Politik

Gerindra bakal buntung usung La Nyalla di Pilgub Jatim

4.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
06:00
06 JUL 2017
Penulis
Dhuha Hadiansyah
Sumber
Rimanews

Analisi – Partai Gerindra melirik Ketua Umum Kadin Jawa Timur La Nyalla Mattalitti sebagai salah satu figur yang tengah dibidik untuk mengikuti Pemilihan Gubernur Jatim tahun 2018.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal DPP Gerindra Andre Rosiade, dalam dunia politik, La Nyalla merupakan salah satu tokoh yang dinilai berjasa dalam upaya untuk memenangkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014.
La Nyalla pun diminta segera meningkatkan popularitas dan elektabilitas di kalangan masyarakat melalui beberapa langkah strategis melalui promosi program kerja yang menarik sesuai dengan problematika yang terjadi di Jatim.

La Nyalla sendiri membulatkan tekad siap bertarung di Pilkada Jatim 2018 dengan menemui sejumlah petinggi partai di Jakarta dalam rangka menggalang dukungan saat momen idul fitri minggu lalu.

Sejumlah tokoh yang telah ditemui La Nyalla antara lain Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat (PAN) Amien Rais dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Mantan ketua umum PSSI tersebut juga menggalang dukungan kultural seperti mendekati Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) Usamah Hisyam, dan pengasuh Ponpes Al-Islah Bondowoso KH Mashum.

Potensi kemenangan La Nyalla nyaris mustahil

Pilkada memilih Gubernur-Wakil Gubernur Jatim 2019-2024 dijadwalkan berlangsung 27 Juni 2018 yang dilakukan serentak bersama 18 kabupaten/kota di Jatim.

Selain nama La Nyalla, beberapa nama disebut-sebut maju sebagai calon Gubernur, antara lain Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa, sedangkan di posisi calon Wakil Gubernur terdapat nama Kusnadi, Budi Sulistyono, Nurwiyatno dan Hasan Aminuddin.

Berhadapan dengan Saifullah atau Khofifah, La Nyalla jelas bukan lawan sepadan. Jika ingin menang, Gerindra (atau bahkan PAN) tentu hanya membuang peluang dengan mengusung pria yang baru-baru ini terpilih sebagai ketua Pemuda Pancasila Jatim itu sebagai calon gubernur.

Selain Jawa Timur sebagai basis NU kultural yang akan lebih memilih kadernya, ada kondisi yang bakal membuat La Nyalla kesulitan, yakni kasus dugaan korupsi yang belakangan melibatkan dirinya.  

Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta memang membebaskan mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur La Nyalla Mahmud Mattalitti dari semua dakwaan dalam perkara korupsi penggunaan dana hibah pengembangan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada 27 Desember 2016. Akan tetapi, masyarakat belum lupa dan kasus ini bisa menjadi titik serangan bagi lawan.

Dalam perkara ini, jaksa menuntut hakim menjatuhkan hukuman enam tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan dan kewajiban membayar uang pengganti Rp1,1 miliar kepada La Nyalla karena dituduh mengorupsi dana hibah pengembangan ekonomi Provinsi Jawa Timur sehingga merugikan keuangan negara sampai Rp26,654 miliar.

Dalam putusannya, majelis hakim yang terdiri atas Sumpeno, Baslin Sinaga, Mas'ud, Sigit dan Anwar menyatakan bahwa La Nyalla tidak terbukti merugikan keuangan negara.

KPK incar La Nyalla?

Pada Januari 2017, Kejaksaan Agung bekerja sama dengan KPK menyiapkan pengajuan kasasi atas putusan bebas La Nyalla. Kejaksaan berharap Mahkamah Agung dapat memutus perkara tersebut dengan adil. Usulan kasasi tersebut diinisiasi oleh Jaksa Agung Prasetyo (kader NasDem).

KPK sendiri menyatakan sejak awal melakukan supervisi kasus La Nyalla. Prinsipnya KPK tetap membantu tindak lanjut putusan bebas dalam penyusunan memori kasasi.

KPK, melalui Koordinator Unit Koordinasi Supervisi Penindakan Mochamad Rum, pernah menyatakan keyakinan bahwa bahwa La Nyalla melakukan tindak pidana korupsi.

Pernah Buron

Saat ditetapkan menjadi tersangka korupsi IPO Bank Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti kabur ke Singapura. Rekening bank milik La Nyalla juga pernah dibekukan karena kasus tersebut.
Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan La Nyalla sebagai tersangka korupsi hibah Rp5 miliar yang diduga digunakan untuk membeli saham Bank Jatim pada 2012. La Nyalla telah tiga kali tidak menghadiri panggilan kejaksaan untuk diperiksa. Lalu pada 17 Maret 2016, La Nyalla meninggalkan Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta menuju Malaysia dan lalu ke Singapura.

La Nyalla akhirnya pulang ke tanah air setelah ditangkap petugas Imigrasi Singapura pada akhir Mei 2016. Dia ditangkap karena izin tinggal sudah melebihi 40 hari. Setelah ditangkap, La Nyalla kemudian diserahkan ke petugas Imigrasi Indonesia di Kedutaan Besar RI di negara itu. Dia dipulangkan lewat Bandara Soekarno Hatta dan langsung ditadahi petugas dari Kejaksaan Agung dan staf Kemenkum HAM untuk ditahan.

Melihat rekam jejak yang seperti itu, mengusung La Nyalla hanya akan merusak citra partai. Gerindra sebaiknya mengurungkan niat mendaulatnya menjadi salah satu calon pemimpin sebelum dihukum masyarakat Jawa Timur pada pemilu 2019.

Terbaru
20 Juli 2017 | 06:00
Keajaiban Setya Novanto
18 Juli 2017 | 11:04
Nurdin Halid: Golkar tetap solid
17 Juli 2017 | 12:24
DPR bahas Perppu Ormas siang ini
13 Juli 2017 | 13:09
Perppu Ormas sudah masuk DPR
13 Juli 2017 | 08:13
HTI: Rezim Jokowi diktator
13 Juli 2017 | 06:00
Riwayat HTI usai Perppu Ormas
10 Juli 2017 | 18:02
Yusril: DPR berhak bubarkan KPK