Politik

Rachmawati: Perjuangan Hugo Chavez Sejalan dengan Soekarno

3.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
20:43
17 MAR 2016
Dok: Pendiri Universitas Bung Karno (UBK) Rachmawati Soekarnoputri
Reporter
Imam Bashori
Sumber
Rimanews

Rimanews - Kedua tokoh nasional dari Indonesia maupun Venezuela saling bertukar kekaguman dengan sosok pemimpin negaranya. Kedua tokoh tersebut adalah pendiri Universitas Bung Karno (UBK) Rachmawati Soekarnoputri dan Dubes Republik Bolivarian Venezuela Gladys F. Urbaneja Duran.

Putri Presiden RI Pertama Ir. Soekarno itu mengaku mengagumi mantan Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Kata Rachma, Chavez adalah salah satu contoh pemimpin Amerika Latin yang paling gigih untuk melawan praktek-praktek neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis selama puluhan tahun di kawasan Amerika Latin.

"Tidak heran selama puluhan tahun Hugo Chavez dapat membentuk negara yang kuat dalam hal ekonomi maupun politik. Dia mampu menghadapi gempuran dari kekuatan neo-kolonialisme dan neo-imperialiseme," ungkap Rachma dalam konferensi pers bertema "Thoughts Force and Work of the Commander Hugo Chaves Frias" di Aula Ir. Soekarno, Kampus UBK, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/03/2016).

Dalam acara itu, sebagai wujud penghormatan kedua negara, konferensi itu diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan lagu kebangsaan Venezuela.

Lebih lanjut, Rachma menyebutkan bentuk kebijakan Chavez mencakup politik, sosial, ekonomi yang berpihak pada rakyat Venezuela. Seperti menerapkan sistem yang dikenal dengan Bolivarian Mission membentuk Communal Council, membentuk koperasi yang dikelola kaum pekerja, menjalankan reformasi agraria dan menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak multinasional.

"Perjuangan yang ditempuh Hugo sejalan dengan Soekarno. Bung Karno mengajarkan agar setiap pemerintahan di sebuah negara merdeka dan berdaulat harus melaksanakan sistem politik ekonomi, budaya yang bebas dari pengaruh dan intervensi kepentingan asing, bebas dari praktek-praktek exploitation de L'homme par L'homme maupun exploitationde nation par nation," bebernya.

Sementara itu, Dubes Duran juga mengaku kagum dengan tekad kuat Bung Karno dalam memperjuangkan terbentuknya persatuan di kalangan negara-negara yang baru merdeka pada era 1950an.

"Kami rasa, kami perlu belajar kembali dari Bung Karno cara menjalin persatuan di antara negara-negara yang kini menghadapi ancaman dari luar yang tak kecil," terang dia.

Dubes Duran melanjutkan, pemikiran anti neokolonialisme dan neoliberalisme atau nekolim dari Bung Karno masih relevan untuk digunakan dalam menghadapi peperangan modern.

"Bung Karno mengajarkan agar pemerintahan di sebuah merdeka dan berdaulat mengembangkan sistem politik, ekonomi dan budaya yang independen dan bebas dari kepentingan asing," pungkasnya.

Terbaru
15 Juni 2017 | 14:53
Usai dilantik, Djarot temui Ahok
13 Juni 2017 | 15:09
DPR berhak mengawasi KPK
9 Juni 2017 | 18:28
Djarot dilantik 15 Juni
Politik