Technology

Game Berbasis Budaya

3.6K
DILIHAT
/
18:59
06 JAN 2015
Oleh
Ivan Chen

Rimanews Kontributor – Salah satu alat penghiburan kita adalah dengan bermain game. Anantarupa adalah studio pembuat game dengan ciri khas budaya Indonesia. Dengan adanya unsur budaya dalam game, kita dapat lebih memupuk rasa cinta terhadap tanah air Indonesia.

Mari kita simak cerita Ivan Chen seorang CEO Anantarupa Studio.

Game adalah salah satu media dan suatu bagian dari manusia. Sejak dulu manusia senang bermain, maka game disini menjadi salah satu media yang menarik bagi manusia.

Ciri khas game yang kita buat selalu mengedepankan budaya. Kita mendevelopnya diberbagai macam flatform, seperti mobile, pc, ataupun web. Selain itu kita juga menggunakan teknologi baru untuk diimplementasikan kedalam konsep game kita.

Virtual Reality Museum Majapahit hanyalah salah satu produk dari konsep kita, yang dapat membranding Indonesia di mata internasional. Kenapa kita membuat Virtual Reality Museum Majapahit, alasannya berawal dari kurangnya minat generasi muda sekarang untuk mengunjungi museum. Selain itu banyak masyarakat kita yang tidak tahu akan sejarahnya sendiri.

Kita ingin dekatkan museum ke mereka melalui teknologi seperti augmented reality. Dengan apa yang kita buat, mereka dapat melihat digitalisasi aset-aset kita yang dibagikan kesekolah-sekolah. Sasarannya adalah untuk pelajar dan masyarakat awam. Kenapa pelajar? karena mereka kurang sekali akan pendidikan budayanya.

Meskipun mereka terdidik secara pragmatis, tapi kadang-kadang mereka tidak mengerti budayanya sendiri. Tujuannya adalah untuk mengenalkan budaya kita sendiri ke mereka. Karena kita membuatnya dalam bentuk digital, suatu saat nanti kita dapat share dengan mudah dan dapat menjadi metode yang menarik sekali untuk pameran.

Sejalan dengan visi kita yaitu culture yang tidak boleh hilang, kita membuat nilai-nilai dari kebudayaan secara transenden dan dapat menembus jaman.

Sebelum kita membuat suatu game, kita melakukan sebuah riset. Risetnya macam-macam bisa riset lapangan maupun riset secara tekstual. Dari riset itu kita menentukan apa yang kita buat. Setelah itu kita membuat tulisan teknis game apa yang akan dibuat secara detail. Nah setelah ini di godog dan di approve kemudian kita pecah di divisi kita masing-masing. Setelah semua matang baru produksi. Sedangkan untuk sofwarenya sendiri kita menggunakan Unity 3.

Anantarupa studio itu sendiri berasal dari sebuah seminal work Joseph Campbell dengan judul papernya adalah The Hero With Tousand Faces. Anantarupa artinya adalah seribu wajah. Kita berharap tidak hanya menjadi perusahaan biasa yang hanya surviving, bukan hanya meng create capital, tapi juga kita meng create value. Yang saya harapkan adalah semua yang disini atau yang terinspirasi dari pekerjaan kita, itu bisa menjadi pahlawan dibidang masing-masing.

Rencana kedepan “Anantarupa” ingin menjadi pionir dalam pembuatan EA berbasis culture. Selain itu kita ingin memperkenalkan Indonesia ke mata internasional serta berkontribusi pada national branding.

Saya harapkan suatu saat nanti Indonesia dapat maju dengan industri kreatifnya. Indonesia yang punya banyak sekali culture dan suku bangsa yang beraneka ragam perlu diolah di era ekonomi kreatif ini.

Saya tahu generasi ini adalah generasi yang baru yaitu generasi Why, generasi yang selalu terinspirasi oleh segala sesuatu yang instan. Namun kita harus mengalami proses dan tidak ada yang instan. Kita tidak boleh menyerah. Jika kita sukses maka kita harus melewati tantangan demi tantangan, tanpa kehilangan antusiasme.

*Tulisan ini dibuat eksklusif untuk RIMAnews

Terbaru
Berita Terkait
31 Agustus 2015 | 15:40
Apel Band, Wanita tapi Gak Girly