Hukum

2 adik Gamawan Fauzi diperiksa terkait skandal e-KTP

2.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:40
18 MEI 2017
Mantan Mendagri Gamawan Fauzi.
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Sidang lanjutan perkara korupsi mega proyek e-KTP yang menyeret dua terdakwa pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharto, kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Rencananya JPU KPK akan menghadirkan delapan orang saksi ke persidangan terkait teknis pengadaan e-KTP, yang dua di antara mereka adalah adik mantan Mendagri Gamawan Fauzi. 

Delapan saksi yang dihadirkan yakni Azmin Aulia (adik kandung Gamawan), Afdal Noverman (adik seayah) dan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arif Fakrulloh. 

"Junaidi (bendahara pembantu proyek e-KTP) dan Amilia Kusumawardani Adya Ratman," ujar Kepala Humas Tipikor, Johannes Priyana, saat dikonfirmasi melalui media sosial WhatsApps, Rabu (17/05).

Selain itu, saksi lainnya yakni Kepala Subseksi Tematik dan Potensi Tanah BPN Jakarta Selatan, Paultar Paruhum Sinambela dan Ketua panitia pemeriksa dan penerima pengadaan, Ruddy Indrato Raden dan Kepala Sub Bagian Sistem dan Prosedur, Bagian Perundang-undangan dan Kepegawaian Sesditjen Kemendagri, Endah Lestari.

Selain delapan saksi yang akan dihadirkan langsung, persidangan juga akan melakukan pemeriksaan jarak jauh melalui teleconference langsung dari negeri Singapura yakni Pemilik PT Sandipala Arthaputra dan salah satu pengurus PT Mega Lestari Utama, Paulus Tanos.

Paulus Tannos diduga takut kembali lagi ke Indonesia, khususnya Jakarta, karena takut ditagih hutang ratusan Milyar lantaran ia merupakan salah satu pengurus dari PT Mega Lestari Unggul. 

Belakangan, perusahaan itu dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat karena memiliki hutang ratusan milyar lebih. Selain itu, seluruh kreditur juga menolak permintaan masa penundaan kewajiban pembayaran utang tetap selama 180 hari.

Sebagai informasi, pada proyek e-KTP ini, perusahaan yang dipimpin Paulus Tanos sebenarnya tidak masuk dalam konsorsium lantaran latar belakang perusahaan tersebut tidak masuk dalam kualifikasi. 

Diduga perusahaan milik pengusaha yang takut kembali ke Indonesia karena banyak hutang itu bisa masuk dalam proyek e-KTP karena faktor kedekatan dengan mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.

Perusahaan yang membawa bendera kontraktor listrik itu masuk dalam konsorsium PNRI, yang belakangan diketahui bahwa Paulus Tanos dan Gamawan Fauzi sudah saling mengenal.

Paulus Tanos juga sering datang dalam pertemuan di ruko Fatmawati dan masuk ke dalam tim yang dikenal dengan nama tim Fatmawati. 

Hal itu diketahui saat anggota tim dari PT Java Trade Utama, Jimmy Iskandar Tedjasusila dihadirkan dalam persidangan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP pada 20 April 2017 lalu.

Terbaru
27 Juni 2017 | 19:03
Rizieq ngumpet di Yaman
21 Juni 2017 | 22:32
Miryam disidangkan usai Lebaran
19 Juni 2017 | 19:27
KPK pertanyakan surat Pansus DPR
18 Juni 2017 | 10:36
KPK memanipulasi dukungan publik
16 Juni 2017 | 20:30
Masinton: KPK bohong
16 Juni 2017 | 16:13
Ratu Atut dituntut 8 tahun bui
Hukum