Hukum

Kakak Andi Narogong terlalu sering lupa

2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
18:40
10 APR 2017
tersangka pemberi suap korupsi proyek e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Ketua Majelis Hakim John Halasan Butar-Butar menyindir pengusaha logam yang juga kakak tersangka pemberi suap korupsi proyek e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Dedi Prijono karena terlalu sering mengaku lupa. 

"Anda ini masih muda, tapi dari tadi suka menjawab lupa. Kalau Anda lebih tua dari saya lalu banyak lupa mungkin saya bisa terima," katanya kepada Dedi, salam persidangan suap e-KTP di pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, hari ini.

Selain itu, ia juga mengingatkan supaya saksi sebelum menjawab pertanyaan harus mencermati dan memahami dulu apa pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Mendengar sindiran dan saran ketua majelis hakim Dedi langsung menjawab "Siap yang mulia," jawabnya singkat.

Sebelumnya, majelis hakim mencecar perihal pertemuan saksi di rumah mewah Andi Narogong di Kemang Pratama, Bekasi, Jawa Barat setelah pengumuman pemenang lelang e-KTP 2011. 

Majelis menanyakan kepada Dedi dengan mengutip BAP saksi bahwa saksi pernah memfasilitasi pertemuan yang dihadiri tim Fatmawati dan luar tim, dan dari Kemendagri serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Siapa pihak di luar Fatmawati?" tanya John. 

"Johannes," jawabnya singkat

"Lalu siapa dari Kemendagri, siapa dari BPPT siapa yang hadir di Kemang Pratama?" Tanya hakim

"Lupa pak," katanya.

Lantas hakim memerintahkan saksi untuk mengingat-ingat lagi. Sebab, kata John, mustahil Dedi lupa karena yang hadir pertemuan itu tidak sampai 10 orang.

"Dari BPPT Fahmi. Dari Kemendagri mungkin Pak Drajat (Wisnu Setiawan)," Jawabnya.

Mendengar jawaban saksi, John kembali menanyakannya "Apa kepentingan mereka, apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu ?" Tanya hakim.

Menurut Dedi, dalam pembahaaan tersebut hanya mengingatkan supaya para pemenang lelang membagi-bagi pekerjaan kepada yang kalah. "Cuma itu yang mulia," jawabnya

"Jadi yang kalah meminta menjadi subkontraktor kepada PNRI karena mereka yang menjadi pemenang lelang di pertemuan minta pekerjaan kepada PNRI, Pak Tarto," tambahnya.

Terbaru
27 April 2017 | 18:20
Masinton terganggu sikap KPK
27 April 2017 | 14:29
Miryam jadi buronan KPK
25 April 2017 | 16:14
Ahok tebar canda tawa usai sidang
25 April 2017 | 14:28
Vonis Ahok dibacakan 9 Mei
25 April 2017 | 10:00
Ada 'Finding Nemo' di pledoi Ahok
22 April 2017 | 08:20
KPK masih usut korupsi BLBI
21 April 2017 | 12:52
KPK kembali periksa Andi Narogong
Hukum