Politik

Ahok-Djarot keok, ini pemicunya

30.8K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
00:25
20 APR 2017
Dok. Ahok-Djarot saat konferensi pers usai pemungutan suara putaran dua
Editor
Dede Suryana
Sumber
Antara

Rimanews - Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul dari pesainya Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada putaran kedua, berdasarkan hasil quick count beberapa lembaga survei. Apa pemicunya?

"Mesin politik Ahok-Jarot tidak bergerak efektif. Secara kuantitas sebenarnya mesin politik Ahok-Djarot mengungguli pasangan Anies-Sandi karena Ahok-Jarot didukung enam partai politik dan mantan relawan yang teruji pada Pilkada 2012. Sayang, modal kuantitas tersebut tidak mampu bekerja efektif," ujar Analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun dalam keterangan persnya, hari ini. 

Berdasarkan hitung cepat Voxpol Center hingga pukul 18.06 WIB, Anies-Sandiaga memperoleh 59,4 persen atau 18,8 persen lebih besar dari Ahok-Djarot yang memperoleh 40,6 persen. Hasil quick count Indo Barometer pada 16.57 WIB tak jauh berbeda. Lembaga survei juga menempatikan Anies-Sandiaga berada di posisi atas dengan 58,5 persen atau 17 persen di atas Ahok-Djarot yang memperoleh 41,5 persen suara.

Ubed menjelaskan, pola kampanye Ahok-Djarot terbaca oleh mesin politik pasangan Anies-Sandi, yakni pola konvensional, seperti kegiatan baksos, sembako murah, dan sembako gratis. Padahal hal ini tidak efektif lagi mempengaruhi secara luas pemilih Jakarta yang mayoritas pemilih rasional.

Selain itu, sambung Ubedilah, ada pula pola kampanye melalui dunia maya yang menggambarkan pasangan Ahok sebagai korban diskriminasi dan intoleransi. Cara ini tak mampu mengubah cara pandang mayoritas masyarakat Jakarta.

"Termasuk pola 'kampanye udara' yang cenderung menggunakan pola playing victim sebuah kampanye melalui dunia maya untuk menggambarkan pasangan Ahok-Jarot sebagai korban diskriminasi dan intoleransi tidak mampu merubah cara pandangan warga Jakarta secara mayoritas," kata dia.

Gaya komunikasi publik Ahok juga ditengarai sebagai salah satu faktor kekalahan pasangan Ahok-Djarot. Dalam konteks sosiologis politik, Ubedillah menilai, cara komunikasi santun jauh lebih diterima warga Jakarta.  

"Tidak sedikit pernyataan-pernyataan Ahok di hadapan publik menimbulkan kemarahan massa, di antaranya yang paling fenomenal adalah terkait pernyataanya mengenai Almaaidah 51 di Kepulauan Seribu pada September 2016," tutur dia.

Faktor lainnya, pasangan Ahok-Djarot kurang menggunakan modal finansial secara efektif, padahal dukungan finansial mereka sangat melimpah.

"Ini bisa dicermati dari pembiayaan yang besar untuk imaging politic melalui media masa dan media sosial, tetapi tidak berbuah pada meningkatnya elektabilitas Ahok-Jarot. 'Kampanye udara' yang berbiaya besar nampak lebih diutamakan dibanding 'kampanye darat' yang sesungguhnya bisa lebih efektif dengan menggerakkan mesin politik secara kultural," papar Ubedilah.

Terakhir, tindakan para relawan atau simpatisan Ahok-Djarot menjelang putaran kedua, salah satunya video kampanye yang mengesankan umat Islam intoleran (lakukan kekerasan).

"Ini menimbulkan kesan negatif terhadap pasangan Ahok-Jarot yang justru mengurangi elektabilitasnya. Video kampanye Ahok-Jarot yang menggambarkan umat Islam yang keras dan intoleran justru meningkatkan militansi pemilih muslim Jakarta karena umat merasa disudutkan," jelas Ubedilah.

Terbaru
27 April 2017 | 16:40
Petinggi Golkar tidak solid
27 April 2017 | 15:29
500 antrean untuk jumpa Ahok
27 April 2017 | 07:20
"Penyidik KPK zalim dan sembrono"
26 April 2017 | 20:34
Gerindra tolak hak angket KPK