Politik

Karma Soekarno dalam rengekan Rachmawati

23.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
12 JAN 2017
Tersangka dugaan makar Rachmawati Soekarnoputri berurai air mata saat menyambangi DPR
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI - Tersangka dugaan makar Rachmawati Soekarnoputri berurai air mata saat menyambangi DPR. Di hadapan Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Supratman Andi Agtas, dan Wenny Warrouw, putri Bung Karno itu menangis tersedu berkisah soal penangkapan dirinya terkait dugaan makar pada 2 Desember 2016.

"Kami mau ke MPR menyerahkan petisi, mana persinggungannya? Kalau makar kami akan kepung Istana, tapi kami ke sini, yang katanya rumah rakyat," ucap Rachmawati sembari terisak di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, pada Selasa (10/1/2017), disaksikan banyak mata dan kamera.

Airmata Rachmawati adalah pelengkap untuk mengiba DPR supaya membantunya menyelesaikan kasus. Ia meminta dikeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus dugaan makar tersebut.

Rachmawati menyangkal dirinya hendak makar. Akan tetapi, Polda Metro bergeming, tak mempedulikan penyangkalan Rachmawati karena sudah mengantongi bukti dan saksi bahwa putri Bung Karno itu menyediakan logistik pertemuan untuk membahas upaya makar.

Penyidik tidak membutuhkan keterangan atau pengakuan Rachmawati yang telah ditetapkan tersangka permufakatan jahat atau upaya makar bersama enam orang lainnya, yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, dan Alvin Indra. Rachmawati ditetapkan sebagai tersangka dugaan makar dan permufaktan jahat berdasarkan Pasal 107 Jo 110 Jo 87 KUHP

Jika melihat ke belakang, seharusnya Rachmawati menanggapinya dengan gagah. Pasalnya, dia dan kawan-kawannya tidak ditahan dan bisa berjuang lewat pengadilan, termasuk mengadu ke DPR. Bandingkan dengan apa yang dilakukan ayahnya kepada lawan-lawan politiknya.

Presiden Soekarno memang dikenal sebagai seorang yang teguh membela martabat bangsa. Hal ini terlihat dari bagaimana dia berorasi dan menulis, atau pun dari sikapnya yang membela kedaulatan negara di mata dunia. Tak pelak seorang Bung Karno pun secara tidak langsung dijadikan sebagai ikon pejuang bangsa.

Akan tetapi, kepada lawan politik, Soekarno ketika berkuasa bukan tanpa cacat. Ada sejumlah tokoh terkenal yang harus dijebloskan ke penjara, bahkan tanpa proses peradilan. Tokoh pertama adalah Sutan Syahrir, yang tak lain adalah kawan yang kemudian menjadi lawan.

Sutan Syahrir adalah sahabat seperjuangan Bung Karno. Pascakemerdekaan Indonesia, Syahrir ikut mengambil peran membangun Indonesia sebagai perdana menteri termuda di dunia dalam usia 36 tahun. Selain itu, ia juga pernah menerima amanah sebagai Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri. Dalam karir politiknya, Sutan Syahrir merupakan pendiri Partai Sosialis Indonesia.

Sayangnya, jalan perjuangan Sutan Syahrir tak berujung manis di akhir hidupnya. Karena dituding terlibat dalam kasus PRRI, Sutan Syahrir dipenjara tanpa diadili selama tiga tahun. Ia pun meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik di Zürich, Swiss, pada 9 April 1966.

Tokoh kedua yang dipenjara Soekarno karena tidak sepaham adalah ulama kharismatik, Buya Hamka. Karakter Hamka tidak seperti Habib Rizieq yang meledak-ledak saat berorasi atau membakar emosi massa. Hamka justru dikenal santun, dengan tetap tegas memegang prinsip.

Awal mula konflik antara Buya Hamka dengan Soekarno adalah ketika Buya Hamka tidak sepakat dengan diterapkannya sistem Demokrasi Terpimpin. Singkat cerita, Buya Hamka harus merasakan hidup di balik dinding penjara dari tahun 1964 sampai 1966 tanpa proses pengadilan karena dihasut bermufakat hendak membunuh Soekarno.

Uniknya, meskipun sudah memenjarakan Buya Hamka tanpa pernah terbukti, Presiden Soekarno di akhir hayatnya berwasiat supaya yang menjadi imam shalat jenazahnya adalah Buya Hamka, dan itu dipenuhi oleh Hamka dengan tulus. 

Nama lain yang pernah dipenjara Seokarno tanpa pengadilan adalah Mochtar Lubis (1922-2004), tokoh pers yang dinilai terlalu kritis kepada rezim dan tidak mau memihak pemerintah. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa peradilan. Ia dipenjara selama 9 tahun, sejak 22 Desember 1956 sampai tumbangnya rezim orde lama di tahun 1966.

Jika melihat rekam jejak tersebut, seharusnya Rachmawati Soekarnoputri lebih tegar, sebab karma—kalau boleh disebut—yang diterima dari perbutan ayahnya tentu belum seberapa.

Kata novelis Amerika Chuck Palahniuk dalam Survivor, “Jika kamu melihat lebih dekat, sejarah tidak lain kecuali pengulangan.” Dulu Soekarno memerintahkan aparat menangkap lawan-lawan politiknya, sekarang giliran anaknya yang ditangkap. Rachmawati tidak perlu cengeng dan takut dengan penjara, sebab dulu Buya Hamka justru menghasilkan magnum opus "Tafsir Alazhar" ketika Soekarno memenjarakannya.

Terbaru
25 Februari 2017 | 20:59
60 persen dana parpol ditanggung APBN
25 Februari 2017 | 16:17
Narkoba teror menakutkan bagi bangsa
25 Februari 2017 | 15:45
Polda Jabar bentuk polisi santri
25 Februari 2017 | 15:15
Demokrasi tak pernah kebablasan
24 Februari 2017 | 18:03
Jokowi: saya cinta Muhammadiyah
24 Februari 2017 | 11:23
Hak Angket Ahok cuma gaya-gayaan DPR
24 Februari 2017 | 10:14
Gerindra yakini Angket Ahok Gate mulus
24 Februari 2017 | 10:02
Kemendagri siapkan pengganti Ahok
24 Februari 2017 | 06:00
Renyahnya gorengan isu Freeport
23 Februari 2017 | 15:22
Ahok: saya selalu salah
23 Februari 2017 | 06:00
2 aral baru bagi ahok
22 Februari 2017 | 20:23
Djarot tak kenal Iwan Bopeng
22 Februari 2017 | 17:32
Demokrasi di Indonesia kebablasan
Berita Terkait
23 Februari 2017 | 16:54
Firza Husein alami tekanan batin