Politik

Di atas kertas, Ahok akan keok di putaran kedua

19.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
05:00
17 FEB 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

ANALISIS – Agus Harimurti Yudhoyono sudah mengakui kekalahannya dalam Pilkada DKI menyusul selesainya hasil hitung cepat beberapa lembaga survei, yang memang biasanya tidak akan jauh berbeda dari hasil penghitungan KPU yang akan diumumkan 3 Maret mendatang.

Pertarungan kini menyisahkan head to head antara Anies Baswedan- Sandiaga Uno melawan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, yang diperkirakan akan dilangsungkan pada April.

Semua survei memenangkan Ahok-Djarot, meskipun dengan persentase berbeda-beda. LSI Denny JA, misalnya, mendapatkan data Agus -Sylvi 16,9%, Ahok-Djarot 43,2%, dan Anies-Sandi 39,9%. Sementara itu, PolMark Indonesia menghasilkan Agus –Sylvi 19,1%, Ahok-Djarot 41,2%, Anies-Sandi 39,7%.

Dengan komposisi seperti itu, Ahok dan Anies akan bertarung secara ketat di putaran kedua nanti. Untuk menang, kedua kubu pasti akan mengincar limpahan suara pendukung Agus. Untuk mendapatkan gambaran di atas kertas siapa paling berpeluang menang, kita gunakan saja hasil survei LSI, yakni suara Agus-Sylvi 16,9%.

Pada hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pada pada kurun 28 Januari-4 Februari 2017, ada 25 persen pendukung Agus-Sylvi yang mengalihkan dukungannya kepada pasangan Anies-Sandi, hanya 9 persen yang beralih ke Ahok-Djarot, sedangkan 4 persen berubah menjadi pemilih bimbang. Agus-Sylvi hanya menyisakan 62 persen pendukung. Inilah yang menyebabkan Agus harus merana; padahal, di bulan Desember 2016, Agus adalah jawara survei dengan perolehan sekitar 31%.

Berangkat dari riset tersebut, Anies tetap berpeluang merebut mayoritas limpahan pendukung Agus dengan probabilitas kurang lebih 65,79%, sedangkan Ahok hanya 23,69%, pemilih bimbang 10,54%. Jika angka ini bertahan, ditambah dengan suara saat ini—menggunakan survei LSI, Ahok-Djarot di putaran kedua kemungkinan akan memperoleh tambahan suara 4,03%, sedangkan Anies 11.11%, dengan suara bimbang 1,78%.

Dengan cara menghitung seperti itu, Anies akan keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara sebesar 51,01%, meskipun dengan kemungkinan pemilih bimbang sebanyak 1,78% dari pemilih Agus akan mendukung Ahok.

Jika menghitung dari suara partai pendukung, saat ini Ahok-Djarot disokong oleh koalisi PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura dengan total suara 47.85% (berdasarkan hasil Pemilu 2014). Saat ini, Anies-Sandi didukung oleh PKS dan Gerindra dengan total suara sebanyak 22.41%. Namun, jika semua partai pendukung Agus (Demokrat, PAN, PKB, PPP) melimpahkan dukungan ke Anies-Sandi, suara pasangan ini akan menjadi 49.88%, jika ditambah suara PBB (1.34) akan menjadi 51.22%.

Suara partai pendukung Agus sangat mungkin untuk Anies. Meskipun PKB, PAN, dan PPP menjadi koalisi di pemerintahan, sepertinya mereka sulit untuk mengkhianati konstituen yang anti-Ahok, karena isu penistaan agama. Hal ini pun diserukan oleh ketua tim sukses Agus untuk mengalihkan dukungan ke Anies-Sandi. Dengan skenario ini, Ahok-Djarot tidak akan bisa berkutik.

Harapan Ahok untuk menang ada di PKB dan PPP yang memiliki basis massa NU. Kubu Ahok pasti mengincar suara dari sini. Selain mendekati PKB dan PPP secara formal (Demokrat dan PAN akan lebih sulit), kemungkinan kubu Ahok akan menggoreng isu bahwa Anies-Sandi dibeking oleh Islam garis keras berhaluan ideologi trans-nasional.

Bagi sebagian besar Nahdliyin, PKS dinilai sebagai lawan ideologi keislaman. Jika isu ini berhasil, warga NU kemungkinan golput, atau memilih Ahok. Pasalnya, warga NU biasanya antipati terhadap hal-hal berbau Masyumi (direpresentasikan PKS) dan lebih condong ke kelompok nasionalis semodel PDIP—hal ini memiliki basis sejarah keterlibatan NU dalam Nasakom di era Soekarno. Inilah yang akan dijadikan tumpuan kubu PDIP untuk lolos dari kekalahan.

KATA KUNCI : , , ,
Terbaru
19 Mei 2017 | 12:48
Djarot: OK OCE enggak jelas