Hukum

MK kabulkan uji materi dari korban penembakan Novel Baswedan

5.5K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
21:53
11 JAN 2017
Dok. Novel Baswedan
Reporter
Stefanus Yugo
Sumber
Rimanews

Rimanews - Mahkamah Konstitusi mengabulkan sebagian permohonan uji materi ketentuan kewenangan Jaksa Agung untuk mengesampingkan perkara demi kepentingan umum atau deponering, yang diajukan korban penembakan Novel Baswedan.

"Mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian," ujar Ketua Majelis Hakim Konstitusi Arief Hidayat ketika membacakan amar putusan Mahkamah di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta, hari ini.

Pemohon  perkara ini adalah Irwansyah Siregar dan Dedi Nuryadi, yang pernah dipidana dalam kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu, dan merasa dirugikan atas kewenangan Jaksa Agung yang dapat mengesampingkan perkara demi kepentingan umum.

Mereka ditangkap pada 18 Februari 2004 dan mengalami penyiksaan berupa penembakan oleh aparat kepolisian yang  saat itu dipimpin oleh Novel Baswedan. Mereka kemudian menuntut Novel.

Surat dakwaan atau berkas perkara penembakan enam orang dengan tersangka Novel Baswedan tersebut dilimpahkan oleh jaksa ke PN Bengkulu. Belakangan surat dakwaan itu ditarik dengan alasan untuk diperbaiki tapi tidak pernah dikembalikan ke PN Bengkulu.  Jaksa kemudian mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan dengan alasan tidak cukup bukti dan telah kedaluarsa.

Dalam putusannya, Mahkamah juga menyatakan ketentuan deponering yang dijelaskan dalam Pasal 35 huruf c UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa Jaksa Agung wajib memperhatikan saran dan pendapat dari badan-badan kekuasaan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah tersebut.

Dalam pertimbangan Mahkamah yang dibacakan oleh hakim konstitusi Wahiddudin Adams, tafsiran tersebut dibutuhkan supaya ada ukuran yang jelas dan ketat dalam penggunaan kewenangan deponering oleh Jaksa Agung.

"Karena terhadap kewenangan deponering tersebut tidak terdapat upaya hukum lain untuk membatalkannya kecuali Jaksa Agung itu sendiri, meskipun kecil hal itu dilakukan," ujar Hakim Konstitusi Wahiddudin.

Selain itu, penafsiran tersebut dinilai Mahkamah perlu dilakukan karena deponering berbeda halnya dengan penghentian penuntutan. "Terhadap penghentian penuntutan terdapat upaya hukum praperadilan," tambah Wahiddudin.

 

KATA KUNCI : , , , , ,
Terbaru
16 Januari 2017 | 14:37
Alasan Twitter blokir akun FPI
16 Januari 2017 | 14:37
Polda Bali akan panggil Munarman
16 Januari 2017 | 14:14
"Habib Rizieq lebay"
16 Januari 2017 | 13:44
FPI 'dikeroyok' netizen di twitter
14 Januari 2017 | 17:56
Kisah korban bom Thamrin tahun lalu
14 Januari 2017 | 13:02
Peringatan satu tahun bom Thamrin
13 Januari 2017 | 22:35
FPI versus GMBI sepakat berdamai
13 Januari 2017 | 17:14
FPI tuding GMBI anti-Pancasila
13 Januari 2017 | 14:25
Kapolda Jabar akui pembina GMBI
12 Januari 2017 | 15:25
FPI tak terdaftar di Kemendagri
12 Januari 2017 | 14:49
Mau enggak Google diblokir?
11 Januari 2017 | 21:05
8 WNI dideportasi Imigrasi Malaysia
Berita Terkait
29 Desember 2016 | 21:57
Tahun 2016, 23 hakim terbelit kasus