Mengenal lebih dalam Islam di Suriname

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengenal lebih dalam Islam di Suriname

Islam di Suriname memiliki kekhasan yang jarang ada di tempat lain di belahan dunia. Tidak hanya dilihat dari aspek ritual yang mereka praktikkan, tetapi juga dari dinamika yang mengemuka di dalamnya.

Islam sendiri hadir di Suriname bersama para buruh dari Jawa yang dibawa oleh Belanda pada akhir abad ke-19. Untuk mengenal lebih jauh karakteristik Islam di sana, pelawat Agustinus Wibowo menuturkannya dengan sangat menarik.

“Secara garis besar, Islam di Suriname ada dua: Madep Ngetan dan Madep Ngulon,” kata Agustinus di ajang The 7th Borobudur Writers&Cultural Festival, Sabtu (24/11/2018).

Dikatakan Agus, agama Islam Madep Ngulon (berkiblat ke barat) diambil dari cara shalat mereka yang masih mengikuti kiblat di pulau Jawa. Pengikut aliran ini didominasi para buruh migran generasi pertama.

“Mereka adalah para pekerja kasar, budak, istri yang dijual suaminya, atau orang yang diculik di jalanan,” terang pelancong yang menguasai banyak bahasa ini.

Saat hendak dibawa kapal Belanda, mereka hanya dikasih tahu akan dibawa ke "Surinomo", yang dianggap sebagai kampung, kota, atau pulau sebelah saja. Secara fonologis, nama Surinamo sangat mirip dengan kosakata bahasa Jawa.

“Untungnya, setelah sebulan berlayar dan mendarat, mereka tak terlalu kaget karena negara baru ini juga beriklim tropis,” kata Agus.

Di antara yang menarik dari Islam Madep Ngulon adalah, misalnya, cara memandikan mayat menggunakan air tujuh rupa. Ini kemungkinan yang berlaku di Jawa 100 tahun lalu, yang lenyap seiring maraknya gerakan purifikasi. Selain itu adalah banyaknya acara selametan.

“Cara berislam mereka membuat kita berimajinasi tentang bagaimana Islam dihayati oleh masyarakat di Jawa 100 tahun yang lalu,” katanya.

Sementara itu, Islam Madep Ngetan (menghadap timur) adalah generasi yang datang setelah Muhammadiyah berdiri, yaitu tahun 1912. Mereka sudah sadar bahwa kiblat adalah ke Kakbah di Mekah, yang berada di sebelah timur Suriname.

“Mereka berdua tidak akur dan saling mengklaim kebenaran. Akhirnya, mereka yang tidak suka dengan keributan, mendirikan agama baru, yaitu Jawanisme atau Kejawen. Alasannya karena ‘buat apa ribut gara-gara agama bangsa lain?’" terang Agus.

Seiring perkembangannya, Jawanisme ini pun kemudian terpecah hingga 15 golongan. Di antara mereka juga saling klaim tentang siapa yang lebih “Jawa”. Mereka secara khas mengembangkan cara beribadah sendiri.

“Bahkan, di antara mereka ada yang menganggap bahwa Muhammad itu adalah tuhan,” katanya.

https://www.youtube.com/watch?v=V1zydLHvsjA&t=69s

Prabowo ungkit impor beras, ini pembelaan kubu Jokowi
BPN: Jateng vs Malaysia hanya majas
Begini keseruan debat Jokowi dan Prabowo soal caleg mantan napi korupsi
Ruhut nilai SBY setengah hati dukung Prabowo
Fadli Zon sebut Jokowi terlalu dominan dalam debat
Kubu Jokowi nilai Prabowo gagal paham isu terorisme
Kubu Prabowo nilai dapat serangan pribadi saat debat
Tak dibahas di debat Pilpres, ini kata kubu Prabowo soal kasus Novel
TKN: Jokowi beri pukulan telak ke Prabowo
KPU akan evaluasi pelaksanaan debat pilpres
Legislator minta pemerintah perhatikan disabilitas rungu
PPP: Jokowi menang 3-1 atas Prabowo di debat pertama
Ini komentar AHY soal penampilan Prabowo-Sandi dalam debat
Kubu Prabowo dan Kubu Jokowi saling kritik penampilan Capres-Cawapres dalam debat
Ma'ruf Amin tak banyak bicara dalam debat, ini kata kubu Jokowi
Fetching news ...