Politik

Gerindra: penolakan terhadap Fahri bentuk penghinaan negara

12.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
08:07
15 MEI 2017
Dok: demo anarkis menolak Fahri Hamzah
Editor
Dhuha Hardiansyah
Sumber
Rimanews

Rimanews - Wakil ketua umum Partai Gerindra, Edhy Prabowo menilai aksi penolakan terhadap kedatangan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah di Sulawesi Utara adalah bentuk penghinaan kepada negara dan melukai Pancasila.

“Penghinaan kepada simbol negara karena kedatangan Saudara Fahri Hamzah ke sana sebagai pejabat tinggi negara yang sah dan diakui undang-undang, dan kedatangan Saudara Fahri juga dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi sesuai yang diamanatkan rakyat kepadanya,” katanya secara tertulis, Senin (15/05/2017).

Sebelumnya, kedatangan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ditolak oleh massa saat berkunjung ke Manado, Sabtu (13/5/2017). Fahri harus membatalkan sejumlah agendanya karena situasi yang tak kondusif. Massa yang berkumpul sejak pagi di Bandara Sam Ratulangi memaksa Fahri harus melewati jalan alternatif lewat belakang Bandara untuk tiba di Kantor Gubernur Sulut.

Edhy melanjutkan, bandara merupakan aset dan simbol ekonomi negara yang memiliki aturan. Tidak dibenarkan apabila sekelompok orang bisa dengan mudah memasuki ruangan bahkan hingga kawasan lepas landas (apron) bandara, karena dapat mengganggu aktifitas penerbangan dan ketertiban.

“Aksi penolakan kedatangan Saudara Fahri Hamzah juga mencederai nilai-nilai Pancasila. Selain merusak kedamaian dan kebhinekaan, tindakan tersebut juga berpotensi menular ke daerah lain. Hal itu amat sangat disayangkan,” kata politisi yang juga ketua Fraksi Gerindra MPR RI itu.

Menurutnya, negara memperbolehkan demonstrasi sebagai bentuk berdemokrasi. Namun, cara-cara yang dilakukan harus sesuai dengan norma berbangsa, tidak melanggar hukum dan tidak menabrak undang-undang yan berlaku.

“Mengacung-acungkan senjata tajam dan menerobos lingkungan bandara sangat tidak dibenarkan secara hukum dan tidak mencerminkan demokrasi yang baik,” katanya.

Edhy meminta dan menuntut pihak kepolisian untuk bertanggungjawab dan mengusut aktor intelektual aksi yang dapat mengancam keutuhan berbangsa tersebut.

“Selain itu, saya juga mengimbau kepada masyarakat agar dapat menahan diri dan tidak terprovokasi. Mari bersama kita menjaga kedaulatan Bangsa dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Bersama kita pupuk kedamaian dan persatuan dalam bernegara. Bersama kita menjaga Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Terbaru
19 Mei 2017 | 12:48
Djarot: OK OCE enggak jelas