Hukum

Patrialis didakwa terima uang US$ 70 ribu, Rp 4 Juta dan dijanjikan Rp 2 miliar

1.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
12:38
13 JUN 2017
Patrialis Akbar
Reporter
Ahmad Alfi Dimyati
Sumber
Rimanews

Rimanews - Sidang perdana mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar terkait suap perkara Uji Materi Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan terhadap UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 hari ini di gelar di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Dalam surat dakwaannya JPU KPK mendakwa Patrialis telah menerima uang suap sebesar US$ 70 Ribu dan Rp 4 Juta serta dijanjikan Rp 2 Milyar.

"Sebagai penyelenggara negara, terdakwa telah menerima hadiah US$ 70 ribu Dollar, Rp 4.043 juta dan di janjikan Rp 2 miliar," ujar Jaksa KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta, Selasa (13/06).

Diduga pemberian uang tersebut untuk mempengaruhi putusan Judicial Review dalam perkara Nomor 129/PUU-XIII/2015 terkait Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili," tambah Jaksa

Menurut Jaksa, Pemberian uang USD 70 ribu dan Rp 4.043.195 tersebut diberikan kepada Patrialis Akbar dalam beberapa tahap dan terjadi di Jakarta. 

Adapun pemberian uang US$ 70 ribu tersebut tidak dilakukan secara sekaligus, namun melalui beberapa tahapan, mulai dari US$ 20 ribu, kedua US$ 20Ribu kemudian tahap ketiga yakni US$ 10Ribu sementara tahap ke - empat yakni US$ 20 ribu.

Menurut Jaksa Uang Rp 4 Juta dan US$ 70 ribu tersebut telah dinikmati oleh Patrialis untuk kegiatan bermain golf.

Kemudian terkait pemberian janji Rp 2 miliar itu, uang belum diberikan kepada Patrialis dan baru dipersiapkan oleh Basuki Hariman.

Pada 24 Januari 2017, di kawasan Sunter, Jakarta Utara Basuki Hariman dan NG Fenny menyuruh Kumala untuk menukar uang Rp 2 miliar dengan mata uang Singapura, menjadi SGD 211.300.

Kemudian NG Fenny memerintahkan Sutikno (kurir kantor) untuk menyerahkan uang SGD 200 ribu kepadanya dan Basuki Hariman di Plaza UOB. Sementara SGD 11.300 disimpan di Kantor.

Setelah itu, uang sebesar SGD 200 ribu diperihatkan kepada Kamaludin sekaligus bertanya kapan permohonan tersebut dikabulkan. Lantaran pembacaan putusan ditunda seminggu kemudian, Basuki meminta agar Kamaludin menyimpan uang tersebut.

Namun Kamaludin menolak dan akhirnya uang tetap disimpan oleh Basuki Hariman. Menurut Jaksa, uang tersebut akan diberikan kepada Patrialis Akbar untuk memengaruhi putusan uji materi tentang Peternakan dan Kesehatan hewan.

Suap yang diberikan kepada Patrialis Akbar bermula saat Basuki Hariman selaku pemilik PT  Impexindo Pratama, PT Cahaya Timur Utama, PT Cahaya Sakti Utama dan CV Sumber Laut Perkasa bersama anak buahnya NG Fenny meminta bantuan kepada Kamaludin. Menurut pengetahuan Basuki dan NG Fenny, Kamaludin mengenal dekat salah satu hakim MK.

Permintaan bantuan tersebut guna mempercepat dikeluarkannya putusan permohonan uji materi yang diajukan oleh enam pemohon, Teguh Boediyana, Mangku Sitepu, Dedi Setiadi, Gun Gun Muhamad Lutfi Nugraha, Muthowif dan H Rachmat Pambudy. Tujuannya agar permohonan tersebut dikabulkan.

Dengan dikabulkannya permohonan tersebut, maka impor daging kerbau dari India dihentikan. Sebab, pemerintah telah menugaskan Bulog untuk mengimpor dan mengelola daging kerbau dari India dan akan berdampak pada ketersediaan daging tersebut lebih banyak dan membuat harga semakin murah.

Patrialis didakwa dengan Pasal 12 c jo Pasal 18 UU RI Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 dan Pasal 64 KUHP.

KATA KUNCI : , ,
Terbaru
21 Juni 2017 | 22:32
Miryam disidangkan usai Lebaran
19 Juni 2017 | 19:27
KPK pertanyakan surat Pansus DPR
18 Juni 2017 | 10:36
KPK memanipulasi dukungan publik
16 Juni 2017 | 20:30
Masinton: KPK bohong
16 Juni 2017 | 16:13
Ratu Atut dituntut 8 tahun bui