Hukum

Pemerintah sibuk memburu hantu hoax

1.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:02
10 JAN 2017
Ilustrasi hoax
Reporter
Stefanus Yugo
Sumber
Rimanews

OPINI - Jokowi gerah lihat hoax di media sosial. Dia karena itu meminta aparat penegak hukum menindak tegas penyebar hoax dan media-media yang memproduksi informasi bohong tanpa sumber yang jelas dievaluasi. 

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengaku, yang paling menjengkelkan adalah hoax tentang jumlah tenaga kerja asing asal RRC yang dikabarkan mencapai 10 juta jiwa. Lantas, 8 Januari kemarin, sejumlah aktivis media sosial mendeklarasikan Masyarakat Anti Hoax serentak di enam kota untuk mendukung pemerintah memerangi hoax

Hoax kini memang menjadi semacam hantu, atau dalam istilah Rudiantara sudah sangat mengganggu kerja pemerintah, sampai-sampai pemerintah merasa perlu memblokir situs-situs yang dianggap menyebarkan hoax. Di sisi lain, sebagian masyarakat justru "terhibur" dengan berita yang menurut pandangan mereka bukan hoax

Tapi, benarkah penyebaran hoax sudah segawat dan sedarurat seperti yang dinilai oleh pemerintah?

Dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengatakan, kekhawatiran pemerintah terhadap berita hoax sangat berlebihan, alias lebay. Menurutnya potensi hoax  justru berasal dari pemerintah karena pemerintah memiliki akses ke semua informasi dan membuat informasi seragam.

Hoax menurutnya, bisa bersumber dari perilaku pemerintah yang tak memuaskan.Contoh isu tenaga kerja asing asal RRC.

Suara pemerintah tidak seragam terutama soal jumlah dan pernyataan dari masing-masing pejabat negara. Karena merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan dari pemerintah, masyarakat melontarkan kritik di media sosial.

Pakar filsafat dan logika Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Rocky Gerung juga berpendapat sama dengan Sukatma. Lewat kicauannya di Twitter, Rocky mengatakan pelaku utama hoax adalah penguasa. Kalau hoax dari rakyat, berarti ada masyarakat yang tidak percaya dengan "lipstik penguasa."

Pemerintah kata Rocky, memiliki peralatan lengkap untuk memproduksi hoax, mulai dari statistik, intelijen, editor, panggung, dan media. Hoax hanya efektif memengaruhi massa bila menguasai media massa. "Hanya penguasa yang mampu," kata Rocky.

Euforia demokrasi di ranah digital memang tidak bisa dihindari. Semua orang bisa menyuarakan aspirasinya  hanya dengan menekan tombol-tombol di gadget, dan mestinya pemerintah tak perlu reaktif menanggapi setiap isu yang beredar di media sosial apalagi sampai memantau percakapan warga di dunia maya sepanjang hari. Buktikan saja dengan kerja nyata sehingga masyarakat merasakan betul kehadiran pemerintah.

Bagi masyarakat, dunia maya hanyalah hiburan, di tengah kepenatan sosial karena beban hidup yang dihadapi semakin terasa berat, dengan kenaikan harga-harga kebutuhan seperti kenaikan harga cabai. 

Pemerintah karena itu tidak perlu menciptakan hantu bernama hoax yang justru memperkeruh keadaan. Sebab, tidak jarang masyarakat yang berpikir bahwa hoax hanyalah upaya pemerintah untuk mengalihkan perhatian masyarakat, dari kondisi sebenarnya.

Tidakkah, tidak ada yang bisa tahu dari mana sebuah berita hoax itu berasal? Bisa jadi pemerintah juga yang memunculkan berita-berita hoax agar masyarakat sibuk. Siapa yang tahu?

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
23 Januari 2017 | 14:02
Ahok: lu pikir gue jagoan
23 Januari 2017 | 13:23
Ahok sebut Agus Yudhoyono "baper"
20 Januari 2017 | 17:53
Bareskrim periksa Sylviana 7,5 Jam
20 Januari 2017 | 16:23
Jessica tunggu putusan banding
20 Januari 2017 | 08:44
Belitan korupsi bekas Dirut Garuda