Politik

Teladan beracun dari hubungan Megawati-SBY

13.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
11 JAN 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews – Kita miris melihat permusuhan mendarah daging antara politisi senior Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sampai detik ini hubungan keduanya tidak juga membaik.

Hal itu terbukti dalam gelaran acara ulang tahun Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang ke-44 di Jakarta Hall Convention Center, Jakarta, kemarin (10/01/2017). Wajah SBY tak tampak hadir, entah karena tidak diundang atau tidak datang. Pasalnya, saat dikonfirmasi kepada sejumlah petinggi PDIP tentang apakah SBY diundang, mereka mengaku tidak tahu.

Pada 2015 SBY tampak ingin memperbaiki hubungan dengan mengundang Megawati ke kongres partai Demokrat. Tak tanggung-tanggung, SBY mengutus langsung anaknya, Edhie Baskoro, dan dua politisi senior Partai Demokrat untuk mengantarkan surat undangan. Mega hanya menjawab undangan tersebut dengan mengirimkan utusan, mewakili PDIP, ke Surabaya, tempat digelarnya acara.

Absennya Megawati saat itu dengan alasan sibuk jelas klise dan tampak kurang relevan. Pasalnya, semua orang tentu mempunyai pekerjaan, apalagi politikus sekelas Megawati. Menghadiri undangan adalah soal skala prioritas dan penghormatan kepada yang mengundang.

Kegagalan mempertemukan Mega-SBY dalam satu forum seperti ini adalah untuk kesekian kali, kecuali pada kesempatan yang tak terelakkan alias terpaksa. Misalnya, saat meninggalnya HM Taufiq Kiemas, suami Megawati, atau saat debat kampanye Pilpres di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2004 dan 2009.

Bahkan, pada pelantikan Presiden Jokowi 20 Oktober 2014, keduanya (tak tahu siapa yang mulai) seolah mencari cara supaya tak bertatap muka. Padahal, mereka sama-sama hadir di lokasi acara sebagai tamu VVIP.

Datang lebih dulu, Megawati memilih duduk berdampingan dengan Presiden ketiga RI BJ Habibie di sisi kanan dan istri mendiang Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah, di sisi kirinya. Beberapa saat kemudian, SBY datang dan mengambil kursi yang berdampingan dengan Jokowi di atas podium Ruang Rapat Paripurna I, Gedung Nusantara.

Seusai seremoni pelantikan, Megawati beranjak dari kursinya dan menuju ruangan VVIP di lantai dasar. Sementara itu, SBY menyempatkan diri berfoto dengan Jokowi. Tak lama berselang, SBY pergi meninggalkan lokasi menuju Istana Negara. Ia akan mengikuti acara pisah-sambut dengan Presiden Jokowi di Istana tersebut.

Setelah kepergian SBY, Megawati baru menampakkan diri, keluar bersama Puan Maharani dan Pramono Anung. Mega juga bungkam ketika ditanya media tentang pertemuannya dengan SBY.

Untuk generasi bangsa, hubungan antara Megawati dengan SBY tak elok untuk ditiru. Pertarungan politik, yang seharusnya dilandasi ideologi, menjadi sekadar perseteruan yang didasari emosi, persis seperti konflik di rumahtangga atau antar tetangga versi orang-orang jelata secara intelektual.

Lebih elok jika SBY dan Mega menjalin hubungan yang harmonis sesama insan politik. Mega seharusnya dapat belajar dari sang ayah, Bung Karno. Meskipun berseberangan ideologi politik dengan tokoh-tokoh lain, hubungan insaniah dengan mereka tetaplah ramah, saling menyapa dan mengunjungi.

Permusuhan pribadi tak selaiknya diobral di muka publik. Sebagai tokoh senior, seharusnya Mega-SBY tak kekanak-kanakan dan mampu mengatasi ini. Sebab, energi kebencian yang tak masuk akal di antara keduanya dapat saja merusak agenda besar membangun bangsa.

Kata penulis Amerika, Maya Angelou (1928-2014), “Kebencian terbukti menyebabkan banyak masalah di dunia, tapi belum pernah sekali pun menjadi solusi.”

Harus dicoret dalam daftar negarawan jika keduanya menolak rekonsiliasi. Apakah mereka mau memelihara kebencian sampai mati? 

Demi persatuan bangsa, Megawati dan SBY wajib melakukan rekonsiliasi. Seharusnya keduanya malu dengan, misalnya, Prabowo dan Joko Widodo yang bisa tertawa dan naik kuda bersama meskipun habis-habisan bertarung di arena politik saat Pilpres 2014.

Suguhan ketegangan hubungan antara Megawati vs SBY, yang sudah berlangsung lebih dari satu dasawarsa, hanya membuat generasi bangsa pandai melihat konflik, tanpa tahu bagaimana menyelesaikannya.

Dilihat dari dampak relasi tersebut, sepertinya pihak yang paling berhasil meneladi keduanya adalah Habib Rizieq dan Basuki Tjahaja Purnama, yang sudah beberapa tahun berkonflik dan puncaknya dua bulan lalu.

Teladan beracun dari hubungan Mega-SBY atau Rizieq-Ahok harus segera dicarikan solusi jika tidak mau lahir pola ketegangan serupa secara berkelanjutan. Generasi bangsa lebih membutuhkan teladan yang baik dari para pemimpin, ketimbang orasi yang hanya menghasilkan busa di mulut.

Hal ini penting demi menjaga persatuan bangsa. Orang boleh saja berkompetisi: yang menghasilkan kekalahan dan kemenangan. Setelahnya, mereka harus berjabat tangan dan berkawan. Sepertinya, dua politisi senior tersebut harus dipanggilkan pelatih tinju, supaya mau berjabat tangan dan berpelukan setelah pertandingan.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
19 Mei 2017 | 12:48
Djarot: OK OCE enggak jelas