Mengapa perasaan harus diungkapkan?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengapa perasaan harus diungkapkan?

Banyak orang merasa takut untuk mengungkapkan perasaan yang mereka miliki: sedih, kecewa, takut, marah, tidak suka, riang, bahagia, sayang, dll. Mereka kuatir perasaan tersebut jika diungkapkan akan mengubah penilain orang terhadap diri mereka.

Betul bahwa orang-orang kerap menilai kita dari perasaan yang kita miliki. Akan tetapi, sejatinya setiap perasaan itu netral atau normal belaka. Artinya, semua perasaan seharusnya dapat diterima: tindakan dari perasaanlah yang harus dibatasi. 

Jika Anda marah karena ada pekerjaan yang tidak terselesaikan dengan baik, perasaan ini wajar diungkapkan. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengungkapkannya: mengamuk, banting kursi, lempar gelas, atau mengumpat? Yang terakhir inilah yang harus diperhatikan.

Terapis disfungsi keluarga Nandor Lim dari Akasha Learning Center, Malaysia, memiliki metafora yang menarik bahwa perasaan kita itu seperti angka-angka (1, 2, 3 dst), yang plus atau minus di depannya (-3 atau +3) tergantung orang yang menyematkannya. Bahkan, ketika minus sekali pun (misalnya, -3), sejatinya tidak musti bermakna negatif. Umpamanya, minus tiga tersebut (-3) dipakai pada konteks pengumuman kepada karyawan bahwa pada minggu depan jam kerja di kantor minus tiga hari dari lima hari kerja tanpa pengurangan gaji. Maka, minus tersebut diterima sebagai sesuatu yang positif bagi karyawan.

Jadi, angka tersebut secara esensial tidak terkait sama sekali dengan positif atau negatif, sama seperti perasaan. Perasaan tidak dapat memberikan penilaian siapa kita sesungguhnya. Sehingga, kita tidak perlu kuatir untuk mengungkapnya, apalagi sampai mengidap alexithymia, yaitu gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara verbal terkait emosi atau perasaan yang dialami.

Kita butuh mengakomodasi semua perasaan untuk membentuk kedirian kita yang sesungguhnya (true self). Semakin sering menerima kekerasan emosional (termasuk di dalamnya adalah ketiadaan ruang untuk menceritakan apa yang kita rasa), seseorang akan semakin menghidupkan kedirian palsunya (false self).

Banyak kita temui orang yang tersenyum padahal aslinya sedang kecewa dan sedih; menggelengkan kepala padahal aslinya mau saat ditawari makan/minum; tampak bahagia dari luar, padahal hatinya kosong; kelihatan tenang dan tanpa masalah, tetapi kemudian bunuh diri. Orang-orang ini, secara sengaja atau tidak, sedang memelihara kedirian palsu.

Sebagian kita mungkin besar di lingkungan yang tidak dapat menerima perasaan: marah dilarang, kecewa tidak boleh, tidak suka dengan sesuatu dianggap tercela, sayang dianggap memalukan, bilang sakit dinilai pengecut, dan seterusnya. Tentu saja pedagogi seperti ini cukup beracun.

Sementara itu, sebagian kita yang lain mungkin tumbuh di lingkungan yang tidak pernah mengajarkan cara mengungkapkan perasaan dengan baik, yang akhirnya caci-maki dianggap wajar karena sedang marah, pelecehan seksual dianggap biasa dengan alasan sayang, atau menyakiti diri diterima dengan alasan sedang kecewa.

Perkembangan manusia (termasuk mental) terjadi secara epigenetik, yaitu satu fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya. Apabila kita dibesarkan di keluarga yang tidak membebaskan kita untuk mengungkapkan perasaan, tantangan untuk kita bisa mengungkapkan perasaan dengan mudah membutuhkan proses yang tidak instan.

Oleh karena itu, pasangan yang sudah menikah pun (usia dewasa) kerap kesulitan untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan satu sama lain. Kendalanya ada pada dua situasi:1) pasangan tidak memberikan ruang; 2) diri sendiri tidak bisa mengungkapkan atau tidak tahu caranya. Keduanya sama-sama menjadi benih lapuknya biduk pernikahan. Tidak hanya di pernikahan, tiadanya kebebasan untuk mengungkapkan perasaan di tempat kerja, dalam  pertemanan dan lingkungan sosial lain juga akan mempengaruhi kualitas hubungan.  

Golkar anggap dukungan kadernya ke Prabowo bukan suara resmi partai
Forum caleg Golkar dukung Prabowo-Sandiaga Uno
Golkar nilai perempuan penentu utama, bukan objek pelengkap
Menyusui tandem butuh dukungan ayah ASI
Mardani dapat tugas kawal suara emak-emak
Menangkan Prabowo atau Buni Yani masuk bui
Anak berbohong, bagaimana mengatasinya?
Berhasil jatuhkan Ahok, Buni Yani masuk tim Prabowo
Terpental dari motor, Lorenzo salahkan Marquez
Timses Jokowi jamin dana kampanye halal
Kubu Prabowo waspadai Jokowi gunakan fasilitas negara
Fadli Zon usul pendukung Jokowi diberi sanksi
DPR serukan solusi permanen terkait tumbal nyawa suporter sepakbola
Kubu Prabowo kembali ganti nama koalisi
Ketum Golkar sebut aksi pendukung Jokowi bentuk spontanitas masyarakat
Fetching news ...