Sepakbola

Mimpi treble Juventus

2.6K
DILIHAT
/
0
SHARE
/
20:05
05 JUN 2017
Dok. Koreografi fans Inter Milan untuk mengejek Juventus karena gagal meraih treble.
Reporter
Abdullatif Assalam
Sumber
Rimanews

Rimanews - Juventus datang ke Millenium Stadium di Cardiff, Wales, dengan harapan mampu mempecundangi Real Madrid dan menyamai catatan gemilang Inter Milan, satu-satunya klub Italia yang berhasil merengkuh tiga gelar dalam semusim pada 2009-2010. Kapten Si Nyonya Tua Gianluigi Buffon bahkan mengungkapkan hasratnya untuk mengangkat dan mencium satu-satunya trofi prestisius yang belum pernah diraihnya 24 jam sebelum laga final dimulai.

“Pertandingan ini sangat penting bagi saya,” kata Buffon. “Ketika saya membayangkan karir panjang ini, di mana saya sudah bermain bertahun-tahun lamanya, saya bersyukur. Ini akan menjadi akhir yang sempurna (jika dapat menang di Cardiff), dan banyak orang suka dengan dongeng.”

Sayang beribu sayang, mimpi tetap menjadi mimpi. Buffon dkk kalah telak 1-4 dari Madrid di Millenium Stadium, Cardiff, Wales, Minggu (04/06/2017) dini hari WIB. Cristiano Ronaldo tampil gemilang dengan merobek gawang Buffon sebanyak dua kali. Casemiro dan Marco Asensio melengkapi kemenangan anak asuh mantan pemain Juventus Zinedine Zinade di kampung halaman Gareth Bale.

Dua kali sudah Juve menyia-nyiakan peluang meraih treble yang sudah di depan mata. Anak asuh Massimiliano Allegri juga gagal meraih treble ketika takluk 1-3 dari Barcelona dalam laga final Liga Champions di Olympiastadion, Berlin, Jerman, dua tahun lalu.

Para pendukung Juve mungkin masih meratapi nasib tim kesayangan mereka, namun tidak dengan fans rival mereka, Inter. Presiden Inter Zhang Jr. sangat mensyukuri hasil di Cardiff dan langsung memberikan selamat kepada Madrid. “Kami mengucapkan selamat kepada Real Madrid yang berhasil meraih gelar ke-12 Liga Champions dan menjadi satu-satunya klub yang mampu mempertahankan gelar di era modern UCL,” kata Zhang.

Dua tahun lalu, tifosi Inter Milan membuat koreografi untuk merayakan kegagalan Juve merengkuh treble saat kedua tim berduel di San Siro pada 18 Oktober 2015. Pendukung Inter membentangkan spanduk raksasa yang menggambarkan para pemain Juve sebagai Gerombolan Siberat, karakter fiksi dalam kartun Paman Gober, yang sedang bermimpi meraih treble. Di atasnya, terdapat tulisan yang berbunyi: "Teruslah bermimpi." Patut dinanti, kreativitas para pendukung Inter ketika menjamu Juve di kandang mereka musim depan.

Buffon: tiga final, tiga kekalahan

Kekalahan dari Madrid di partai puncak Liga Champions memperpanjang catatan buruk Juventus di final kompetisi tertinggi Eropa tersebut. Dari sembilan penampilan di final, Juve hanya mampu keluar sebagai juara sebanyak dua kali, yakni pada musim 1984-1985 dan 1995-1996.

Sembilan kali penampilan Juve di final merupakan yang terbanyak kedua di Italia setelah AC Milan yang merasakan atmosfer partai puncak Liga Champions sebanyak 11 kali. Namun berbeda dengan Juve yang hanya mampu menang dua kali, Milan mengoleksi tujuh piala Liga Champions.

Ironis bagi Buffon, karena tiga dari tujuh kegagalan Juve di final Liga Champions melibatkan dirinya. Selain keok dari Barca dan Madrid, Buffon juga tak mampu menghindarkan timnya dari kekalahan di final Liga Champions saat terjadi All Italian Final pada musim 2002-2003 melawan Milan. Juve kalah 3-2 dalam babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 0-0 hingga 120 menit. David Trezeguet, Marcelo Zalayeta, dan Paolo Montero gagal menceploskan bola ke gawang Dida.

Tahun ini sebenarnya menjadi kesempatan emas bagi Juve untuk meraih gelar juara, karena jika dilihat dari penampilan sejak awal kompetisi, klub asal Turin itu tampil konsisten dan sangat layak membawa pulang trofi Si Kuping Besar. Bayangkan saja, dalam 12 laga dari fase grup hingga semifinal, Buffon baru memungut bola dari gawangnya sendiri sebanyak tiga kali. Pertahanan yang solid, lini tengah disiplin dan dengan barisan penyerang kelas dunia, Juve mampu lolos ke final Liga Champions tanpa pernah mengalami satu kekalahan pun, dan hanya dua kali imbang.

Bandingkan dengan Madrid yang hanya mampu lolos ke babak 16 besar dengan predikat sebagai runner up di bawah Borussia Dortmund. Meski lolos ke final sebagai tim paling subur dengan 32 gol, pertahanan Madrid sangat rapuh karena hanya sekali mencatatkan clean sheet saat bertemu Atletico Madrid di semifinal. Jala Keylor Navas robek sebanyak 17 kali sejak fase grup hingga semifinal.

Namun apa daya, catatan di atas kertas tidak akan banyak berarti. Permainan selama 90 menit di atas lapangan hijau lah yang membuktikan layak tidaknya sebuah klub menjadi Raja Eropa, dan Madrid sekali lagi membuktikan kepada kita bahwa mereka lah klub terkuat di Benua Biru, bahkan di muka bumi.

Terbaru
17 Juni 2017 | 23:34
Sriwijaya FC pecat Oswaldo Lessa
8 Juni 2017 | 11:46
Ayah Yanto Basna wafat
5 Juni 2017 | 20:05
Mimpi treble Juventus
Sepakbola