Gaya Hidup

"Koes Plus" band legend Indonesia

4.7K
DILIHAT
/
17:16
17 SEP 2014
Oleh
Yon Koeswoyo

Rimanews Kontributor – Salah satu band lintas generasi yang mewarnai musik Indonesia adalah Koes Plus. Yon Koeswoyo adalah personil Koes Plus yang menjadi band legenda Indonesia.

Mari kita simak kisah group band Koes Plus dari seorang vokalisnya Yon Koeswoyo ..

Sebelum Koes Plus awalnya kita bernama Koes Bersaudara. Karena terpancing oleh band yang bernama Every Brother, pertama kali Koes Bersaudara hanya menyanyikan lagu-lagu duet saja. Semua personil Koes Bersaudara berasal dari saudara kandung. Selain itu personil Koes Bersaudara juga menggunakan kata Koes dibagian depan namanya masing-masing seperti Koesjono, Koesdjono, Koestono, Koesnomo, dan Koesdrojo.

Sebelum rekaman nama band kita bernama Koes Brother, setelah rekaman berganti menjadi Koes Bersaudara yang lebih menggunakan Bahasa Indonesia. Saya dan Yok  diposisi vokalis, Mas Toni diposisi melodi gitar, Mas Jon diposisi bass betot, dan Mas Nomo diposisi drum. Setelah bass betot tidak terpakai Yok memegang bass. Berhubung selera musik telah berubah, akhirnya Mas Nomo diganti oleh Murry. Akibat pergantian personil tersebut, nama band berganti menjadi Koes Plus, nah “Plus” nya itu sebenarnya adalah Murry.

Tidak hanya membawakan lagu-lagu duet, Koes Plus juga menyanyikan dan mengarang lagu secara sendiri-sendiri. Nuansa Koes Plus komplit dan bermacam-macam, dari beat, corak lagu dan lirik. Liriknya bercerita tentang manusia, cinta, dan tanah air. Koes Plus adalah band yang dapat melintasi berbagai generasi dan agama. Seluruh gendre musik sudah dilalui oleh Koes Plus. Koes Plus tidak hanya membawakan lagu pop Indonesia saja namun membawakan pop yang lainnya seperti pop melayu, pop jawa, pop kroncong, pop kasidah, pop natal , pop anak-anak, bahkan pop bahasa inggris

Pengalaman yang paling mengesankan adalah pada saat jaman presiden pertama Bung Karno. Bung Karno itu sosok seorang yang nasionalis, “Ini dadaku! mana dadamu?, jangan kita mbebek, luar negeri gini kita ikut gini, tidak boleh! Mana identitas anda? Pemuda Indonesia harus punya identitas. Jangan mbebek!” seru Bung Karno.

Pada saat itu lagu Beatles “enak-enak”, menyanyikan lagu Beatles itu sangat megasyikan. Jika menyanyikan lagu duet Koes Bersaudara itu harus berhati-hati, namun jika menyanyikan lagu Beatles itu bebas. Nah disitulah Bung Karno marah, pada saat itu kita dimasukan kedalam penjara karena kita menyanyikan lagu-lagu Beatles serta dianggap “mbebek ke Beatles”.

Setelah kita cerna sebenarnya Bung Karno tidak marah namun memberikan pelajaran kepada pemuda Indonesia. Jika kita “Mbebek” atau menirukan budaya barat terus menerus, kita akan tergiur dan akan terjerumus. Akhirnya setelah keluar dari penjara, kita tergugah untuk mengarang lagu dengan menggunakan bahasa Indonesia seperti “Manis dan Sayang”, “Kelelawar”, dan “Kembali ke Jakarta”.

Walaupun piringan hitam itu telah keluar, namun ternyata kurang laku dipasaran. Masyarakat berpikiran bahwa lagu kita  itu “glodakan” atau beat yang keras dan aneh.

Saat Jambore Band di Senayan pada jaman orde baru, pada waktu itu beberapa band boleh memainkan lagu barat seperti grean punk, underground,  serta yang lainnya. Saya bilang pada Mas Ton “Saya mau bawain lagu Indonesia ah, semua udah Barat. Saya mau bawain lagu Manis dan Sayang”. Saat menyanyikan lagu tersebut ternyata para penonton berteriak histeris karena senang dengan lagu kita, ternyata orang Indonesia itu suka dengan lagu Indonesia, bohong jika tidak senang lagu Indonesia.

Setelah kejadian itu kita dikenal oleh masyarakat. Kita diliput oleh salah satu surat kabar, dan akhirnya radio-radio memutarkan lagu “Manis dan Sayang” yang tak lain adalah lagu dari volume kesatu kita tadi. Dari situ Koes Plus naik, volume 2 meledak, volume 3 meledak, hingga terus menerus. Alhamdulilah hingga sekarang masih begini, walaupun hanya tinggal saya yang aktif.

Koes Plus dianggap sebagai pelopor band di Indonesia. Setelah Koes Plus top banyak band-band lain yang mengikuti jejak Koes Plus. Banyak band-band di Indonesia yang memainkan lagu-lagu Koes Plus, band tersebut diberi nama pelestari Koes Plus. Jika dulu saya “Beatles-beatles an” sekarang di Indonesia “Koesplus-koesplus an”. Itu menandakan bahwa betapa daysyatnya identitas Indonesia.

Walaupun tidak mendapat penghargaan dari pemerintah namun masyarakat telah memberikan penghargaan yang sangat besar kepada Koes Plus. Penghargaan masyarakat itu dapat terlihat ketika mereka menonton dan rela membeli tiket jika saya show.

Berbeda dengan Koes Plus, band di Indonesia saat ini terpengaruh dari musik-musik luar negeri yang membuat mereka bingung akan arahnya. Band sekarang tidak dapat menjadi seperti Koes Plus yang dapat sampai panjang umur dan mencakup seluruh gendre musik. Hingga sampai formasi Koes Plus yang sekarang saya ajak Danang pada posisi melody gitar dan keyboard, Soni pada bass, Seno pada drum, serta saya pada posisi vokalis.

Saya ini bukan apa-apa, jadi tidak bisa mentuahkan apa dan apa, yang perlu diperhatikan adalah tekunlah dalam berkarya dengan apa yang kamu sukai. Jika kamu kesana kemari dan  tidak memusatkan satu apa yang kamu senangi, maka tidak akan menjadi apa-apa, coba terus walaupun ada rintangannya.

*Tulisan ini dibuat eksklusif untuk RIMANews

Terbaru
23 Maret 2017 | 15:21
Muzdalifah pacari pria Arab?
22 Maret 2017 | 20:01
Jangan lakukan ini setelah makan!
22 Maret 2017 | 09:00
Jupe sudah ikhlas dengan hidupnya
22 Maret 2017 | 06:42
Kondisi Jupe sulit diprediksi
21 Maret 2017 | 22:18
Ayu Ting Ting sebut Enji banci
21 Maret 2017 | 16:55
Puting Nikita Mirzani menyembul
Berita Terkait
31 Agustus 2015 | 15:40
Apel Band, Wanita tapi Gak Girly