Politik

Lima kondisi sebabkan Agus terjungkal

21.7K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:30
16 FEB 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

ANALISIS – Kekalahan Agus Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni semakin nyata dengan melihat berbagai hasil hitung cepat. Hasil ini sesuai dengan prediksi beberapa survei yang dilansir sekitar seminggu sebelum pencoblosan.

Agus sempat menjadi jawara dalam beberapa survei di awal proses Pilkada DKI. Namun, pelan tapi pasti, suaranya terus tergerus. Tak bisa dipungkiri bahwa Agus menjadi sasaran utama partai berkuasa saat ini. Hal ini menyebabkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapat limpahan suara dari Agus hingga 25 persen.

Dalam hitung cepat yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga riset, suara Agus-Sylvi hanya di kisaran +-20 persen, yang membuatnya mustahil untuk bisa lolos ke putaran kedua. Jika dicermati, ada sedikitnya 5 kondisi yang membuat elektabilitas Agus jeblok dalam Pilkada pertamanya kali ini.

Gagal saat debat

Agus gagal menampilkan visi-misi yang orisinal, inovatif dan fungsional saat debat resmi Pilkada yang digelar KPU, yang digelar 3 kali. Mangkirnya Agus dari beberapa debat informal di stasiun TV—yang dikatakannya lebih memilih menggunakan waktu untuk menjumpai pemilih—sepertinya dinilai sebagai bukti kurangnya persiapan Agus.

Ketika debat resmi dimulai, Agus tampak bukan lawan sepadan bagi Anies, yang berlatar akademis dan sempat menduduki jabatan menteri pendidikan. Sementara itu, Ahok adalah birokrat dan eksekutor ulung yang mampu menggulung Agus yang minim pengalaman.

Isu korupsi Sylviana

Dugaan kasus korupsi yang mengepung pasangan Agus, Sylviana Murni menjadi topik panas untuk menurunkan pamor pasangan nomor urut 1 itu. Kasus ini dieksploitasi besar-besaran oleh tim sukses lawan di lini massa, terutama kubu Ahok-Djarot.

Pertama, Sylvi diduga terlibat kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz yang berada di lingkungan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Masjid tersebut dibangun ketika Sylviana yang kala itu menjabat Wali Kota Jakarta Pusat tahun 2011. Sylviana tidak menampik bahwa dirinya turut terlibat dalam pembangunan masjid dua lantai tersebut. Namun, setelah dana cair, Rp 27 m, dia mengaku dirotasi menjadi Asisten Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta. Kasus ini berada di tangan Bareskrim Polri.

Belum usai penyelidikan kasus ini, Sylvi kembali berurusan dengan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri terkait kasus dugaan dana bansos Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2014 dan 2015 untuk Kwarda Gerakan Pramuka.

Bersalah atau tidak, isu korupsi ini telah berhasil mencoreng muka dan menggerus suara pasangan Agus-Sylvi. Yang paling diuntungkan dari isu korupsi adalah Anies-Sandi karena sebelumnya Ahok santer disebut-sebut terlibat dalam korupsi pembelian lahan rumah sakit Sumber Waras. Praktis, hanya Anies-Sandi yang masih suci.

Korupsi menteri-menteri SBY

Agus tidak bisa dilepaskan dari sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Citra baik-buruk SBY pasti lekat dengan suami Annisa Pohan tersebut.

Akhir-akhir ini ada beberapa isu yang mendera SBY, yang pasti akan berdampak negatif terhadap citra Agus dan mempengaruhi persepsi pemilih. Di saat anak SBY terlibat dalam kontestasi Pilkada DKI, dua menteri di eranya ditetapkan tersangka dan ditahan, yakni Siti Fadillah Supari dan Dahlan Iskan.

Mantan Menkes Fadilah Supari (66) disangka mendapat jatah dari hasil korupsi pengadaan Alkes I berupa Mandiri Traveller's Cheque (MTC) senilai Rp1,275 miliar pada 2007. Kasus tersebut sebelumnya ditangani oleh Polri, tapi akhirnya diambil KPK. Siti Fadilah dijerat Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 15, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 56 ayat 2 KUHP. Dia ditahan pada 24 Oktober 2016.

Sementara itu, Dahlan terjerat tiga kasus dan sudah ditahan sejak 27 Oktober 2016 karena menjadi tersangka penjualan aset milik PT Panca Wira Usaha (PWU), badan usaha milik daerah (BUMD) Pemprov Jawa Timur. Selain itu Dahlan juga menjadi tersangka dugaan korupsi pembangunan 21 gardu induk di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara oleh Kejati Jakarta. Terbaru, Dahlan ditetapkan tersangka  oleh Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung pada 2 Februari 2017 karena dugaan korupsi dalam proyek pengadaan 16 mobil listrik untuk konferensi APEC.

Hembusan isu korupsi yang simultan pasti berpengaruh terhadap citra partai Demokrat dan SBY sebagai pendukung utama Agus-Sylvi. Meskipun orang baru di dunia politik—yang memungkinkan tak punya kasus di masa lalu, Agus tetap terseret. Adalah fakta bahwa kasus-kasus seperti itu digunakan oleh para pendukung lawan, terutama paslon Ahok-Djarot, untuk melakukan serangan, yang sangat massif lewat media sosial.

Pencitraan gagal

Ada beberapa efek sinetron yang coba dimainkan SBY tetapi gagal. Pertama adalah isu penyadapan yang membuat SBY baper di medsos hingga menggelar jumpa pers. Kedua, intrik politik yang hendak dibangun SBY dengan sinetron mode adalah kesulitannya bertemu Presiden Jokowi. SBY membangun kesan seolah-olah dirinya mantan yang tak diinginkan dan disia-siakan oleh penguasa saat ini.

Ketiga, demo ratusan mahasiswa dengan jas almamater ke kediaman Presiden Indonesia ke-6 tersebut di Kuningan, Jakarta. Demo mahasiswa labil ini memang dinilai banyak pihak salah alamat sekaligus menegaskan mereka hanya dijadikan pion oleh tangan-tangan mahir dalam bermain catur politik.

Seharusnya SBY bisa memanfaatkan isu ini, namun lagi-lagi efek sinetron yang dimainkannya tampak blunder. Curhatan SBY di Twitter dan kemudian konferensi pers disoraki dan menjadi olok-olok pendukung Jokowi dan Ahok di media sosial.

Terakhir adalah umroh Agus bersama beberapa dai kondang yang anti-Ahok. Saat masa tenang, Agus kembali diserang habis-habisan lewat sejumlah foto umroh bersama beberapa ulama.. Terutama oleh pendukung Ahok, foto tersebut dijadikan peluru untuk menembak Agus yang dinilai membayar tokoh-tokoh agama lewat umroh dengan fasilitas kelas satu untuk memuluskan langkahnya menjadi gubernur. Sekali lagi, pencitraan model lama gagal total.

Ocehan Antasari

Apes bertumpuk bagi Agus, jelang hari H pencoblosan Pilkada DKI, kubunya melalui SBY harus sibuk manangkis tuduhan Antasari Azhar, bekas ketua KPK, yang sempat menjadi pesakitan.

Antasari membuat pernyataan yang pada intinya meminta SBY jujur dan terbuka tentang kasus yang pernah membawanya ke penjara. Selain itu, pria berkumis itu juga menyebut Hary Tanoesoedibjo, yang juga Ketua Umum Partai Perindo, sebagai utusan SBY yang menemuinya supaya tidak menahan Aulia Pohan, besan SBY sekaligus mertua Agus.

Pengakuan Antasari di saat panas-panasnya Pilkada menambah kebobrokan suara Agus. SBY pun menuduh jika Antasari melakukannya demi kepentingan menjegal Agus.

Bahkan hal ini diperkuat oleh pernyataan eks penasihat KPK, Abdullah Hehamahua. Dia tegas menyatakan bahwa Antasari rakus dengan jabatan. Kasusnya kemudian digunakan oleh partai penguasa untuk menggembosi suara lawan, dalam hal ini tentu Agus.

Terbaru
25 Maret 2017 | 12:06
Malaysia deportasi 43 TKI
25 Maret 2017 | 07:01
Ahok sebut Sandiaga Uno memfitnah