Politik

Memalukan jika Anies sampai kalah

18.9K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
21 MAR 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Sampai saat ini, hanya Pilkada DKI yang di dalamnya penggunaan berbagai cara tampak legal untuk memenangkan calon, terutama permainan isu SARA.

Dalam situasi penuh konflik seperti ini, kubu Ahok segera mencitrakan diri sebagai tokoh protagonis, sedangkan kubu Anies-Sandi tampak dikesankan antagonis alias pencipta konflik dalam sebuah drama.

Saat pemilu putaran pertama, kelompok antagonis terbagi dua, yakni membela Agus-Sylviana dan Anies-Baswedan. Karena Pilkada kini hanya menyisakan dua pasang kandidat, mereka lebih kompak untuk mendukung Anies, asal bukan Ahok.

Ahok dijadikan sasaran mulai dari demo mengawal fatwa MUI terkait dugaan penistaan oleh Ahok hingga gerakan Tamasya Al Maidah yang akan digelar saat pencoblosan. Pendukung Ahok pun diancam tidak disalatkan jenazahnya jika meninggal.

Untuk menarik simpati massa dari kubu anti-Ahok, Anies pun harus repot-repot memberikan klarifikasi, terutama kaitannya dengan Islam liberal. Sebagaimana diketahui, pegiat Islam liberal banyak berdiri di belakang Ahok, kecuali Ulil Abshar Abdalla yang berpihak pada Agus Harimurti Yudhoyono. Di hadapan massa FPI, Anies mengaku sebagai orang yang melakukan "bersih-bersih" paham tersebut di Universitas Paramadina kala menjabat rektor.

Untuk memperkokoh kakinya, Anies pun harus membuka tangan untuk berangkulan dengan keluarga Cendana. Hal itu ditegaskan saat peringatan Supersemar di masjid Attin, TMII, Jaktim 11 Maret lalu. Sebelumnya, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto secara terang-terangan mengaku harus berseberangan dengan Partai Golkar, yang dalam Pilkada kali ini mendukung Ahok.

Keluarga Cendana saat ini mempunyai tunggangan politik baru bernama Partai Berkarya, yang digawangi Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Partai ini memanfaatkan emosi yang sering bernostalgia dengan Orde Baru yang menurut mereka sebagai era yang murah, aman dan stabil.

Selain itu, Anies juga tampak berubah sikap terkait reklamasi. Dalam kampanye maupun debat pada putaran pertama, Anies mengaku menolak reklamasi karena dinilai bentuk ketidakadilan. Namun, belakangan, Anies mengendur. Terakhir, Anies Baswedan mengaku akan mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada dalam mengambil setiap kebijakan, termasuk soal reklamasi. Dia menegaskan akan taat pada putusan pengadilan dan peraturan pemerintah karena reklamasi bukan proyek pribadi.

Di atas kertas, Anies-Sandi untuk sementara unggul. Lembaga penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny Januar Ali merilis laporan survei elektabiltas kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan mengikuti pemilihan putaran kedua 7 Maret lalu.

Pasangan Anies-Sandi meraih suara 49,7 persen atau unggul sekitar 9 persen dibanding pasangan Ahok-Djarot yang mendapat 40,5 persen, sedangkan sisanya masih ragu-ragu. Data didapat dari survei tatap muka yang digelar LSI pada 27 Februari sampai 3 Maret 2017.

LSI mewawancarai 440 responden yang tersebar di seluruh Jakarta dan Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan tingkat margin error sebesar 4,8 persen.

Sebanyak 63,3 persen pendukung Agus-sylvi akan beralih ke pasangan Anies-Sandi. Hanya 12,3 persen pendukung Agus yang beralih ke pasangan Ahok-Djarot.

Dari survei tersebut diketahui jumlah pemilih Muslim Jakarta yang mendukung Ahok hanya 36 persen. Lalu, dibandingkan dengan pemilih non-Muslim, pasangan Ahok-Djarot unggul 86,58 persen dan pasangan Anies-Sandi mendapat 3,65 persen.

Dari rekam jejak di atas, tentu sangat memalukan jika Anies sampai kalah—terlalu banyak yang sudah dikorbankan. Emosi warga pun, tak hanya di Jakarta, sangat terkuras gara-gara pertarungan politik di DKI ini.

Terbaru
21 April 2017 | 18:15
Anies ajak warga bersatu
21 April 2017 | 10:06
Ahok keok, PPP Romi gaduh
21 April 2017 | 08:18
Anies: Jakarta baru dimulai
21 April 2017 | 06:00
Baju kotak-kotak hilang kesaktian
20 April 2017 | 20:04
Anies: Ahok sangat terbuka
20 April 2017 | 06:50
Nomor dua: dua hari dua apes
20 April 2017 | 00:25
Ahok-Djarot keok, ini pemicunya