Hengki Kurniawan: Sekolah Ayah tunggu anggaran

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Hengki Kurniawan: Sekolah Ayah tunggu anggaran Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan

Setelah mendapatkan kritikan pedas dari sejumlah pihak usai berencana meluncurkan program “Sekoalh Ibu”, artis Hengky Kurniawan yang kini menjabat wakil bupati Bandung Barat menyatakan akan mengkaji sekolah untuk kaum bapak. Namun, Hengky mengaku hal itu harus menyesuaikan dengan pagu anggaran.

“lagi dikaji sekolah bapak. Ini juga terbentur anggaran. Pertama Sekolah Ibu; kalau sukses, sekolah bapak. semoga sekolah bapak berjalan tahun ini juga,” ungkapnya kepada salah satu stasiun TV, Kamis (03/01/2018).

Hengky mengatakan bahwa anggaran yang diperlukan untuk Sekolah Ibu sebesar Rp200 juta. Sekolah ini diklaim dapat menurunkan angka perceraian, seperti dari pengakuan seorang ibu di Bogor yang dia temui.

“Selain menambah wawasan, juga menekan angka perceraian, karena ada ibu yang curhat, ingin bercerai tapi batal karena ingat anaknya dan sebagainya,” katanya.

Sebelumnya, gagasan Sekolah Ibu yang disampaikan Hengky di akun Instagram pada Kamis (27/12/2018) menuai banyak komentar negatif karena dianggap menyudutkan perempuan sebagai biang keladi perceraian. Bahkan, seorang penulis buku “Falsafah Keluarga”, Dhuha Hadiyansyah melayangkan surat terbuka untuk merespons pernyataan pria yang pernah bercerai itu. Berikut kutipan surat tersebut:

“Kepada Yang Mulia Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat, Bapak Hengky Kurniawan,

Perkenalkan saya Dhuha Hadiyansyah, seorang suami dan bapak dari dua anak balita. Saya bermaksud merespons postingan Anda di akun Instagram terkait Program “Sekolah Ibu” yang Anda niatkan untuk menekan angka perceraian di wilayah yang Anda pimpin.

Saya adalah produk semacam sekolah yang Anda maksudkan. Dulu program ini bernama IGCP (Inner Growth Companionship Program) Indonesia. Sebelum menikah, usai menikah dan hingga sekarang saya terlibat aktif di sekolah ini yang berubah nama menjadi Sekolah Rekonsiliasi (SR): mulai dari menjadi peserta training hingga saat ini memberikan konseling seputar isu pernikahan dan keluarga, juga menulis artikel dan buku.

Meskipun akhir-akhir ini gugatan cerai didominasi perempuan (di kisaran 70%), bukan berarti sumber utama permasalahan di pernikahan/keluarga ada di pihak perempuan, sehingga mereka yang harus disekolahkan. Saya kira Anda membaca sebagian tanggapan di akun IG (postingan Kamis, 27 Desember 2018) yang memberikan pernyataan serupa dengan pemerian yang gamblang beserta data-data akurat; sayangnya, kolom komentar Anda hapus di kemudian hari (termasuk postingan Anda selanjutnya pada Sabtu yang juga dengan meniadakan kolom komentar).

Saya ingin katakan bahwa mendidik ibu/istri/perempuan tanpa melibatkan suami/ayah/pria tidak akan berdampak siginifikan. Hal ini karena pria secara tradisional yang menjadi pemimpin rumah tangga. Justru kaum prialah yang lebih butuh untuk disekolahkan, jika harus memilih. Akan tetapi, yang lurus adalah baik pria maupun perempuan yang ingin menikah sama-sama mengikuti pendidikan pernikahan dan keluarga dengan metode yang sudah teruji.

Supaya Anda ketahui bahwa disfungsionalitas keluarga—jika harus mengungkit-ungkit siapa yang salah—sumbernya ada pada ketidakberdayaan pria menjalankan fungsi produktivitas di keluarga, contohnya pemaksaan kawin dini anak perempuan karena (ayah) takut menanggung beban ekonomi, anak putus sekolah, dan kemiskinan yang mengakibatkan remaja putri harus jual diri dll.

Dalam psikiatri keluarga (mazhab apa pun), jika ada satu anggota keluarga yang dilihat sebagai masalah (misalnya anak bandel), sejatinya yang perlu diterapi adalah seluruh anggota karena yang salah adalah sistemnya. Keluarga adalah sistem yang anggota-anggotanya saling mempengaruhi. Akan tetapi, inti dari keluarga adalah (keharmonisan) pernikahan, dan yang memimpin pernikahan adalah pria (suami/ayah).

Mari belajar dari program-program sejenis, yang biasanya berbasis agama, yang hanya fokus pada kaum ibu, yang materinya juga sering menyinggung pernikahan. Program seperti ini hampir ada di setiap RT/RW di Indonesia: apakah moralitas menjadi lebih baik, apakah angka pecandu narkoba turun, apakah kognisi siswa naik, apakah relasi pernikahan menjadi lebih baik? Anda dan saya akan sulit mengatakan “iya”. Mengapa Anda hendak ulangi?

Pengalaman teman-teman dan saya yang bergelut dengan isu pernikahan/keluarga/parenting, kesulitan utama adalah bagaimana membuat peran suami/ayah itu fungsional, bukan ibunya. Sudah banyak laporan hasil riset tentang pentinganya peran ayah di keluarga, jadi cukup mudah dilacak. Akan tetapi, pendidikan keluarga/pernikahan/parenting tidak menjadi perhatian para laki-laki. Saya pernah menulis artikel tentang ini dengan judul, “Mengapa Pria Kurang Tertarik dengan Isu Keluarga” di sebuah media online.

Jika program “Sekolah Ibu” yang Anda hendak luncurkan menggunakan uang rakyat, sebaiknya Anda tidak memboroskan anggaran—masih banyak yang membutuhkan bantuan; jika program tersebut sekadar imbauan, selaiknya Anda tidak membuang energi; apabila Anda benar-benar ingin memperbaiki organisasi keluarga, ubah cara pandang Anda terhadap perempuan. Tidak ada yang lebih ingin keluarganya sakinah dan hidup dalam kesetiaan melebihi perempuan—sebanyak 6,7 juta pria di Indonesia kecanduan PSK, terutama yang sudah beristri.

Jika “Sekolah Ibu” sudah telanjur menjadi program kerja, kami sebagai rakyat jelata meminta segera diimbangi sekolah ayah.Akan tetapi, saya yang enam tahun terakhir menggeluti isu ini mengingatkan bahwa yang terbaik adalah membuat pasangan suami-istri ikut bersama-sama sekolah, bukan dipisah-pisah, apalagi satu disekolahkan dan yang lain tidak.

Terimakasih,
Jakarta, 31 Desember 2018

Dhuha Hadiyansyah”

Kendalikan hama dan penyakit secara alami dengan Tumpang Sari
TKN sebut Ma'ruf Amin akan pakai ayat Alquran di debat ketiga
Mengenal secara intim Kopi Yellow Caturra
 Jelang debat ketiga, Ma'ruf Amin dapat masukan dari asosiasi profesi
Kubu Prabowo tepis tudingan politisasi munajat 212
Demokrat minta Jokowi buka dokumen dengan bos Freeport
Ma'ruf Amin bakal ikut dampingi Jokowi
PWJ desak polisi tangkap anggota FPI penganiaya wartawan
Bela Enembe, pendukung aksi tari adat di KPK
AJI kecam tindakan brutal FPI terhadap wartawan
TKN: Pidato Jokowi bukan untuk tandingi Prabowo
Bansos PKH upaya Jokowi kembangkan ekonomi digital
Anak sarapan bernutrisi  memiliki nilai akademis empat kali lebih tinggi
Jokowi akan gelar pidato di Konvensi Rakyat
Kubu Jokowi: Munajat 212 bagian dari politisasi agama
Fetching news ...