Bullying dan kegagalan sekolah

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Bullying dan kegagalan sekolah “Knowing what's right doesn't mean much unless you do what's right.” ― Theodore Roosevelt

Kabar duka kembali datang dari sekolah kita. Elva Lestari (16), siswa kelas X SMAN 1 Bangkinang, Riau, melakukan aksi bunuh diri dengan menceburkan ke sungai karena sering disoraki teman-temannya dengan anak orang gila.

Ayah Elva memang mengalami gangguan jiwa sehingga harus minum obat supaya tidak kambuh. Tak tahan dengan kata-kata beracun temannya, anak pertama dari tiga bersaudara itu rela menenggelamkan diri.

Eva sebelumnya sudah mengusulkan kepada keluarganya supaya dapat pindah dari sekolah yang membuatnya tercekam dengan ejekan dari mulut-mulut berbisa tersebut.

Keluarganya sempat berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk menanyakan hal itu. Akan tetapi, pihak sekolah belum bisa menaggapi karena ada rapat. Rencananya pertemuan dilakukan pada Senin (31/07/2017), akan tetapi pertemuan ini terlambat karena Eva sudah kehilangan nyawa pada Minggu (30/7) dan jenazah baru ditemukan pada Senin (31/7) karena terseret arus.

Kegagalan sekolah

Tidak sedikit kasus bullying di Tanah Air yang merenggut nyawa korban. Sebelum kasus Eva, Adam Fawas (13), santri di Lamongan-Jawa Timur pada 12 Desember 2016 juga tewas dikeroyok oleh sejumlah teman di pesantren.

Usai Fawas,  siswa tewas karena bullying terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Seperti Fawas, Amirulloh Adityas Putra juga meninggal setelah mengalami tindakan kekerasan. Baik Fawas maupun Amirullah meregang nyawa di tangan para senior. Jika Fawas dijotosi 15 berandal cilik di pesantren, Amirulloh dijadikan bulan-bulanan oleh 4 senior di asrama pada 10 Januari.

Institusi sekolah tidak hanya diandaikan menjadi sekadar tempat pendidikan intelektual, emosional dan spiritual, tetapi penyembuhan luka lama akibat disfungsinya institusi keluarga. Oleh karena itu, di sini sekolah berperan sebagai pengganti institusi keluarga. Meskipun keluarga tidak pernah bisa digantikan, minimal sekolah mampu menjadi tempat aman bagi anak-anak menumbuhkembangkan dirinya secara utuh sebagai manusia.

Ketika siswa melakukan hal-hal di luar norma yang digariskan, berarti sekolah telah gagal menjalankan fungsinya. Dengan kata lain, pelajar yang disfungsi hanyalah sebuah akibat dari sekolah yang disfungsi, yakni sekolah yang tak mampu mengendalikan anak didik dalam lajur moral yang lurus.

Horor yang terjadi pada Eva, Fawas dan Amirulloh hanyalah sebuah puncak fenomena gunung es kekerasan yang melembaga di institusi pendidikan kita, baik verbal maupun fisik.

Disfungsi sekolah tentu berakar pada disfungsi individu-individu yang terlibat di dalamnya; mereka adalah terutama para guru. Disfungsi sekolah dalam hal ini selalu dimulai dari ketidakpahaman guru menjalankan fungsinya dalam mendidik dan kecenderungan meremehkan kasus serta laporan siswa yang menjadi korban.

Guru merundung siswa, atau minimal membiarkan, pasti lebih sering terjadi daripada yang orang bayangkan. Perundungan tersebut mulai dari olok-olok, menjadikan salah seorang murid sebagai bahan candaan, marah dan umpatan, memukul, menghukum fisik, hingga meremehkan bullying-bulyying verbal di antara siswa. Cara-cara seperti ini lalu ditiru oleh siswa, sebagaimana anak meniru perilaku orang tua. Guru merundung siswa; siswa merundung junior mereka. Perundungan seperti menjadi lingakaran setan yang hanya bisa diputus oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Isu ini mungkin agak kontroversial, karena guru biasanya dipersepsi berbekal kasih menghadapi murid-muridnya. Namun, persoalan ini penting untuk diketengahkan secara jujur demi memahami situasi nyata dalam pendidikan kita.

Jika ada siswa yang dirundung hingga tewas, berarti jelas di sekolah tersebut ada pelembagaan kekerasan plus sistem yang tidak jalan. Mekanisme sanksi dan dan apresiasi di sekolah tersebut pasti kacau, dan penegakan disiplin diasumsikan dengan penertiban gaya preman.

Sekolah cacat seperti itu harus dirombak secara total, dan itu membutuhkan bantuan pihak lain dan pendampingan terus-menerus hingga para pengelola institusi tersebut dinyatakan sembuh dari sakit kejiwaan dan emosional.

Strategi jitu penjualan hewan kurban jelang Idul Adha
DPR batalkan pembangunan apartemen, gedung miring?
Utang luar negeri makin mengkhawatirkan
Ekonomi Indonesia bergantung pada Cina, berbahaya!
Bu Susi belum maksimal jalankan amanat UU Perlindungan Nelayan
Fetching news ...