Peristiwa

Pudarnya intelektualisme asketis

1.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:00
11 JAN 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Kata asketisme berasal dari bahasa Yunani yang bermakna 'latihan', 'olahraga', dan lebih khususnya, 'latihan atletik'. Umat Kristiani generasi awal mengadopsi istilah tersebut untuk memaknai segala laku spiritual, atau latihan rohaniah yang dilakukan dengan tujuan memperoleh kedekatan dengan Tuhan.

Dalam tradisi Islam, dikenal konsep serupa dengan istilah zuhud, yakni berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘benci dan lalu meninggalkannya’. Maksudnya, mengosongkan diri dari hasrat-hasrat duniawi dan lebih fokus kepada amaliah suci demi kehidupan ukhrawi.

Asketisme atau zuhud merupakan pendekatan penting dalam tahap awal perjalanan spiritual manusia. Golongan manusia yang paling dituntut untuk berlaku asketis adalah para intelektual atau ulama dalam bahasa Arab.

Namun, sayangnya, gairah untuk hidup asketis di kalangan intelektual kita cenderung memudar. Mereka banyak terjebak pada keinginan untuk tenar, kaya dan membebek pada kekuasaan. Di sinilah seorang intelektual dapat dikatakan cacat, atau tak berfungsi sebagaimana mustinya.

Kaum intelektual ibarat wajah pada sebuah tubuh; muka yang buruk dapat mempengaruhi performa keseluruhan tubuh. Dengan kata lain, performa diri seseorang dapat berantakan dengan rusaknya muka.

Dalam kehidupan sosial, dan bernegara, wajah masyarakat adalah kaum intelektual mereka; jika kaum intelektual tidak fungsional, dapat dipastikan rusak pula sistem nilai di masyarakatnya.

Dalam sejumlah literatur Islam disebutkan, rusaknya kaum intelektual (ulama) adalah karena besarnya kecintaan kepada dunia. Kecintaan mereka pada dunia sering diwujudkan dengan pembebekan kepada penguasa, meskipun zalim, untuk mendapatkan prestise-prestise duniawi: kemewahan, popularitas, atau kedudukan tinggi di masyarakat. Pada kondisi seperti ini kezuhudan tidak lagi dianggap sebagai nilai.

Menarik mencermati sabda Nabi Muhammad saw, “Siapa mendatangi pintu penguasa, ia akan terfitnah” (HR Abu Dawud [2859]). Riwayat lain dari Abu Anwar as-Sulami r.a, Nabi saw bersabda, “Jauhilah pintu-pintu penguasa karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan.”

Larangan ini tentu bukan larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat. Namun, larangan ini secara metaforis menohok para intelektual yang melacurkan diri kepada penguasa untuk keuntungan duniawi.

Kaum intelektual seharusnya menjadi wasit moral bagi penguasa dan penunjuk jalan bagi orang awam. Bukan sebaliknya, menjadi pendukung kebijakan penguasa yang bertentangan dengan sistem yang sudah disepakati, apalagi menyalahi prinsip keadilan, mengelabuhi rakyat, atau bersekutu dalam kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan menjual nama agama.

Ali bin Abi Thalib mengingatkan, “Dua jenis orang yang mematahkan punggungku adalah orang berilmu yang melanggar dan orang bodoh ahli ibadah. Yang pertama akan membuat orang lari karena pelanggarannya dan jenis kedua akan menipu orang dengan ibadahnya.”

Intelektual atau ulama yang buruk pertama akan membuat orang muak dengan figur-figur cendekiawan. Kedua, kemuakan mereka akan berlanjut kepada kebencian terhadap ilmu pengetahuan (termasuk agama), mengingat mereka adalah pemegang otoritas tersebut.

Kaum intelektual perlu diingatkan supaya mereka kembali ke jalan yang lurus dan tidak menunggu tua renta untuk hidup ala pertapa. Bagi kaum intelektual, asketisme adalah energi yang dapat menggerakkan peradaban. Jika energi penggerak itu tidak ada, kehadiran mereka tak ubahnya gedebog pisang di ranjang pengantin.

Sponsored
The Money Fight

Terbaru
24 Juni 2017 | 13:01
Arus mudik 2017 lebih terkendali
Peristiwa
Sponsored