Politik

Anies-Sandi hendak di-Sylvi-kan

8.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
18 MAR 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Kita semua pasti masih ingat kehancuran pasangan Agus-Sylvi pada putaran pertama Pilkada DKI Pebruari lalu. Salah satu sebab yang menggerogoti mereka adalah kasus dugaan korupsi yang melibatkan Sylviana Murni.

Kasus yang mendadak menyeret mantan none Jakarta itu dinilai sengaja diungkap untuk menggagalkan Agus Harimurti Yudhoyono yang dalam beberapa survei sebelumnya selalu unggul.

Sylvi dihinggapi beberapa kasus. Selain tudingan korupsi dana Bansos Pramuka, dia juga disangkutkan dengan dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz yang berada di lingkungan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Kala masjid dibangun, Sylvi menjabat Wali Kota Jakarta Pusat.

Pembangunan Masjid Al Fauz dimulai dengan kontrak sebesar Rp. 27 miliar. Pembangunan sempat berhenti, tapi tahun 2011 ada tambahan anggaran lagi sebesar Rp. 5,6 miliar. Masjid itu akhirnya selesai dibangun di tahun itu juga. Menurut temuan BPK, ada kelebihan anggaran sebesar Rp. 108 juta dari pembangunan Masjid Al Fauz tahun 2011.

Sylviana sendiri tidak menampik bahwa dirinya turut terlibat dalam pembangunan masjid dua lantai itu. Namun, setelah dana cair, Rp 27m tersebut, dia mengaku dirotasi menjadi Asisten Pemerintahan Pemprov DKI Jakarta. Kasus ini berada di tangan Bareskrim Polri.

Dugaan bahwa uar-uar kasus tersebut tak bisa dilepaskan dari Pilkada DKI sepertinya terbukti dengan melempemnya penyebarluasan isu tersebut, terutama oleh kubu lawan politik. Berita dugaan korupsi Sylvi mendadak raib; padahal, dulu sangat massif dijadikan bahan cacian di media sosial.

Seperti kasus Sylvi yang tampak sengaja ditahan untuk menunggu momentum, hal serupa agaknya ingin diulang terhadap paslon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Titik tekannya pasti bukan pada kasus, tetapi dijadikannya isu tersebut sebagai bara serangan di media sosial guna merusak citra.

Kasus dugaan pencemaran nama baik yang dituduhkan dilakukan oleh Sandi dkk terjadi pada 7 November 2013 lalu, tapi baru diungkap sekarang, pasti tidak semata-mata demi mencari keadilan. Akan tetapi, pengungkapannya jelas memanfaatkan momentum Pilkada, untuk menggembosi citra Sandiaga.

Kasus ini pun seolah sengaja disimpan sebagai kartu truf, karena baru kembali dibuka pada Maret 2017 bertepatan dengan dimulainya putaran kedua Pilkada DKI. Sandiaga pribadi mengaku bahwa dirinya dalam permasalahan tersebut, tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP).

Sebelum itu, muka Anies juga diplot untuk dicoreng melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Kamerad) yang menggelar aksi di depan kantor KPK pada 30 Januari lalu. Oleh elemen mahasiswa ini, Anies dituduh menerima transfer dana dari Abdillah Rasyid Baswedan dalam kasus proyek Vsat.

Abdillah sempat dipanggil KPK untuk dimintai keterangan terkait dugaan korupsi proyek Vsat atau komunikasi jarak jauh berbasis satelit di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tahun 2012.

Isu-isu yang tampak dipaksakan tersebut tentu bukan semata-mata karena ingin menuntut keadilan, tapi ada kepentingan politis yang menyertainya.

Tujuannya tentu ingin menggagalkan langkah politik Anies-Sandi. Kasus hukum seperti ini memang tak bisa dianggap sepele, bukan pada besar-kecil kesalahan di mata pengadilan, tetapi pada citra. Bukti paling konkret adalah Agus-Sylvi yang tumbang, yang salah satunya, akibat bullying karena diduga terseret korupsi.

Terbaru
21 Juli 2017 | 07:31
DPR sahkan UU Pemilu
20 Juli 2017 | 06:00
Keajaiban Setya Novanto
18 Juli 2017 | 11:04
Nurdin Halid: Golkar tetap solid
17 Juli 2017 | 12:24
DPR bahas Perppu Ormas siang ini
13 Juli 2017 | 13:09
Perppu Ormas sudah masuk DPR
13 Juli 2017 | 08:13
HTI: Rezim Jokowi diktator
13 Juli 2017 | 06:00
Riwayat HTI usai Perppu Ormas