untuk transaksi ini diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2018, ditandai dengan presentasi (roadshow) ke beberapa bank di Singapura dan Tokyo.

Pada 8 Juni 2018, PLN menunjuk beberapa Bank Internasional  yang terdiri dari Australia And New Zealand Banking Group Limited (“ANZ”), Bank of China (Hong Kong) Limited (“BOC”), Citigroup Global Markets Singapore Pte. Ltd (“Citi”)., Mizuho Bank, Ltd., Oversea-Chinese Banking Corporation Limited (“OCBC”), Sumitomo Mitsui Banking Corporation Singapore Branch (“SMBC”) / PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (“SMBCI”) , dan United Overseas Bank Limited (“UOB”) sebagai Mandated Lead Arranger dan Bookrunners (“MLABs”).

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto menyatakan  fasilitas offshore sindikasi USD pertama kalinya bagi PLN dan merupakan tonggak sejarah baru bagi perusahaan sebagai bukti bahwa perusahaan memiliki diversifikasi sumber-sumber pendanaan yang beragam.

"Proses sindikasi pinjaman ini sangat direspon dengan baik oleh pasar keuangan dengan harga yang sangat kompetitif di tengah situasi pasar sedang fluktuatif seperti saat ini. Kami percaya ini adalah bukti kuat bahwa profil kredit  PLN dan Indonesia yang sangat baik," katanya.

Dana dari fasilitas kredit sindikasi ini akan digunakan untuk mendanai investasi PLN dan untuk tujuan korporasi secara umum (general corporate  purposes) dalam kaitannya dengan mensukseskan proyek 35.000 MW.

Sebagai perusahaan besar di Indonesia, PLN telah memiliki credit rating internasional yaitu Baa2 (Moody's), BBB (Fitch Ratings), dan BBB- (Standard and Poor's) di mana credit rating tersebut yang sama dengan credit rating Pemerintah Indonesia.

Archandra beber strategi jual blok migas Indonesia
Mengingat 3 horor perkosaan di Indonesia
Fahri Hamzah: Pilpres lebih banyak perang gimmick, rakyat lapar bos
Agung Laksono nilai dukungan Soetrisno Bachir dongkrak suara Jokowi
Popularitas Habieb Rizieq turun, Golkar: masyarakat ingin kelembutan
TKN: Ustad Abdul Somad tak berpihak pada Prabowo
Demokrat ke Prabowo-Sandi: Apa yang menjadi janji harus ditepati
Demokrat tuding Sekjen Gerindra beri informasi tak utuh ke publik
Isi pembicaraan Jokowi dengan Putin
Sederet dampak buruk jika Anda miskin
PAN nilai Sandiaga Uno lebih tingkatkan elektabilitas dibanding Prabowo
Kubu Jokowi nilai kampanye negatif tak haram
Kubu Prabowo ingin lakukan taubat nasional
DPR RI kutuk serangan Israel atas warga Palestina
Sete Gibernau kembali balap Gran Prix setelah 10 tahun pensiun
Fetching news ...