Peristiwa

Kejar-kejaran harga cabe dan cabe-cabean

1.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:00
10 JAN 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Hampir tiap tahun sejak era Reformasi, selalu ada gejolak harga cabai dalam berbagai jenisnya. Harga si kecil pedas yang menjadi bumbu pokok masakan Nusantara itu bisa tiba-tiba sangat murah, atau mahalnya selangit.

Enam hari lalu, harga cabai di Samarinda bahkan tembus di angka Rp200 ribu sekilo. Cabai sekilo dengan harga segitu tentu hampir mendekati harga cabe-cabean, yang berseliweran di beberapa lokasi di Jakarta.

Jika malam semakin larut, harga PSK berusia 14-18 tahun bisa cuma Rp500 ribu dan jika beruntung, mereka mau dengan harga Rp300 ribu. Padahal, dalam keadaan normal mereka menetapkan tarif Rp1juta hingga Rp1,5 juta sekali kencan.

Biasanya, sesuatu yang orisinal berharga lebih mahal daripada yang imitasi. Misalnya, harga mobil tentu lebih mahal daripada mobil-mobilan. Akan tetapi, cabe-cabean ternyata lebih mahal daripada cabe betulan.

Kata ironis bisa dipakai untuk menjelaskan kaitan harga cabe sungguhan dengan cabe-cabean. Oleh karena itu, barangkali supaya berada di lajur yang benar, harga cabe harus dibuat atau dibiarkan lebih mahal daripada cabe-cabean.

Cukup aneh pemerintah kita, ada sebuah fenomena niaga yang buruk yang berulang-ulang terjadi, tapi mengapa dibiarkan tetap terjadi tanpa seolah ada solusi?

Tingginya harga cabai disinyalir banyak pihak, termasuk pemerintah sendiri, karena rantai perdagangan atau tata niaga yang panjang, dari petani tidak langsung ke pasar, tetapi dikuasai dahulu oleh pengepul, distributor bahkan spekulan.

Dengan cara seperti itu, harga di tingkat konsumen terakhir atau pasar pasti jauh lebih mahal dibandingkan dari petani. Belum lagi jika dikacaukan oleh cuaca buruk dan panen yang tidak maksimal karena serangan hama.

Akan tetapi, yang paling sering berperan mengacaukan harga cabai adalah para spekulan yang biasanya memainkan harga di tingkat pasar, bahkan juga ada yang berani menyendat alur distribusi yang imbasnya harga semakin tinggi di tingkat konsumen terakhir yakni warga.

Pemerintah pasti paham skenario-skenario seperti itu, akan tetapi anehnya pemerintah dari satu rezim ke rezim lain seolah tak kuasa melakukan sesuatu untuk menertibkan alur distribusi tersebut, apalagi membongkar kasus mafia harga kebutuhan masyarakat.

Jika harga cabe selamanya diserahkan ke pasar seperti harga cabe-cabean, bisa jadi harganya benar-benar kejar-kejaran; dan pada satu masa ketika tidak ada lagi generasi yang sudi bertani, harga cabe bisa melampaui harga cabe-cabean. 

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
28 Maret 2017 | 09:50
Bali sunyi saat Nyepi
27 Maret 2017 | 02:45
Bayi dibuang di samping Masjid
27 Maret 2017 | 00:03
Puluhan warga keracunan makanan
26 Maret 2017 | 20:58
Banjir kembali melanda Bima
26 Maret 2017 | 18:56
Truk seruduk bengkel di Sumut
26 Maret 2017 | 12:19
Kilau batu akik yang kian meredup
26 Maret 2017 | 08:13
Jakarta hujan siang ini
25 Maret 2017 | 21:20
Gempa 4.0 SR guncang Ende
25 Maret 2017 | 17:40
Angin kencang hantam Pamekasan