Politik

PDIP: tudingan Hehamahua ke Mega, aneh dan ajaib

32.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:05
17 FEB 2017
Dok. Abdullah Hehamahua
Reporter
Zul Sikumbang
Sumber
Rimanews

Rimanews - Politisi PDIP, Hendrawan Supratikno menyebut tudingan mantan penasihat KPK, Abdullah Hehamahua bahwa perancang kriminalisasi Antasari Azhar adalah orang dekat Megawati sebagai tudingan yang aneh dan ajaib.

“Saya menilai absurd. Menjadi aneh bin ajaib. Apa kepentingannya. Ini semakin tidak masuk akal,” kata Hendrawan saat dihubungi Rimanews.com pagi ini.

Selasa lalu, Abdullah Hehamahua menyatakan, perancang krimininalisasi kasus mantan ketua KPK, Antasari Azhar adalah orang dekat Megawati. Pernyataan itu disampaikan oleh Abdullah setelah sehari sebelumnya, Antasari berbicara di Bareskrim dan menyatakan "kriminalisasi" dirinya dilakukan oleh SBY. Menurut Abdullah pernyataannya untuk menjawab pertanyaan banyak orang tentang kasus Antasari, dan ditulis hanya untuk kalangan terbatas tapi beredar  luas di publik.

Abdullah juga menyatakan bahwa  Antasari (saat ini) digunakan untuk meraup suara untuk memenangkan Ahok (dalam Pilkada DKI Jakarta), tapi di kubu Anies ada Chandra dan Bambang, dua mantan komisioner KPK yang lebih berprestasi di KPK dibandingkan Antasari. (baca:"Kriminalisasi Antasari dirancang orang dekat Megawati")

Menurut Hendrawan, pernyataan itu menggambarkan internal KPK tidak solid.

“Ini sepertinya bergeser ke pertarungan internal KPK. Antasari Azhar adalah ketua KPK, Pak Hehamhua penasihat KPK. Saya kuatir jangan-jangan internal KPK tidak solid, ada rivalitas dan KPK menjadi arena kepentingan,” kata dia.

Oleh karena itu, dirinya tidak ingin berkomentar lebih jauh terkait pernyataan Hehamahua itu.

“Kami menahan diri untuk tidak memberikan komentar, biarlah aparat hukum yang melakukan investigasi, melakukan penyelidikan,” kata Ketua DPP PDIP itu.

Selain itu, tambahnya, “Usai Pilkada, panggung politik penuh diksi, medsos dipenuhi dengan fitnah, prasangka, praduga, skenario-skenario yang luar biasa.”

“Jadi kami lebih baik menahan diri karena akan semakin keruh, apalagi ini menjadi bagian dari politik emosi dalam kaitan dengan pilkada. Paling tidak apa yang disampaikan memunculkan pikiran banyak orang bahwa banyak skenario-skenario yang bertarung. Jadi kita tidak bisa menilai kebenaran atau ketidakbenaran dari apa yang disampaikan Hehamahua. Biar ini jadi bahan bagi penegak hukum,” kata Hendrawan.

Terbaru
19 Mei 2017 | 12:48
Djarot: OK OCE enggak jelas