Peristiwa

Ketua PMII sebut Palu pusat radikal, Danrem minta warga tahan diri

3.4K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
19:31
17 MEI 2017
Aminuddin Ma'ruf. Foto: Twitter/@aminmaruf27
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Antara

Rimanews - Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aminuddin Maruf membuat marah berbagai kalangan di Sulawesi Tengah karena menyebut Kota Palu sebagai pusat kegiatan radikal.

Forum Pemuda Kaili (FPK), Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), PB Alkhairaat dan ketua-ketua adat di Tanah Tadulako, bahkan massa HMI Palu sempat menggelar demonstrasi, Rabu (17/05/2017) siang, menuntut permohonan maaf Amiuddin.

Danrem 132/Tadulako Palu Kol. Inf. Muh. Saleh Mustafa meminta kepada seluruh elemen masyarakat dan jurnalis untuk mengambil hikmah positif dari kejadian ini serta mengendalikan diri dengan tidak melakukan hal-hal yang akan mengganggu ketenteraman masyarakat. 

Danrem yang didampingi Direktur Intel Polda Sulteng juga menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam dan pemuda, pemerintah provinsi, pemerintah kota dan beberapa jurnalis untuk mengajak agar ikut mendinginkan situasi dan menciptakan situasu kondusif di Kota Palu.

Aminuddin sendiri akhirnya menemui Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola di rumah dinasnya untuk meminta maaf atas ucapannya dalam pembukaan Kongres XIX PMII di Palu, Selasa. Meski mengaku sangat menyesalkan dan marah atas pernyataan Aminuddin karena tidak didasari fakta dan diucapkan di hadapan Presiden Joko Widodo yang menghadiri acara tersebut, Longki tetap memaafkannya.

"Ya, mereka datang dan meminta maaf atas ucapan tersebut. Sebagai gubernur, sekaligus orang tua di daerah ini dan tokoh adat di lingkungan masyarakat Kaili, saya tentu memaafkan mereka," kata Gubernur Longki usai menerima Pengurus PB PMII, Rabu.

Namun demikian, kata Longki, ia meminta Aminuddin untuk meminta maaf secara langsung kepada masyarakat Sulteng melalui media.

Dalam pembukaan Kongres XIX PMII pada Selasa, Aminuddin mengatakan bahwa kongres sengaja digelar di Kota Palu karena Tanah Tadulako ini menjadi pusat kegiatan radikal yang menentang NKRI.

"Kalau yang dimaksudkan Aminuddin sebagai pusat kegiatan radikal Islam adalah aktivitas Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso yang sudah meninggal, itu kan hanya ada di sebagian wilayah Poso saja."

Lalu soal tudingan menjadi pusat kegiatan menentang NKRI, itu juga sangat tidak berdasar sebab tidak pernah ada kegiatan menentang NKRI di Sulteng. 

"Kalau yang dimaksudkan adalah PRRI-Permesta, itu adanya di Sulawesi Utara, dan DI-TII itu di Sulsel, jadi tidak ada di Sulteng," katanya.

Terbaru
24 Juni 2017 | 13:01
Arus mudik 2017 lebih terkendali
15 Juni 2017 | 19:09
NU tolak full day school
Peristiwa