Peristiwa

Siapkan diri hadapi puncak arus mudik

17.3K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
15:17
22 JUN 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Bagi yang sudah merencanakan mudik atau balik kampung pada malam hari ini (22/07/2017) hingga H-2 Lebaran, Anda harus memiliki persiapan ekstra. Pasalnya, Anda akan berada pada situasi puncak arus mudik.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan puncak arus mudik Lebaran 2017 pada 23 atau malam hari pada 22 Juni 2017. Namun, puncak arus mudik tersebut bisa berubah sesuai dengan kapan Lebaran ditetapkan dan penerimaan THR. Yang jelas, pada hari keempat hingga kedua Lebaran, puncak arus mudik selalu terjadi.

Pemerintah mengklaim telah menentukan titik-titik tempat kepadatan pada mudik Lebaran 2017 di antaranya, Bandara Soekarno-Hatta, Pelabuhan Merak, Stasiun Gambir, dan Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali).

Khusus untuk Jalan Tol Cipali, yang tahun lalu terjadi kemacetan terparah hingga menyebabkan belasan nyawa melayang, kepolisian dan Dishub telah menyiapkan skema untuk mengurai kepadatan kendaraan. Salah satunya, dengan menggunakan skema buka tutup jalan jika Jalan Tol Cipali mengalami kepadatan, contohnya, kalau di Brexit (Bebes Exit) penuh, Pejagan ditutup, kita alihkan ke Selatan atau ke utara.

Strategi menghadapi puncak arus mudik

Jika Anda ingin mudik dengan tujuan Jawa Barat, Tengah dan Timur dari Jakarta, kemacetan tidak akan bisa Anda hindari. Oleh karena itu, Anda harus melakukan persiapan ekstra.

1. Memilih jenis kendaraan

Pilihlah kendaraan paling nyaman. Sebagai informasi, motor adalah kendaraan dengan keamanan paling rendah. Meskipun seluruh korban kemacetan tol Cipali tahun lalu adalah penumpang kendaraan umum/mobil, kematian tetap didominasi oleh para pengguna motor.

Menurut catatan pemerintah kecelakaan motor lebih dari 50 persen dari jumlah kecelakaan yang melibatkan berbagai jenis kendaraan lain secara umum. Maka, beralih ke kendaraan umum atau mobil adalah solusi terbaik.

2. Tidak puasa

Jika berpuasa bakal dapat mempengaruhi performa selama perjalanan (terutama menyetir), sebaiknya Anda tidak berpuasa. Selama dalam perjalanan (musafir), keringanan untuk boleh tidak berpuasa dari Yang Mahakuasa sebaiknya dimanfaatkan. Tuhan Mahatahu terhadap kebutuhan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Anda tidak perlu memaksakan diri untuk berpuasa demi memastikan kondisi fisik Anda.

3. Bekal makanan

Pastikan Anda membawa bekal makanan dan obat-obatan yang cukup. Kelelahan dan kelaparan dalam perjalanan panjang adalah pasti. Anda sebaiknya tidak mengandalkan membeli makanan di jalan. Selain harga yang tak masuk akal (di Pantura, harga bisa mencapai lima kali lipat dari harga normal), kebersihan dan kesegaran makanan tidak pernah terjamin.

Daripada tas atau bagasi dipenuhi pakaian, lebih baik Anda isi dengan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi. Anda bisa membawa buah yang padat dan awet seperti apel, pear dan makanan mengandung karbohidrat seperti roti atau keripik kentang. Membawa daging yang awet seperti dendeng atau rendang juga menjadi salah satu solusi. Selalu ingat untuk membawa air yang cukup.

Apabila terpaksa harus membeli makanan, carilah restoran waralaba karena harga di kedai ini cukup konsisten dan Anda tidak akan merasa dicurangi.

4. Cari informasi tentang kondisi jalanan terkini

Sudah banyak aplikasi internet untuk mengetahui kondisi kepadatan jalan. Ketepatan memilih jalur mudik: baik jalan biasa, jalan tol maupun jalan alternatif menjadi faktor penentu kelancaran perjalanan Anda. Saat puncak arus mudik, jalan tol tidak musti menjadi pilihan terbaik (berkaca pada kasus tol Cipali tahun lalu). Demikian juga jalur alternatif, terkadang jalur ini malah lebih macet karena orang berpikir sama, yakni jalur ini akan lebih sepi.

5. Aktifkan alat komunikasi

Pastikan alat komunikasi Anda aktif. Keluarga di rumah biasanya selalu ingin meminta kabar dari dari perjalanan Anda. Alat komunikasi yang mati dapat membuat mereka cemas. Lagipula, Anda juga membutuhkan alat komunikasi untuk keadaan darurat. Jadi pastikan ponsel Anda terisi daya dan pulsa yang cukup selama perjalanan. Namun, hal ini bukan berarti Anda harus melihat ponsel saat berkendara.