Keamanan

Bara Indonesia di konflik Darfur

4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
24 JAN 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Analisis – Publik dikejutkan dengan pemberitaan mengenai penangkapan pasukan Indonesia yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB atau United Nations African Mission In Darfur (UNAMID).

Mereka diduga melakukan penyelundupan senjata. Deputi Gubernur Darfur Utara Mohamed Hasab al-Nabi mengatakan, jajarannya menyita sejumlah senjata berat dari pihak UNAMID.

Media lokal Sudan melaporkan, senjata dan amunisi yang diselundupkan meliputi 29 senapan Kalashnikov atau AK47, 4 senapan serbu, 6 senapan GM3, 61 berbagai jenis pistol, dan berbagai jenis amunisi dalam jumlah besar. 

Mencermati kasus ini, ada dua kemungkinan: pertama, pasukan perdamaian Indonesia dijebak oleh pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan; kedua, pasukan kita memang bermain dalam bisnis senjata. Oleh sebab itu, Polri harus bertindak cepat. Sebab, nama Indonesia tengah dipertaruhkan.

Menjadi mafia senjata bukan pekerjaan baru bagi beberapa orang Indonesia. Pada 2006, TNI pernah mencak-mencak karena rekanan pengadaan senjata, yakni PT Ataru Indonesia terlibat dalam bisnis gelap senjata. Pemainnya saat itu adalah Hadianto Djoko Djuliarso dan istrinya serta Ignatius Ferdinandus Soeharli.

Mereka ditangkap oleh aparat Amerika Serikat yang menyamar sebagai pengusaha. Mafia senjata tersebut tertangkap basah berusaha membeli ratusan jenis senjata berat secara gelap, antara lain peluru kendali sidewinder, dan radar pesawat terbang. Para pengusaha itu mengaku semua persenjatan itu dimaksudkan untuk memasok TNI.

Namun, sebetulnya hubungan Departemen Pertahanan dengan PT Ataru terbatas pada pengadaan suku cadang radar dan pesawat F5, yang prosesnya sah. Mereka menyalahgunakannya untuk agenda mereka sendiri.

Skandal tersebut sangat mencoreng Indonesia, karena saat itu Kongres Amerika Serikat baru saja memberikan kelonggaran terhadap embargo senjata yang diberlakukan terhadap Indonesia.

Dengan rekam jejak seperti itu, kasus di bandara El-Fasher di Sudan Utara itu harus segera dijelaskan. Terlibat dalam konflik Darfur yang diklaim sudah menewaskan sedikitnya 400 ribu orang dan memaksa 2,5 juta lainnya mengungsi sangat mencoreng wajah Indonesia, yang menerapkan prinsip bebas aktif dalam hubungan luar nergeri.

Darfur mulai bergolak pada 2003, yang diinisiasi oleh Gerakan Kesetaraan dan Keadilan (JEM) dan Tentara Pembebasan Sudan (SLA). Mereka menuduh pemerintah melakukan penindasan terhadap etnis Afrika dan mengistimewakan Arab. Mereka juga menuduh pemerintah mengabaikan pembangunan di Darfur.

Sebagai respons, pemerintah melakukan kampanye bersenjata lewat berbagai serangan udara, sedangkan di darat ada milisi Arab, Janjaweed. Pemerintah bersama Janjaweed diduga melakukan pembunuhan massal, penjarahan dan perkosaan sistemik terhadap penduduk non-Arab di Darfur.

Pada 5 Mei 2006, kelompok pemberontak, Gerakan Pembebasan Sudan menyetujui draf perdamaian dengan pemerintah yang ditandantangani di Abuja, Nigeria.

Pada 2012 Amnesty International melaporkan bahwa senjata yang menjadi bahan bakar konflik didominasi produk Rusia, Cina dan Belarus. Ketiga negara ini dilaporkan menyuplai senjata berat dan amunisi untuk pasukan pemerintah.

Jika informasi ditangkapnya anggota polisi perdamaian tersebut benar, kemungkinan mereka dituduh menyuplai senjata untuk pemberontak. Kabar ini menjadi isu besar di Sudan, dan otoritas lokal mengaku kasus ini akan ditangani pemerintah pusat.

Sementara itu, bantahan dari KBRI di Khartoum bahwa pemberitaan Sudan Tribune tidak benar hanya dengan argumen bahwa senjata tersebut bukan milik pasukan penjaga perdamaian Indonesia karena tidak ada label bendera merah putih, tidak ada nama, tidak ada pangkat di dalam tas yang ditemukan, masih terlalu normatif. Namanya juga selundupan, pasti tidak ada label dan nama. Jadi, kita masih menunggu kabar dan penjelasan yang lebih valid tentang ini.

Menjadi polisi perdamaian seharusnya benar-benar hadir untuk menciptakan dan menjaga perdamaian, bukan memanfaatkan kondisi atau membakar situasi dengan menebar bara. Kita berharap ada tindakan tegas jika ada anggota benar-benar terlibat seperti yang dituduhkan.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
26 Mei 2017 | 10:31
Terorisme tak punya agama
28 April 2017 | 23:38
TNI tangkap imigran asal Somalia