Raket

Cerita Carolina Marin memilih antara Flamenco atau bulu tangkis

3.2K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
13:20
14 FEB 2017
Editor
Andika Pratama
Sumber
DBS

Rimanews - Nama Carolina Marin di perbulutangkisan dunia memang masih seumur jagung. Sebelumnya, atlet tepok bulu asal Spanyol itu tidak dikenal publik. Namun, semua berubah ketika ia menjadi juara dunia 2014. 

Sejak saat itu lah, Marin menjadi salah satu pebulutangkis yang diwaspadai oleh lawan-lawannya. Tetapi, dibalik itu ada cerita menarik sebelum wanita bertinggi 172 cm itu terjun ke dunia bulu tangkis.

Ia aktif sebagai pebulutangkis sejak 2009, namun dirinya nyaris menjadi penari Flamenco (tarian khas kota kelahirannya). Tetapi, Marin memilih untuk tetap berkarier sebagai atlet badminton setelah mendapatkan dukungan dari pelatihnya, Fernando Rivas.

Selain itu, Marin juga rela meninggalkan bangku kuliah demi bulutangkis meskipun bukan olahraga popular di Spanyol dan dirinya harus bersaing dengan pemain-pemain asal Asia yang memang sudah lama banyak makan asam garam di perbulutangkisan internasional.

Keputusan nekad itu akhirnya berbuah manis. Ia meraih gelar juara dunia pada 2014 usai mengalahkan atlet China, Li Xuerui, di partai final dengan rubber game 17–21, 21–17, 21–18. Sebelum mempertahankannya pada 2015.

Puncak prestasi Marin yakni memenangi medali emas Olimpiade 2016 di nomor tunggal putri setelah menghempaskan perlawanan pebulutangkis India Pusarla Venkata Sindhu. Dirinya menjadi atlet non Asia pertama yang merebut podium pertama di Olimpiade.

Ia menceritakan bagaimana awal mengenal badminton. "Suatu hari kawan baik saya untuk mencoba olahraga baru. Pada awalnya, saya terlihat ragu karena kami terbiasa bermain tenis," kata Marin dikutip Utusan, Selasa (14/2/2017)

Karirnya mulai cemerlang saat menjuarai kejuaraan Eropa pada 2009 dan turnamen bulu tangkis di bawah 17 tahun Eropa di tahun yang sama. melihat potensi yang dimiliki Marin, sang pelatih meminta izin kepada keluarga Marin untuk membawa ke Madrid.

"Itu keputusan yang sulit karena saya harus berpisah dengan keluarga dan meneruskan impian dan berhijrah ke Madrid. Kalau saya tidak mengambil keputusan itu, mungkin saya tidak akan menjadi juara dunia dan Olimpiade," sambungnya.

Perjalanan karier Marin selepas berhijrah ke Madrid juga tidak mudah. Bermain badminton di negara yang lebih populer dengan tenis dan sepak bola, membuat atlet yang pernah berlatih di Pelatnas Cipayung ini kesulitan mencari lawan tanding.

"Ketidakadan pemain wanita yang bagus membuat saya kesulitan dan terpaksa berlatih dengan pemain pria dan remaja. Hal itu tidak mudah karena saya tidak berlatih dengan pemain utama," ungkapnya.

Marin juga mengakui jika kesibukkannya turut menguji cintanya dengan kekasihnya, Alejandro. Namun, ia mencoba mengatasi hal tersebut dengan selalu memakai kalung yang berinisial C dan A setiap bertanding di atas karpet hijau.

"C adalah nama saya dan A kekasih saya, Alejandro,"

"Kehidupan sebagai pemain bulu tangkis menyebabkan waktu bersama keluarga, pacar, dan rekan-rekan terlalu singkat. Sebagian waktu saya dihabiskan untuk berkeliling dunia. Kalau balik ke Spanyol pun hanya sekali,"

"Kadang-kadang kekasih saya ngambek namun dia paham dengan karier saya yang lebih banyak di luar negeri. Jika dia mau menjadi bagian dari hidup saya, dia harus memahami pekerjaan saya," tutupnya.

Terbaru
Raket
Berita Terkait