Politik

"Tenaga kerja Cina cuma 21 ribu kok ribut"

8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
07:35
24 DES 2016
Presiden Joko Widodo. Foto: Antara
Reporter
Dede Suryana
Sumber
setkab.go.id

Rimanews - Presiden Joko Widodo menegaskan jumlah tenaga kerja asal RRC hanya 21 ribu orang, bukan 10 juta atau 20 juta sebagaimana ramai diperbincangkan belakangan.

“Yang lebih gede adalah Jepang dan Korea Selatan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada acara Silaturahim dengan Stakeholders Keuangan Syariah dalam rangka Satu Windu Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk Negara), di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Maraknya tenaga kerja asing, terutama Cina, memang membuat resah masyarakat. Sebab, disinyalir banyak tenaga kerja asal negeri Tirai Bambu itu yang memanfaatkan fasilitas bebas visa sebagai turis. 

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah sempat menantang Ditjen Imigasi untuk membeberkan data jumlah warga negara RRC, termasuk pekerja yang ikut mengais rejeki di Tanah Air. Jika data itu tidak dipublisakasi, kata Fahri, anggota TNI bisa mengusir para tenaga kerja Cina karena bisa dikategorikan inflitrasi.

Presiden Jokowi menyesalkan ramainya pembicaraan mengenai banyaknya tenaga kerja asing ini, sebab jika dibandingkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri justru lebih banyak. Seperti di Malaysia lebih dari 2 juta orang, di Arab Saudi lebih dari 1 juta, di Hongkong 150 ribu, dan di Taiwan 200 ribu TKI.

“Mereka juga diam-diam saja. Kenapa 21 ribu, kita ribut kayak ada angin puting beliung saja,” tanya Jokowi. 

Adanya 21 ribu tenaga kerja asal Tiongkok, menurut Presiden, itu karena ada investasi, ada hal-hal yang belum dikuasai. Jadi, pasti harus diselesaikan oleh teknisi-teknisi Tiongkok. “Enggak mungkin tenaga kerja mereka datang ke sini. Enggak mungkin,” tegas Presiden.

Presiden lantas mengungkapkan bahwa gaji tenaga kerja RRC di negaranya, tiga kali lipat dari Indonesia. 

“Masa datang ke tempat yang gajinya lebih murah, kan enggak mungkin. Kita datang ke luar itu, pasti di sana gajinya 5, 10 kali lipat dari kita, pasti datang. Kalau sama saja, enggak mungkin mau. Karena habis di transportasi, habis di akomodasi. Logikanya kan seperti itu,” tutur Presiden.

KATA KUNCI : , , , , ,
Terbaru