Jumlah BUMN berkurang 44 dalam 14 tahun, mengapa?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Jumlah BUMN berkurang 44 dalam 14 tahun, mengapa? Perkembangan jumlah BUMN. (Sumber: bumn.go.id)

Dari sebanyak 159 di tahun 2004, jumlah BUMN (badan usaha milik negara) saat ini menyusut menjadi 115 saja. Bagaimana ceritanya sehingga hal tersebut terjadi?

Dari penelusuran di sepanjang 14 tahun kiprah perusahaan yang seharusnya menjadi tulang punggung pemasukan negara ini, penyebab berkurangnya BUMN cukup beragam: mulai dari likuidasi atau pembubaran, berubah status badan hukum, hingga disatukan ke dalam perusahaan induk atau holding.

Untuk profil perusahaan BUMN lebih detil, seperti ini rinciannya:

2004-2005

Jumlah BUMN pada akhir 2005 berkurang sebanyak 19 buah dari sebelumnya 159. Hal ini terjadi karena:

1. Sebanyak 14 perusahaan jawatan (Perjan) berubah badan hukum menjadi Badan Layanan Umum (BLU).
2. Sejumlah 4 BUMN Perikanan dimerger menjadi PT Perikanan Nusantara (Persero).
3. PT Asean ACeh Fertilizer dilikuidasi berdasarkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 17 September 2005.
4. PT TVRI berubah status badan hukum menjadi Lembaga Penyiaran Publik di bawah Departemen Komnikasi dan Informatika.

2006-2007

Pada akhir 2007, jumlah BUMN bertambah satu menjadi 141:

1. Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang semula BLU menjadi BUMN dalam bentuk Perusahaan Umum (Perum)
2. PT Jasa Marga dan PT Wijaya Karya berubah status badan hukum menjadi Persero Tbk.

2007-2008

Pada akhir 2008, jumlah BUMN bertambah 1 menjadi 142:

1. PT Asuransi Kredit Indonesia dan PT Bahana PUI berubah status badan hukum menjadi BUMN dalam bentuk Persero setelah saham Bank Indonesia dihibahkan kepada pemerintah
2. PT Industri Soda Indonesia dilikuidasi berdasarkan PP Nomor 70 Tahun 2008.

2008-2009

Pada akhir tahun 2009, jumlah BUMN menyusut menjadi 141:

1. PT Bank Ekspor Indonesia berubah status badan hukum menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor berdasarkan UU nomor 2 Tahun 2009.
2. PT Bank Tabungan Negara berubah status badan hukum menjadi Persero Tbk.

2009-2010

Jumlah BUMN pada akhir tahun 2010 sama seperti tahun sebelumnya. Namun, ada perubahan status badan hukum PT Pembangunan Perumahan dan PT Krakatau Steel menjadi Persero Tbk.

2010-2011

Jumlah BUMN pada akhir tahun 2011 berkurang satu menjadi 140:

1. PT Bahtera Adhiguna menjadi anak perusahaan PT PLN melalui inbreng saham pemerintah.
2. PT Garuda Indonesia berubah status badan hukum menjadi Persero Tbk.

2011-2012

Jumlah BUMN pada akhir tahun 2012 tidak berubah dari tahun sebelumnya:

1. Pada 2012 pemerintah membentuk Perum Lembaga Penyelenggaran Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI)
2. Pengalihan saham pemerintah pada PT Nindya Karya kepada PT PPA sesuai PP Nomor 69 Tahun 2012 sehingga PT Nindya Karya menjadi perusahaan minoritas
3. Perum Pegadaian berubah status badan hukum menjadi Persero dan PT Waskita Karya menjadi Persero Tbk.

2012-2013

Pada akhir tahun 2013, jumlah BUMN berkurang satu menjadi 193:

1. Saham pemerintah pada PT Sarana Karya dijual kepada PT Wijaya Karya.
2. Saham pemerintah pada PT Rukindo di-inbreng-kan kepada PT Pelabuhan Indonesia II
3. PT Inalum menjadi Persero setelah pemerintah mengambil alih mayoritas saham dari konsorsium perusahaan Jepang.
4. PT Semen Baturaja berubah status badan hukum menjadi Perseor TBk.

20013-2014

Pada akhir tahun 2014, jumlah BUMN berkurang sebanyak 20 buah atau menjadi 119:

1. Sebanyak 2 BUMN beruba status badan hukum menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), yakni PT Askes menjadi BPJS Kesehatan dan PT Jamsostek menjadi BPJS Ketagakerjaan.
2. Sejumlah 14 BUMN yang bergerak di sektor perkebunan dilebur menjadi 1 holding BUMN Perkebunan
3. Sebanyak 6 BUMN Kehutanan menjadi 1 holding BUMN Kehutanan.

2014-2015

Pada akhir 2015 jumlah BUMN berkurang satu buah karena PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) merger ke dalam PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) sesuai risalah RUPSLB pada 15 Desember 2015.

20016-2017

Jumlah BUMN berkurang 3 buah menjadi 115 karena adanya holding BUMN Pertambangan pada 29 November 2017, yaitu pengalihan saham negara pada PT Antam (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk kepada PT Inalum (Persero).

Prabowo ungkit impor beras, ini pembelaan kubu Jokowi
BPN: Jateng vs Malaysia hanya majas
Begini keseruan debat Jokowi dan Prabowo soal caleg mantan napi korupsi
Ruhut nilai SBY setengah hati dukung Prabowo
Fadli Zon sebut Jokowi terlalu dominan dalam debat
Kubu Jokowi nilai Prabowo gagal paham isu terorisme
Kubu Prabowo nilai dapat serangan pribadi saat debat
Tak dibahas di debat Pilpres, ini kata kubu Prabowo soal kasus Novel
TKN: Jokowi beri pukulan telak ke Prabowo
KPU akan evaluasi pelaksanaan debat pilpres
Legislator minta pemerintah perhatikan disabilitas rungu
PPP: Jokowi menang 3-1 atas Prabowo di debat pertama
Ini komentar AHY soal penampilan Prabowo-Sandi dalam debat
Kubu Prabowo dan Kubu Jokowi saling kritik penampilan Capres-Cawapres dalam debat
Ma'ruf Amin tak banyak bicara dalam debat, ini kata kubu Jokowi
Fetching news ...