Politik

Anies menang, surga di lantai tujuh hilang?

25.1K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
20 APR 2017
Penulis
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

OPINI – Gubernur DKI yang baru, menurut hasil quick count, Anies Baswedan pernah bernjanji akan menutup tempat hiburan malam Alexis jika memegang kuasa di Jakarta.

Anies mengatakan, tempat yang dikenal dengan spesialisasi penyedia pekerja seks dari mancanegara itu selama ini selalu lolos karena pembuat aturannya hanya diam.

"Ya, ya (ditutup). Saya sampaikan kita sudah kerja susah-susah, narkoba dibiarkan begitu saja. Rusak semuanya. Karena itu, kita serius kemarin," ujar Anies di Jakarta, 14 Januari 2017.

Anies saat itu juga dengan lantang menyinggung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang tegas menggusur, tetapi melempem untuk urusan prostitusi di Alexis.

Anies juga mengkritik Ahok yang tidak memiliki ketegasan terhadap lapisan menengah ke atas yang melanggar aturan. "Prostitusi kelas tinggi aturannya A, B, C, enggak bisa bertindak. Di mana pegangan nilainya?" masih mengutip pernyataan Anies yang sempat meramaikan pemberitaan.

Tempat hiburan Alexis sempat menjadi berita nasional akibat Gubernur Ahok menggelarinya dengan surga dunia.

"Di Alexis itu lantai tujuhnya surga dunia loh. Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi di lantai tujuh," kata Ahok 16 Pebruari 2016.

Tak berani mengusik Alexis, Ahok pun dituduh tebang pilih. Akan tetapi, Ahok beralasan tidak mudah mendapatkan bukti otentik adanya praktik prostitusi berkedok hotel berbintang itu.

Ahok berkilah bahwa di apartemen Kalibata City juga ada. Dia sempat menantang: jika ada pihak yang rela menyusup dan memfoto adanya praktik prostitusi di tempat-tempat mewah di Jakarta, dia akan menjadikannya dasar untuk melakukan tindakan.

Akan tetapi, meskipun benar-benar ada hotel yang terbukti menjalankan pratik prostitusi, Ahok tidak mau langsung menutup bisnis mereka.

"Saya katakan saya enggak pernah mau tutup karena ada prostitusi, seperti di apartemen, hotel. Ketangkap tidak yang kemarin artis di hotel. Ketangkap toh? Kalau begitu mesti tutup hotelnya tidak? Tidak bisa," kata Ahok saat itu.

Saat disindir seterunya, Abraham Lunggana atau Haji Lulung, bahwa gubernur tak adil terhadap Alexis (padahal Kalijodo digusur), Ahok menjawab dengan percaya diri bahwa penutupan tidak mungkin.

"Itu nggak mungkin bisa! Nggak usah hotel deh, emang kamu kira rumah nggak ada perzinahan? Kan terbukti itu hotel-hotel mewah. Nah itu kita nggak mau tanggung," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, 13 Pebruari 2016.

Inilah yang di kemudian hari dijadikan salah satu materi kampanye Anies untuk melawan Ahok. Dengan dalih penegakan akhlak dan pemberantasan maksiat, Anies pun berani sesumbar akan menutup Alexis.

Saat isu Alexis ramai pada Pebruari 2016, Komisi III DPR RI sempat menindaklanjuti dengan melakukan sidak, dengan dasar dugaan perdagangan orang. Beberapa legislator fokus pada para pekerja asing yang mengumpulkan rupiah di sana.

Simpulan dari inspeksi panitia kerja penegakan hukum DPR tersebut adalah para WNA terapis di Hotel Alexis itu telah memegang surat bekerja dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan kata lain,  tidak ada masalah dengan bule-bule yang lalu lalang di tempat hiburan di hotel bintang tiga itu.

Jadi, intinya, tidak ada masalah terkait Alexis menurut peraturan yang berlaku. Oleh sebab itu, jika DPR saja menyatakan legalitas praktik hiburan di dalam hotel tak masalah, apakah Anies berani mempermasalahkannya? Ini adalah tanyaan banyak pihak yang harus dijawab oleh Anies mulai 5 Mei mendatang, saat KPU akan mengumumkan secara resmi kemenangannya.

Terbaru
15 Juni 2017 | 14:53
Usai dilantik, Djarot temui Ahok
13 Juni 2017 | 15:09
DPR berhak mengawasi KPK
9 Juni 2017 | 18:28
Djarot dilantik 15 Juni
Politik