Politik

Tjahjo Kumolo bantah sebar data e-KTP Veronica Koman Liau

4.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
09:02
14 MEI 2017
Tjahjo Kumolo
Editor
Abdullatif Assalam
Sumber
Antara

Rimanews - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menolak meminta maaf ataupun mengklarifikasi atas tuduhan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena menyebarkan data e-KTP orator pendukung terpidana penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Veronica Koman Liau, yang mengkritik pemerintahan Joko Widodo saat berdemo.

Tjahjo mengatakan, apa yang dilakukannya saat menunjukkan data Veronica yang disebutnya telah melakukan fitnah terhadap Presiden Jokowi hanyalah melayani permintaan wartawan yang saat itu menanyakan identitas pendukung mantan Ahok.

"Saya tidak merasa menyebarkan," katanya, usai menghadiri acara Rapat Pimpinan Nasional Persatuan Perangkat Desa Indonesia 2017 di Tulungagung, Sabtu (13/05/2017).

Ia lalu menceritakan kronologi munculnya data warga dimaksud.

"Waktu itu wartawan di Kemendagri tanya bapak apa mau kirim surat, saya jawab iya, saya mau kirim surat. Lalu ditanya lagi, apa bapak sudah punya datanya, dan (saya sampaikan) udah ada, ini lo buktinya. Setengah jam selesai kita cari orangnya, ya, sudah," papar Mendagri.

Menurut Tjahjo, apa yang dia lakukan saat itu bukan bentuk penyebaran melainkan hanya sebatas melayani pertanyaan wartawan terkait data.

"Itu bukan penyebaran, wong data kok. Anda tanya data kan boleh saja. Saya kalau tanya Anda tidak mau kan bisa saja saya cek, wong di data kami lengkap kok, sepanjang yang bersangkutan sudah melakukan perekaman maka mudah saja melacak datanya," kata Tjahjo.

Dia menambahkan, wajar bila seseorang marah ketika difitnah atau merasa terhina.

"Kalau Anda saya fitnah, marah tidak. Dia menuduh rezim pemerintahan Jokowi, dikaitkan dengan konteks urusan hukum Ahok. Saya anak buah Pak Jokowi, saya bagian dari rezim Pak Jokowi. Saya hanya ingin mempertanyakan dan mengklarifikasi pada yang bersangkutan, apa maksud orasinya," kata Tjahjo.

"Demokrasi yang mana. Kalau orang tua Anda saya maki-maki, marah tidak Anda. Mengkritik boleh, memberi masukkan boleh, saran boleh. Seorang polisi, jika Kapolrinya dimaki-maki orang pasti marah kok dia. TNI, Satpol PP, kalau pak bupati, pak gubernurnya dimaki-maki oleh warga pasti marah kok. Pakai cara yang baik dong. Apa hubungannya empati kepada Pak Ahok kok dikaitkan-kaitkan dengan rezim Jokowi. Kan tanya boleh apa to maksudnya," kata Tjahjo.

Ia mengatakan, sejauh ini dirinya sudah berkomunikasi dengan Veronica yang diduga melecehkan kepala negara dengan menuding rezim Jokowi lebih buruk dibanding rezim Susilo Bambang Yudhoyono.

"Dia sudah SMS saya, sudah mengklarifikasi yang dia maksud, tapi masih belum lengkap," katanya.

Tjahjo menjelaskan, dirinya selaku pembantu Presiden Jokowi hanya ingin mengklarifikasi pernyataan Veronica yang tendesius.

"Kami ingin dengar apa urusan dia membela Pak Ahok yang sudah divonis pengadilan. Negara kita negara hukum. Hakim bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan kepada Presiden. Lah kok dia menghujat, (katanya) dihukumnya Pak Ahok karena rezim Jokowi. Apa yang dimaksud itu," kata Tjahjo.

Terbaru
15 Juni 2017 | 14:53
Usai dilantik, Djarot temui Ahok
13 Juni 2017 | 15:09
DPR berhak mengawasi KPK
9 Juni 2017 | 18:28
Djarot dilantik 15 Juni
Politik